Saripati

Kyriakou A, Shepherd S, Mason A, et. Al. J Pediatr. 2016 Sep 15. pii: S0022-3476(16)30858 doi: 10.1016/j.jpeds.2016.08.075

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27640353

 

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengeta hui prevalensi dan distribusi anatomi kejadian fraktur tulang belakang pada kelompok penyakit untuk melihat kejadi an osteoporosis primer dan sekunder dengan menggunakan vertebral fracture assess ment (VFA).

VFA dilakukan secara independent oleh 2 orang non-radiologist pada 165 anak (77 laki-laki, 88 perempuan). Tulang belakang T6 hingga L4 akan dilakukan VFA dengan menggunakan sistem penilaian Genant. Hasil secara umum kejadian fraktur tulang belakang digunakan untuk mengevaluasi prevalensi dan distribusi anatomi fraktur tulang belakang.

Hasil dari studi ini menunjukkan median usia subjek adalah 13,4 tahun. Dari 165 anak, 24 di antaranya (15%) diteliti untuk melihat kejadian penyakit tulang primer dan sisanya memiliki berbagai penyakit kronis yang diketahui memengaruhi kesehatan tulang. Kejadian fraktur tulang belakang teridentifikasi pada 38 (23%) anak-anak. Distribusi kejadian fraktur tulang belakang membentuk distribusi bimodal, dengan puncak nya terpusat di T9 dan L4. Kondisi yang berhubungan dengan peningkatan OR fraktur tulang belakang adalah Inflamantory Bowel Diseases (IBD) (OR = 3,3; CI 95% = 1,4, 8,0; P = 0,018) dan imperfekta osteo genes is (OR = 2,3; CI 95% = 1,04, 5,8; P = 0,022). Pada anak-anak yang mengalami fraktur tulan g belakang, Duchenne muscular dystrop hy (P = 0,015), dan imperfekta osteogenesis (P = 0,023) menunjukkan jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok penyakit lain.

Dari studi tersebut dapat disimpulkan bahwa VFA mengidentifikasi adanya kejadian fraktur tulang belakang dalam bentuk distribusi bimodal, baik penyakit tulang primer maupun kelompok penyakit kronis. VFA merupakan alat skrining praktis untuk mengidentifikasi fraktur tulang belakang pad a anak-anak dan remaja yang berisiko patah tulang.

 

Stagraczynski M, Kulczyk T, Podfigurna A, et. Al. Pol Merkur Lekarski. 2016 Aug; 41(242): 79-83

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27591444

 

Osteoporosis merupakan masalah kesehatan yang serius di kalangan wanita pasca-menopause. Berbagai studi klinis  menunjukan korelasi antara kepadatan mineral tulang yang rendah pada kolumna spinalis, panggul, dan status tulang mandibula. Tujuan dari studi ini adalah untuk membandingkan status tulang mandibula dan bagian lumbar tulang belakang wanita pascamenopause dengan osteoporosis, osteopenia, dan wanita pasca-menopause yang memiliki kepadatan mineral tulang normal.

Studi ini mengikutsertakan 47 orang wanita pasca-menopause dengan rata-rata usia 54,8 tahun +/- 3,65 tahun. Pada seluruh subjek, dilakukan pengukuran densitometry pada bagian lumbar tulang belakang. Hasil densitometri ini akan membantu peneliti dalam mengelompokkan subjek menjadi 3 kelompok, yakni kelompok osteoporosis (n = 10), kelompok osteopenia (n=20), dan ke lompok normal (n = 17). Gambaran radiogr afi tulang mandibula dari tiap subjek juga diambil dan hasilnya akan dianalisis secar a statistik. Dari hasil analisis tersebut, tidak ditemukan korelasi antara Panoramic Mandibular Index (PMI) dan Mandibular Ratio (MR) dengan hilangnya kepadatan mineral tulang pada tulang belakang pada wanita pasca-menopause. Namun, terdapat korelasi positif antara jarak dari margin inferior pada mental foramen ke korteks mandibula inferior dan derajat defisiensi mineral tulang belakang.

Dari studi tersebut dapat disimpulkan bahwa PMI dan MR bukan merupakan indika tor radiologi yang memadai untuk mengetahui hilangnya kepadatan mineral tulang belakang pada wanita pascamenopause. Namun demikian, pengukuran jarak antara margin inferior pada mental foramen ke korteks mandibula inferior memiliki korelasi dengan derajat defisiensi mineral tulang belakang. Parameter ini dapat digunakan dalam memperkirakan risiko osteoporosis.

 

 

Kim JI, Moon JH, Chung HW, et. Al. J Bone Metab. 2016 Aug 23(3); 129-34 doi: 10.11005/jbm.2016.23.3.129

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27622176

 

Studi mengenai hubungan antara kadar serum homosistein dan kepadatan mineral tulang (BMD) sudah banyak dilaku kan. Namun, hasil yang didapatkan bervariasi dan studi tersebut hanya terbatas di Korea. Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti mengenai hubungan antara kadar serum homosistein dengan kepadatan mineral tulan g berdasarkan usia dan jenis kelamin. 

Sejak Maret 2012 hingga Juli 2015, peneliti mengikutsertakan 3.337 orang dewasa sehat yang melakukan pemer iksaan kesehatan. Subjek mengisi kuesioner dan melakukan pemeriksaan fisik, tes darah, sert a pengukuran kepadatan miner al tulang pada bagian lumbar spinal atau tulang belakang dan tulang paha. Subjek akan dikategorikan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Berdasarkan usianya, subje k dibagi menjadi 3 kategori, yakni usia <49 tahun, usia 50-59 tahun, dan usia <60 tahun. Hasilnya akan disesuaikan dengan usia dan indeks massa tubuh (IMT). Hubungan antara kadar serum homosistein dengan kepadatan mineral tulang akan dianalisis dengan analisi s regresi berganda.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, setelah disesuaikan dengan usia dan IMT, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar serum homosistein dengan kepadatan mineral tulang pada laki-laki di semua kategori usia. Pada kelompok wanita usia di bawah 50 tahun, terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kadar serum homosistein dengan kepadatan mineral tulang di lumbar spinal (β = -0,028, P = 0,038), tulang paha (β = -0,062, P = 0,001), dan panggul (β = -0,076, P < 0,001). Namun, pada kelompok usia lainnya tidak terdapat hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pada wanita usia di bawah 50 tahun, semakin tinggi kadar serum homosistein, kepadatan mineral tulang pada lumbar spinal dan tulang paha semakin rendah.

Penelitian ini juga menunjukan bahwa hubungan antara homosistein dan kepadatan mineral tulang berbeda-beda tergantung usia dan jenis kelamin.

Keane E, Funk AL, Shimakawa Y Aliment Pharmacol Ther. 2016 Sep 15. doi: 10.1111/apt.13795 http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27630001

 

Risiko penularan virus hepatitis B (HBV) dari ibu kepada anaknya (perinatal transmissio n) sebesar 70-90% pada perempuan dengan HBsAg dan HBeAg positif dan sebesar 5-30% pada perempuan dengan HBsAg positif HBeAg negatif. Risiko ini beras al dari Asia, sedikit yang diketahui dari Sub-Sahara Afrika. Peneliti mencari artikel dari Medline, Global Health, Embase, African Journals Online, dan African Index Medicus.

Peneliti juga memasukkan studi obeservasi dan interve nsi yang mendata bayi dari ibu yang terinfeksi HBV, dan telah diuji HbsAg atau HBV DNA antara usia 3 hingga 12 bulan. Hasilnya, 15 artikel dari 11 negara Afrika diikutsertakan dalam penelitian. Pada wanit a dengan HBeAg positif terdapat risiko sebesar 38,3% (CI 95% = 7,0-74,4%) tanpa pro - filak sis. Hasil ini sangat rendah jika diban - dingkan dengan persentase risiko di dalam literatur, yakni 70-90% (P = 0,007). Pada wanita dengan HBeAg negatif, terdapa t risiko sebesar 4,8% (CI 95% = 0,1-13,3%) tanpa profilaksis. Hasil ini masih lebih rendah dibandingkan dengan persentase risiko di Asia, yakni 5-30%. Dengan mengeksplorasi gabungan risiko penularan pada jumlah kelahir an dari ibu yang terinfeksi HBV di SubSaha ra Afrika, diperkirakan 1% dari bayi yang baru lahir (n=367.250) setiap tahunnya terinfeksi HBV saat lahir.

Kesimpulannya, jika dibandingkan denga n di Asia, risiko penularan HBV dari ibu kepada anaknya cukup rendah di SubSahara Afrika. Walaupun demikian, jumlah bayi yang terinfeksi secara perinatal setiap tahunnya dua kali lipat lebih banyak diban - ding kan jumlah kejadian infeksi HIV pada anak di Sub-Sahara Afrika (n = 190.000). Oleh karena itu, hal ini menekankan pen - ting nya pencegahan penularan HBV dari ibu kepada anaknya di Sub-Sahara Afrika yang telah sekian lama diabaikan.

Kim S, So WY, Kim J, et. Al. PloS One. 2016 Sep 2;11(9):e0162127 doi: 10.1371/journal.pone.0162127

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27589270

 

Tujuan studi cross-sectional ini adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai hubungan antara skor aktivitas fisik spesifik untuk tulang (BPAQ), komposisi tubuh, dan kepadatan mineral tulang pada mahasiswi sehat.

Sebanyak 73 mahasiswi usia 19 hingga 26 tahun (21,7 } 1,8 tahun; 162,1 } 4,6 cm; 53,9 } 5,8 kg) dari beberapa Universitas di Provinsi Seoul dan Gyeonggi, Korea Selatan, diikutsertakan dalam studi ini. Peneliti menggunakan absorptimeter X-ray dual energy untuk mengukur lumbar spinal (L2-L4) dan kepadatan mineral tulang femur proksimal (sisi kiri; panggul, leher femoralis). Skor BPAQ (sebelum, pBPAQ; saat ini, cBPAQ; total, tBPAQ) digunakan untuk mendapatkan data yang komprehensif mengenai aktivitas fisik selama hidupnya yang berkaitan dengan kesehatan tulang. Peneliti juga menggunakan instrumen X-scan plus II untuk mengukur tinggi badan (cm), berat badan (kg), massa lemak bebas (kg), persen lemak tubuh (%), dan indeks massa tubuh (IMT). Subjek juga diminta untuk mencatat asupan makanan 24 jam terakhir di dalam kuesioner.

Hasilnya, terdapat korelasi positif antara skor BPAQ dengan kepadatan massa tulang panggul (pBPAQ r = 0,308, p = 0,008; tBPAQ, r = 0,286, p = 0,014) dan leher femoralis (pBPAQ r = 0,309, p = 0,008; tBPAQ, r = 0,311, p = 0,007). Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signfikan antara cBPAQ dengan kepadatan massa tulang, baik di panggul maupun di leher femoralis (p > 0.05). Ketika variabel massa lemak bebas, asupan vitamin D, cBPAQ, pBPAQ, dan tBPAQ dimasukkan ke dalam analisis regresi linier berganda secara bertahap, massa lemak bebas dan pBPAQ menjadi predictor kepadatan mineral tulang panggul sebesar 16% (p = 0,024), sedangkan massa lemak bebas dan tBPAQ memprediksi 14% perbeda an di leher femoralis (p = 0,015). Hanya massa lemak bebas yang dapat mempre diksi 15% perbedaan pada L2-L4 (p = 0,004). Terdapat korelasi positif antara variabel asupan vitamin D dengan L2-L4 (p = 0, 025). Namun, variabel asupan makanan lainnya tidak signifikan (p > 0,05).

Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa skor BPAQ yang berasal dari aktivitas fisik dan massa lemak bebas secara positif berhubungan dengan kepadatan mineral tulang panggul dan leher femoralis pada mahasiswi. Studi ini juga menyarankan bahwa perhatian terhadap osteoporosis dan perilaku untuk membantu kesehatan tulang yang efektif pada mahasiswa dibutuhkan untuk melindungi dari penyakit tulang di kemudian hari.

Su TH, Hu TH, Chen CY, et. Al. Liver Int. 2016 Sep 16.Doi: 10.1111/liv.13253

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27634143

 

Terapi antiviral oral dapat mengurangi perkembangan penyakit pada pasien hepatitis B kronis. Studi ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai efektivitas terapi entecavir jangka panjang dalam mengu rangi risiko hepatoselular karsinoma (HCC), kejadian sirosis, dan kematian pada sebagian besar penderita hepatitis B kronis yang berkaitan dengan sirosis.

Studi ini merupakan penelitian nasional, multisenter, dan studi kohort retrospektifprospektif di Taiwan. Peneliti mendata pasien sirosis yang berkaitan dengan hepatitis B kronis yang menerima terapi entecavir jangka panjang dan membandingkan perkembangan HCC, kejadian sirosis, dan kematian karena hepatitis B pada pasien yang tidak pernah diberikan terapi.

Hasilnya, didapatkan 1.315 pasien sirosis yang mendapatkan terapi dan 503 pasien sirosis yang tidak mendapatkan terapi dengan median durasi terapi 4 tahun dan tindak lanjutnya 6 tahun. Dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapatkan terapi, terapi entecavir berhubungan dengan penurunan risiko HCC sebesar 60% (HR = 0,40, CI 95% = 0,28-0,57). Selain itu, usia yang lebih tua, jenis kelamin laki-laki, HBeAg positif, alfa-fetoprotein (AFP) > 7 ng/mL sebelum terapi merupakan predictor independen perkembangan HCC. Analisis lebih lanjut menunjukan bahwa terapi entecavir secara signifikan menurunkan risiko pendarahan varises, spontaneous bacterial peritonitis, dan kematian yang berhubungan dan disebabkan oleh penyakit hati. Temuan temuan ini dikonfirmasi dengan nilai kecenderungan kohort yang cocok dalam analisis sensitivitas. Pada pasien yang dilakukan terapi entecavir, usia yang lebih tua, jenis kelamin laki-laki, HBeAg positif, level AFP > 7 ng/mL sebelum terapi, dan tahun pertama respons virologi merupakan prediksi perkemban gan HCC. Kesimpulannya, terapi entecavir selama empat tahun secara signifik an menurunkan risiko HCC, kejadian sirosis, dan kematian pada pasien sirosis yang berkaitan dengan hepatitis B kronis.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish