Namun demikian, risi­ko amputasi tetap tujuh kali lebih tinggi pada populasi diabetes dibandingkan kalangan nondiabetes, bahkan lebih.3 Pada penderita diabetes, lesi aterosklerotik kebanyakan berad­a di arteri pergelangan kaki (crural).3 Penyebab ulkus pada kaki diabetes adalah gangguan neuroischemic. Kerusakan jaringan akan bertambah dengan disfungsi mikrovaskuler.3,4 Dilaporkan dengan revaskularisasi konvensional tanpa memperhatikan pembuluh darah tertentu, 10%–18% dari luk­a iskemik akan sulit disembuhkan. Penyembuhan luka setelah sukses revasku­larisa­si sangat lambat. Dilaporkan penyembuhan ulkus bisa  memakan waktu hingga 6 bulan.3,4 Oleh karena itu, dokter bedah vas­kuler harus dapat mengidentifikasi dengan metode angiosome untuk mengoptimalkan pasokan pembuluh darah arteri ke daerah luk­a kronik/ulkus. Saat ini, penelitian tentang angiosome sedang dikembangkan untuk memetakan pasokan arteri utama dan cabang-cabangnya ke daerah luka ulkus yang sulit sembuh karena tidak mendapatkan pasok­an pembuluh darah arteri.

 

Konsep Angiosome

Konsep angiosome pertama kali dijelas­kan dalam bidang bedah plastik rekonstruksi oleh Taylor dan Palmer pada 1987.5 Menurut Taylor, konsep angiosome membagi tubuh menjadi 40 bagian 3 dimensi berdasarkan pasok­an pembuluh darah arteri (Lihat gambar 1).

Dalam studi anatomi, pengenalan konsep angiosome akan membantu strategi rekonstruksi jaringan atau revaskularisasi. Tubuh manusia dibagi menjadi sektor-sektor 3 dimen­si berdasarkan arteri spesifik dan pasoka­n vena, bernama angiosomes.5,6 Berdasarkan konsep ini, masing-masing angios­ome meliputi topografi tertentu, arterios­ome dan venosome. Pasokan pembuluh darah tersebut dicampur dalam kesatuan sistem blok perfusi.5,7 Angiosome yang berdekatan dihubungkan oleh banyak komunik­an, yaitu Kapal choke.5,7

Pada 2006, Attinger dan rekan juga melakukan penelitian angiosome dari kaki dan pergelangan kaki serta implikasi klinis untuk penyelamatan ekstremitas dengan pemahaman tambahan anatomi otot dan kulit. Konsep ini awalnya dirintis dalam bedah plastik dan bedah rekonstruksi.6,7 Model angios­ome reperfusi dapat diterapkan untuk perencanaan sayatan dan eksposur jaringan yang melestarikan aliran darah untuk luka beda­h, untuk menyembuhkan dan memprediksi apakah pedicled tutup dapat berhasil dipanen atau apakah amputasi tertentu akan dapat sembuh. Hal ini juga dapat membantu dalam memilih apakah bypass atau prosedur endovaskular memiliki harapan kesembuhan terbaik untuk penyembuhan luka iskemik yang ada. Sistem angiosomes ini penting untuk menciptakan sistem kompensasi yang efektif terhadap kondisi iskemik5,7, terutama pada pasien diabetes dan penyakit ginjal stadium akhir (ESRD).6,7 Pada pasien tersebut, bila terjadi ulkus pada kaki penyembuhannya dapat berlangsung lama sehingga dengan sistem angiosome, revaskularisasi bisa dioptima­lkan pada angiosomes yang berdekatan .6,7

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish