Berdasarkan data Susenas 2014, jumlah rumah tangga lansia sebany ak 16,08 juta rumah tangga atau 24,50 persen dari seluruh rumah tangga di Indonesia. Rumah tangga lansia adalah yang minimal salah satu anggota rumah tangganya berumu r 60 tahun ke atas. Jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa, setara dengan 8,03 persen dari seluruh penduduk Indonesia tahun 2014. Jumlah lansia perempuan lebih besar daripad a laki-laki, yaitu 10,77 juta lansia perempuan dibandingkan 9,47 juta lansia laki-laki. Adapun lansia yang tinggal di perdesaan sebanyak 10,87 juta jiwa, lebih banyak daripada lansia yang tinggal di perkotaan sebanyak 9,37 juta jiwa.

Nilai rasio ketergantungan lansia sebesar 12,71 menunjukkan bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggun g sekitar 13 orang lansia. Rasio ketergantungan lansia di daerah perdesaan lebih tinggi daripada di perkotaan, berturutturut 14,09 dibanding 11,40. Dibedakan antara lansia laki-laki dan perempuan, lebih banyak lansia perempuan yang ditanggung oleh penduduk usia produktif. Ketergantungan lansia perempuan (13,59) lebih tinggi daripada lansia laki-laki (11,83).

Sebagian besar lansia tinggal bersama dengan keluarga besarnya. Sebanyak 42,32 persen lansia tinggal bersama tiga generasi dalam satu rumah tangga, yaitu tinggal bersama anak/menantu dan cucunya atau bersama anak/menantu dan orangtua/ mertuanya. Sebanyak 26,80 persen lansia tinggal bersama keluarg a inti, sementara yang tingga l hanya bersama pasangannya sebesar 17,48 persen. Hal yang patut mendapat perhatian adalah mereka yang tinggal sendirian dalam satu rumah, atau rumah tangga tunggal lansia. Sebanyak 9,66 persen lansia tinggal sendirian dan harus memenuhi kebutuhan makan, kesehatan, dan sosialnya secara dalam aspek kesehatan diketahui semakin bertambah tua umurnya maka lansia yang mengalami keluhan kesehatan akan semaki n banyak. Sebanyak 37,11 persen penduduk pra-lansia (45-59 tahun) pernah mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir, sementara lansia muda (60-69 tahun) sebesar 48,39 persen, lansia madya (70-79 tahun) sebesar 57,65 persen, dan lansia tua (80-89 tahun) sebesar 64,01 persen yang mengeluhkan kondisi kesehatannya. Selanjtnya, ditilik dari angka kesakitan (morbidity rates) lansia yaitu terganggunya kegiatan sehari-hari sebagai akibat dari keluhan kesehatan yang dideritanya. Angka kesakitan lansia tahun 2014 sebesar 25,05 persen, berarti bahwa sekitar satu dari empat lansia pernah mengalami sakit dalam satu bulan terakhir.

Di dalam MEDIKA Edisi Oktober 2016 ini menghadirkan sebuah artikel berjudul Disfungsi Seksual Pada Wanita Usia Lanjut. Beberapa hasil penelitian memperlihatkan jumlah wanita usia lanju t yang mengala mi disfungsi seksual. Pada 1999, disfungsi seksual diperkira kan terjadi pada sekitar 40 juta wanita di Amerika Serikat. Hasil Survei Kesehatan Nasional dan Kehidupan Sosial mengungkapkan bahwa disfungsi seksual lebih sering terjadi pada wanita (43%) dibanding kan pada pria (31%) dan prevalensi meningkat dengan bertam bahny a usia. Usia dan angka harapan hidup saat ini terus meningkat sehingga diperkirakan persentase perempuan yang mengalami disfung si seksual akan terus meningkat.

Pada 2009, Huang dkk., melaporkan hasil penelitian kohort cross-sectional, tentang fungsi seksu al pada 1.977 wanita (876 kulit putih, 347 Hispanik, 351 Asia, dan 388 kulit hitam) yang berusia 45 hingga 80 tahun dengan menyelesaikan beberapa kuesione r. Dari semua partisipan, sebanyak 43% melaporkan memiliki hasrat seksual hanya sedang-sedang saja, sedangkan 60% masih aktif secara seksual. Studi ini menunjuk kan bahwa banyak wanita mengurungkan minat atau keterlibatannya dalam aktivitas seksual seiring denganbertambahnya usia.

Pada kesimpulan, penulis menyampaikan masalah penurunan libido dan ketidakmampuan untuk mencapai orgasme adalah dua hal yang paling sering memengaruhi wanita usia lanjut. Penyedia layanan kesehatan harus melakukan segala upaya untuk memastikan apakah masalah tersebut menjadi masalah pada pasien wanita. Harus diingat bahwa banyak faktor yang dapat berkontribusi pada masalah disfung si seksual, termasuk masalah psiologis dan fisik, hambatan psikologis dan sosial. Semua faktor ini harus dipertimbangkan selama diskusi dengan pasien. Wanita yang ingin memiliki kesenangan dan kepuasan dalam aktivitas seksual sesuai usia perlu mengetahui perawatan apa yang tersedia, mengerti tentan g pekerjaan, menerima konseling tentang risiko dan manfaa t. Sedangkan wanita yang tidak tertarik untuk terlibat dalam kegiatan seksual perlu tahu bahw a hal ini juga merupakan pilihan mereka sendiri.

Semoga artikel ini memberikan gambaran dan pemahaman bagi dokter serta tenaga kesehatan lain yang memberikan pelayaan kepad a pasie-pasien usia lanjut khususnya wanita.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish