Saripati


Shinnick JK, Wang E, Hulbert C, et al. Breastfeed Med. 2016 Jun 22.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27331420


Studi ini bertujuan untuk menilai apakah konsumsi ≥50% air susu ibu (ASI) berhubungan dengan transisi awal berhentinya nutrisi parental (PN) pada neonatus dengan gangguan gastrointestinal (GI).

Studi ini merupakan studi retrospektif dengan menilai hasil pemberian makanan pada neonatus dengan gangguan GI dalam satu minggu pertama kehidupan hingga waktu yang ditentukan dalam studi antara 1 Januari 2012 dan 10 Agustus 2015. Hasil dinilai menurut konsumsi dari asupan pertama hingga 7 hari konsumsi lengkap.atau <50% ASI. Hasil studi mendapatkan bahwa

sebanyak seratus enam puluh tiga pasien dengan usia kehamilan rata-rata 36 minggu (kisaran 28-40) dan berat lahir dari 2.570 gram (kisaran 1250-4900) masuk dalam studi. Ditemukan perbedaan yang signifikan antara kelompok 100% ASI dan kelompok <50% ASI (median 21 banding 32 hari; p = 0,023). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara antara kelompok 100% ASI dan kelompok ≥50% ASI (p = 0,05) atau kelompok ≥50% ASI dibandingkan kelompok <50% ASI (p = 0,74). Kelompok 100% ASI secara signifikan lebih sedikit mengalami PN dibandingkan dengan kelompok ≥50% ASI (median 21 banding 28,5 hari, p = 0,034).t secara signifikan lebih pendek pada kelompok 100% ASI, rata-rata 10 sampai 13,5 hari lebih cepat dari kelompok ≥50% ASI, dan kelompok <50% ASI (p <0,05).

Studi ini menyimpulkan bahwa neonatus dengan gangguan GI tertentu yang menerima asupan ASI 100% ditemukan mencapai konsumsi lengkap lebih awal, memiliki program PN yang pendek, dan secara signifikan akan keluar dari rumah sakit lebih cepat daripada mereka yang menerima konsumsi yang mencakup susu formula.


Rinnovati R, Romagnoli N, Gentilini F, Lambertini C, Spadari A Acta Vet Scand. 2016 Jul 4;58(1):45.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27377748


Plasma trombosit yang banyak atau platelet-rich plasma (PRP) umumnya mengacu pada produk darah yang mengandung trombosit dengan konsentrasi tinggi dibandingkan dengan plasma normal. Kerja PRP telah terbukti aman dan efektif dalam mempromosikan proses alami penyembuhan jaringan lunak atau rekonstruksi pada manusia dan kuda. Variabilitas dalam
konsentrasi trombosit diamati dalam praktik antara persiapan PRP dari pasien yang berbeda atau dari individu yang sama di bawah kondisi yang berbeda. Sebuah perubahan konsentrasi trombosit bisa memodifikasi khasiat PRP pada aplikasi rutin.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh variabel lingkungan, individu, dan agonistik pada konsentrasi trombosit pada PRP dari kuda. Enam kuda sehat diberikan paparan enam variabel yang berbeda dengan periode satu minggu antar variabel, dan PRP kemudian diperoleh dari masing-masing kuda. Variabel tersebut adalah waktu yang ditarik selama sehari (pagi/sore), status hidrasi (overhidrasi/dehidrasi) dari pengobatan dengan obat antiinflamasi dan periode latihan treadmill.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa konsentrasi trombosit secara signifikan lebih tinggi pada kuda yang diobati dengan NSAIDs (p = 0,03). Konsentrasi leukosit meningkat 2-9 kali lipat terhadap seluruh darah pada PRP yang diperoleh setelah terpapar semua variabel. Simpulan dari studi ini bahwa variasi lingkungan terhadap konsentrasi trombosit harus dipertimbangkan selama persiapan PRP

Rao A, Suliman A, Vuik S, Aylin P, Darzi A Arch Gerontol Geriatr. 2016 Jun 16;66:198-204.doi: 10.1016/j.archger.2016.06.008.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27362971


Tujuan studi ini adalah untuk membandingkan macam-macam hasil pada pasien demensia dengan pasien lanjut usia tanpa demensia dengan tinjauan sistematis dari studi populasi sebelumnya. Metode studi ini melalui pengumpulan studi yang relevan yang diperoleh dari pencarian database elektronik. Data dikumpulkan dari 11 penelitian yang terdiri dari 1.044.131 pasien demensia dibandingkan dengan 9.639.027 pasien lansia tanpa demensia.

Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa angka kematian pada pasien demensia adalah 15,3% dibandingkan dengan 8,7% pada kasus non-demensia (RR = 1,70, CI 95% = 1,27-2,28, p = 0,0004). Namun, ada heterogenitas yang signifikan antar-studi (p < 0,00001). Pasien demensia meningkat secara signifikan pada keseluruhan tingkat pendaftaran kembali (OR = 1,18; 95% CI = 1,08-1,29, p < 0,001). Pasien demensia memiliki tingkat kemungkinan yang lebih tinggi untuk komplikasi infeksi saluran kemih (RR = 2,88; 95% CI = 2,45-3,40, p <0,0001); ulkus tekanan (RR = 184; 95% CI = 1,31- 1,46, p <0,0001); pneumonia (RR = 1,66; 95% CI = 1,36-2,02, p <0,0001); delirium (RR = 3,10; 95% CI = 2,31-4,15, p <0,0001), serta dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit (RR = 1,87; 95% CI = 1,55-2,25, p <0,0001). Pasien demensia memiliki kejadian jantung lebih akut (HR = 1,16; 95% CI = 1,06-1,28, p 0,002), sedangkan mereka memiliki prosedur yang lebih sedikit untuk revaskularisasi (HR = 0,12; 95% CI = 0,08- 0,20, p <0,001). Pasien demensia memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk penggunaan ITU (pengurangan = 7,5%; 95% CI = 6,9-8,1), ventilasi (pengurangan = 5,4%; 95% CI = 5,0-5,9), dan dialisis (pengurangan = 0,5%; 95% CI = 0,4-0,8).

Kesimpulan dari studi ini adalah dibandingkan dengan populasi lansia tanpa demensia, pasien dengan demensia memiliki hasil yang lebih buruk untuk berbagai kondisi kesehatan. Meskipun tingkat kematian dan tingkat pendaftaran kembali lebih tinggi, pasien demensia menjalani intervensi dan prosedur yang lebih sedikit.

Kalisch Ellett LM, Pratt NL, Le Blanc VT, et. Al.J Clin Pharm Ther. 2016 Jul 4.doi: 10.1111/jcpt.12418
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27378245

Walaupun banyak studi yang mengidentifikasi faktor yang meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan panas, hanya sedikit yang menilai kontribusi atau pengaruh obat-obatan. Untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan tersebut, studi ini bertujuan untuk menilai risiko masuk rumah sakit karena dehidrasi atau penyakit yang berhubungan dengan panas lainnya setelah memulai obat-obatan.

Studi ini menggunakan analisis retrospektif dengan analisis prescription event symmetry analysis (PESA) dari 6.700 veteran dengan kejadian masuk rumah sakit karena dehidrasi atau penyakit yang berhubungan dengan panas (kode ICD-10-AM E86, X30, T67) antara 1 Januari 2001 hingga 30 Juni 2013. Ukuran hasil utama adalah pertama kali masuk rumah sakit karena dehidrasi atau penyakit yang berhubungan dengan panas setelah mulai obat-obatan yang biasa digunakan.

Hasil studi menunjukkan bahwa secara signifikan risiko masuk rumah sakit karena dehidrasi atau penyakit yang berhubungan dengan panas lebih tinggi pada subjek yang terlebih dahulu diberikan obat-obatan antikoagulan, obat kardiovaskuler, NSAIDs, antipsikotik, antidepresan, dan antikolinergik. Risiko masuk rumah sakit karena dehidrasi atau penyakit yang berhubungan dengan panas berkisar antara 1,17 (SSRIs) hingga 2,79 (ACEI ditambah produk kombinasi diuretik). Tidak ada hubungan yang signifikan antara inisiasi obat-obatan antikonvulsan, anti-Parkinson, hipnotik, anxiolytics atau antihistamin dengan kejadian masuk rumah sakit karena dehidrasi atau penyakit yang berhubungan dengan panas.

Simpulan dari studi ini bahwa banyak obat-obatan yang biasa digunakan yang ditemukan terkait dengan peningkatan risiko rawat inap karena dehidrasi atau penyakit yang berhubungan dengan panas. Inisiasi inhibitor ACE dalam kombinasi dengan diuretik memiliki risiko tertinggi. Pemberi resep dan pasien harus menyadari potensi obat-obatan yang berhubungan dengan peningkatan risiko dehidrasi dan penyakit yang berhubungan dengan panas.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish