Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia diramaikan dengan pemberitaan mengenai menyebarnya virus zika di Singapura. Virus yang awalnya kembali ditemukan di Brazil dan negara-negara Amerika Latin lain, kini ditemukan juga di Singapura. Puluhan orang di Singapura telah terkonfirmasi terinfeksi virus zika. Hal ini tentu membuat khawatir warga negara Indonesia mengingat jarak antara Indonesia dan Singapura sangat dekat.

Sebenarnya, infeksi virus zika bukanlah hal yang terlalu berbahaya disbanding DBD. Walaupun ditularkan melalui vektor yang sama, yakni nyamuk Aedes, demam berdarah dengue (DBD) cenderung lebih berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Virus zika menjadi berbahaya jika yang terinfeksi adalah ibu hamil karena dapat menularkan virus ini melalui plasenta pada bayi atau transplasental. Bayi yang berasal dari ibu yang terinfeksi virus zika diketahui berisiko mengalami cacat mikrosefali atau kepala mengecil.

Pemerintah pun segera bereaksi begitu mengetahui berita ini. Kementerian Luar Negeri segera mengeluarkan travel advisory untuk melindungi warga negar a Indonesia yang ingin berkunjung ke Singapura. Selain itu, berbagai langkah juga dilakukan untuk mencegah masuknya virus ini ke Indonesia, termasu k himbauan untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M plus. Gerakan ini sebenarnya telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia dan mudah dilakukan. Pemberantasan sarang nyamuk ini juga pentin g dilakukan untuk memutus mata rantai nyamuk Aedes.

Oleh karena itu, kedatangan virus zika ke wilayah Asia Tenggara seharusnya tidak disambut dengan kepanikan di sana-sini. Merebaknya virus zika ke Singapura harusnya dapat dijadikan pembelajaran untuk lebih memperhatikan kebersihan dan kesehatan diri. Seperti slogan yang sejak kecil kita dengar: “Bersih Pangkal Sehat”.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish