Fokus

MARINI YUSUFINA LUBIS,

NUCHSAN UMAR LUBIS

Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam

 

Pendahuluan

Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekauan otot (spasme) tanpa diser tai gangguan kesadaran.1 Gejala ini disebabkan oleh neurotoksin yang sangat poten, yaitu tetanospasmin yang dihasilkan selama pertumbuhan bakteri anaerob Clostridium tetani. 2 Pencegahan penyakit tetanus dapat dilakukan dengan cara imunisasi yang telah tersedia sejak tahun 1923.3 Meskipun cakupan imunisasi DPT cukup tinggi, angka kejadian tetanus masih dijumpai, namun relat if rendah.

Etiologi

Tetanus disebabkan oleh kuman bacillus gram positif, Clostridium tetani bersifat anaerob obligat (berbentuk vegetatif apabila berada dalam lingkungan anaerob), dan dapat bergerak dengan menggunakan flagella. Kuman ini menghasilkan eksotoksin yang kuat mampu membentuk spora dan mampu bertahan pada suhu tinggi, kekeringan, serta desinfektan. Kuman ini hidup di dalam tanah dan usus binatang. Dalam lingkungan yang anerob dapat berubah menjadi bentuk vegetatif yang dapat menghasil kan eksotoksin.1,4

Manifestasi Klinis

Penyakit tetanus terbagi tiga dalam kelompok besar, yaitu generalized tetanus, localized tetanus, dan cephalic tetanus berdasarkan luas serta lokasi neuron yang terlibat.4 Generalized tetanus merupakan bentuk tetanus tersering dengan karakteristik peningkatan tonus otot dan spasme umum. Gejala pertama biasanya kesulitan membuka mulut karena peningkatan otot masseter...

 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

PRIBAKTI B.
Subbagian Uroginekologi
Rekonstruksi Bagian Obstetri dan
Ginekologi FK Unlam Banjarmasin

 

Pendahuluan

Disfungsi dasar panggul (Pelvic Floor Dysfunction/PFD) dapat terjadi pada kombinasi dari beberapa atau semua kondisi berikut: stres inkontinensia urin (SUI), inkontinensia alvi dan flatal (FI), dan prolaps organ panggul (POP). Sekitar sepertiga dari wanita dewasa di Amerika Serikat menderita berbagai derajat PFD. Kondisi ini berdampak negatif pada kualitas hidup mereka dan merupakan beban ekonomi yang signifikan.1-4 Olsen et al., menyatakan hampir 10% dari 150.000 wanita usia 80 tahun menjalani operasi panggul dan lebih dari 30% dari mereka sudah mengulang operasi korektif.5 DeLancey menggambarkan peristiwa ini sebagai fenomena gunung es, di mana 10% wanita akan menjalani operasi untuk gangguan dasar panggul.6 Jumlah ini kemungkinan akan meningkat secara signifikan pada tahun-tahun mendatang seiring dengan semakin tua populasi dan perkembangan teknik bedah invasif minimal untuk memperbaiki berbagai gejala PFD.

 

Faktor Risiko Obstetrik dan PFD

Paritas

Banyak data telah dikumpulkan tentang paritas dan risiko relatif terjadinya PFD. Beberapa pendapat setuju bahwa persalinan pervaginam merupakan faktor risiko terjadinya PFD, tetapi risiko tidak meningkat pada tiap persalinan.1-7 DeLancey berpendapat bahwa ada peningkatan risiko pada tiap persalinan (Gambar 1).8 Yang lain bahkan mempertimbangkan multiparitas sebagai faktor pelindung untuk ruptur perineum derajat ketiga.9 Hal ini mungkin berlaku hanya untuk wanita dengan persalinan pertama tidak menyebabkan kerusakan pada dasar panggul. DiPiazza et al., berpendapat bahwa faktor risiko terjadinya rupture sfingter ani pada pasien multipara sama dengan wanita nulipara.10

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

 

Diagnosis Gagal Jantung di Pelayanan Kesehatan Primer

 

TJOKORDA NGURAH PRASANTA ADITYAPUTRA

Dokter Internship Rumah Sakit Abdoer Rahem Situbondo

 

Pendahuluan

Gagal jantung bisa didefinisikan sebagai abnormalitas struktur atau fungsi jantung yang menyebabkan gagalnya jantung menyuplai oksigen sesuai kebutuhan metabolisme jaringan.1 Gagal jantung juga didefinisikan sebagai sindrom pada pasien yang memiliki gejala khas (seperti sesak napas, bengkak pada pergelangan kaki, dan lelah) dan tanda (seperti peningkatan tekanan vena jugular, crackles paru, dan denyut apeks yang menyimpang) karena abnor­malitas struktur dan fungsi jantung.

Peran Akupunktur dalam Tata Laksana Low Back Pain

 

KEMAS ABDURROHIM, DWI RACHMA HELIANTHI

Staf Medis Departemen Akupunktur Rumah Sakit Ciptomangunkusumo

 

 

Pendahuluan

Low back pain  (LBP)  merupakan penyaki­t dengan prevalensi tertinggi dengan mayoritas kasus LBP non-spesifik.1,2 Sekitar 70 sampai 90% orang dewasa selama hidup mereka pernah mengalami nyeri punggun­g bawah akut.1,2 Walaupun 90% pasien dapat mengalami perbaikan gejala dalam 1 bulan, namun sebagian besar kasus berlanjut sampai 1 tahun dengan hanya 21% sampai 25% kasus yang mengalami penyem­buh­an sempurna dalam hal nyeri dan di­sabilita­s.3 Kasus LBP di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2013 sebanyak 24,3%.4 LBP me­ru­pa­kan salah satu kondisi yang mem­butuhk­an banyak biaya. Di Inggris, kasus LBP menye­bab­kan pengeluaran biaya kesehatan seba­nyak £10,668 juta.1,2 Biaya yang disebab­kan oleh rekurensi LBP lebih banyak dibandingkan dengan LBP serangan pertama.1

Low back pain (LBP) adalah nyeri di daerah punggung antara sudut bawah kosta sampai lumbosakral. Nyeri juga bisa menjalar ke daerah lain seperti punggung bagian atas dan pangkal paha. LBP atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivita­s tubuh yang kurang baik.5

LBP akut didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung kurang dari 6 minggu. Penyebab nyeri punggung bawah pada 85% pasien tidak diketahui penyebabnya.Ini menyebabkan situasi frustasi, baik pada dokter maupun pasien.1 Sebagian besar kasus sembuh secara spontan dalam waktu 6 minggu, namun sisanya akan menjadi kronik.1,2,3

LBP merupakan gejala yang kompleks yang dapat disebabkan oleh berbagai pe­nyakit dan kelainan anatomik. LBP umumnya dibagi menjadi spesifik atau nonspesifik, mekanik atau non-mekanik, primer atau se­kunder, atau berdasarkan dugaan etiologi.1.3 Semua sistem klasifikasi ini menandakan bahw­a pada kebanyakan kasus, diagnosis patoan­atomik tertentu tidak dapat diguna­kan. Hal ini disebabkan oleh belum ada korela­si yang jelas antara kelainan anatomi spesifik dengan nyeri.1 Sebagai contoh, banyak pasien yang terdapat herniasi atau prolaps diskus intervertebralis, namun tidak mengeluh nyeri atau tanpa gejala.1 Pasien dengan LBP yang dapat diketahui penyebabnya (spesifik) hanya 10%. Mayoritas pasien (90%) merupakan LBP non-spesifik.1,3,5 Abnormalitas tulang belakang pada gambara­n radiografi dan magnetic resonance imaging (MRI) tidak terlalu berhubungan dengan LBP  nonspesifik karena pasien tanpa gejala juga menunjukkan abnormalitas tersebu­t.1

Beberapa faktor risiko yang dapat me­micu LBP akut maupun kronik: peningkatan usia; kerja fisik yang berat; faktor psikososial, seperti kerja tidak memuaskan, kerja mo­noto­n; depresi; obesitas (indeks massa tubuh > 30%); perokok; skoliosis berat (> 80%); riway­at sering sakit kepala.5

LBP nonspesifik dikelompokkan kembali berdasarkan durasi, yaitu akut (kurang dari 6 minggu), subakut (antara 6 minggu sampai 3 bulan), atau kronik (lebih dari 3 bulan).1,3 Pada umumnya prognosis LBP baik dan sebagi­an besar pasien dengan episode LBP nonspesifik akan pulih dalam beberapa mingg­u.1 Namun, kasus LBP merupakan masalah yang memiliki tingkat rekurensi tingg­i. Faktor prediksi yang paling utama terjadi­nya LBP persisten adalah perilaku malada­ptif, tidak ada kelainan organik, ganggua­n fungsi, keadaan umum, dan adanya gangguan psikiatri.6

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

Isu Beras Plastik, Bukti Lemahnya Perlindungan Kesehatan

 

Beberapa waktu lalu, berita tentang bera­s plastik mencuat. Tidak hanya ram­ai diberitakan di media massa mainstream, namun juga ramai diperbincangkan di dunia maya. Dengan adanya hasil pemeriksaan oleh Sucofindo dan beberapa informasi yang diterima oleh istana, presiden akhirnya menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri dan pejabat terkait untuk membahas hal tersebut. Sebelumnya juga diberitakan bahwa Kapolri telah membentuk tim khusus untuk mengusu­t temuan beras plastik. Namun demikian, sampai hari ini informasi hasil pemer­iksaan laboratorium Polri menunjukkan tidak ditemukannya bahan plastik di dalam beras. Ini berbeda dengan hasil pemeriksaan Sucofindo.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish