MUHAMMAD IQBAL MAULANA1,

JULIETA PANCAWATI2,

KRISTANINTA BANGUN3

1Cleft Craniofacial Center RSCM/RSAL Tarakan

2Cleft Craniofacial Center RSCM/Departemen Gigi dan Mulut FKG UI

3Cleft Craniofacial Center RSCM/Divisi Bedah Plastik RSCM


 

 

Pendahuluan

Sumbing bibir dan langit-langit adalah kelainan wajah yang paling umum terjadi pada semua populasi dan etnik di seluruh dunia. Sebanyak 65% dari kelainan pada kepala dan leher adalah sumbing bibir dan langit-langit. Setiap hari, kurang lebih 700 bayi lahir ke dunia dengan kelainan ini, yang berarti setiap 2 menit lahir bayi dengan sumbing bibir dan langit-langit atau 240.000 bayi per tahun. Insidensinya bervariasi berdasarkan lokasi geografis, etnik, dan gende r.1,2

Etnik Asia adalah etnik yang paling banyak mengidap sumbing bibir dan langitlangit, sedangkan etnik Afrika paling sedikit. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Center for Disease Control and Prevention) Amerika Serikat memperkirakan setiap tahun terdapat 2.651 bayi di Amerika Serikat yang lahir dengan bibir sumbing dan 4.437 bayi lahir dengan bibir sumbing dengan atau tanpa sumbing langit-langit.3 Sementara, di Nigeria insidennya 0,076 sampai 0,26 per 100 kelahiran.4 Prevalensi sumbing di Indonesia menurut Riskesdas 2007 adalah 2,4%. Di Indonesia, penderita kelainan sumbing bibir bertambah, rata-rata 7.500 orang per tahun.5 Seorang bayi lahir dengan sumbing bibir dan langit-langit membutuh - kan perawatan bedah dan non-bedah dalam jangka panjang, tergantung tingkat keparah - an sumbing itu sendiri. Salah satu tindakan pra-bedah yang dapat dilakukan adalah pema sangan Nasoalveolar Molding (NAM), umumnya dikerjakan sebelum penderita mencapai kondisi ideal untuk dilakukan tindaka n labioplasty sesuai dengan aturan rule of ten (usia > 10 minggu, berat badan > 10 pon, hemoglobin > 10 gr/dL dan lekosit < 10 /uL)

 

Sejarah

Penggunaan Nasoalveolar Molding untuk bayi sumbing bibir dan langit-langit sudah dilaku kan sejak 1950. Pada 1950, Mc Neil memopulerkan untuk pertama kali prototipe dari NAM yang terbuat dari akrilik yang dibentuk menyesuaikan bentuk celah. Pada 1686, Hoffman mendeskripsikan pengguna - an tudung dengan lengan yang memanjang untuk meretraksikan premaksila dan menyempitkan jarak celah. Tahun 1975, Georgiade dan Latham memperkenalkan pin yang dapat meretraksi secara simultan daerah premaksila dan melebarkan segmen posterior dalam hitungan hari. Pada tahun 1993, Greyson dkk., memperkenalkan teknik yang dapat mengoreksi alveolus, bibir, dan hidung pada bayi sumbing. Ide penelitian untu k pembuatan moulding untuk kartilago diperkenalkan oleh Matsuo pada pada 1984, dengan prinsip bahwa kartilago pada bayi baru lahir masih lembut dan kurang elastis yang ia pikirkan karena adanya kadar estroge n yang tinggi saat lahir sehingga asam hialuronat yang menghambat proses penyatua n dari matriks interselular. Matsuo menggunakan sepasang tabung silikon untuk membentuk lubang hidung.6

 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish