Saripati

Santos C, Morgan BW, Geller RJ Am J Emerg Med. 2016 Nov 15. pii: S07356757(16)30866-X doi: 10.1016/j.ajem.2016.11.038

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27884585

 

Menurut data NIH, sekitar 275.000 pasien menerima pengobatan 5-Fluorourasil (5-FU) dan lebih dari 1.300 meninggal dunia karena toksisitas 5-FU setiap tahun, mulai dari yang mengancam jiw a seperti myelosupresi, komplikasi gastrointestinal, dan neurotoksisitas. Seseorang dengan immunocompromised berisiko tinggi terjadinya toksisitas. Baru-baru ini, uridin triasetat telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) sebagai satu-satunya obat penawar khusus yang tersedia untuk keracunan 5-FU. Dalam percobaan klinis (n = 13 5), sebanyak 96% pasien dengan toksisit as 5-FU sembuh setelah pengobatan, dimana dalam kelompok kontrol sejarah hanya 10% yang selamat. Ini merupakan laporan kasus pertama yang bertahan hidup setelah 5-FU dosis berlebih yang juga mengala mi immunocompromised HIV / AIDS. Seorang laki-laki berusia 52 tahun dengan riwayat HIV/AIDS (CD4 70), CNS toksopla smosis, dan kanker anal dibawa ke gawat darurat setelah menerima seluruh pengobatan 5-FU di 24 jam pertama. Pengobatan dengan uridin triasetat diatur di departemen kegawatdaruratan. Setelah menerima perawatan, pasien yang mengalami asimptomatik mendapatkan perawatan di rumah sakit yang tidak rumit. Keracunan 5-FU harus diketahui sejak awal dan menggunakan uridin triasetat yang disetujui oleh FDA untuk digunakan dalam 96 jam setelah pemberian terakhir 5-FU. Dokter pengobatan darurat harus segera mengenali dan meng obati keracunan 5-FU. Namun, ini cukup sulit karena pasien mungkin tidak mencari pengobatan medis sampai beberap a jam atau hari setelah pemberian terakhir karena gejala keracunan 5-FU serin g tertunda.

Rogers AJ, Achiro L, Bukusi EA, et Al J Int AIDS Soc. 2016 Nov 24; 19(1): 21224 doi: 10.7448/IAS.19.1.21224

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27887669

 

Infeksi HIV sering ditularkan melalui beberap a hubungan yang stabil. Untuk mencegah penularan HIV pada pasangan HIV-negatif, serta meningkatkan copying pad a pasangan dengan diagnosis HIV-positif, telah disarankan bahwa intervensi yang ditujuka n untuk memperkuat hubungan pasanga n, selain untuk mengatasi perilaku individual. Namun, hanya sedikit yang diketah ui mengenai faktor-faktor yang memengaruhi hubungan yang berdampak pada pengambilan keputusan bersama terkait dengan HIV.

Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan 40 ibu hamil dan 40 pasangan laki-lakinya di Barat Daya Kenya, daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi. Untuk menggambarkan model saling ketergan - tung an komunitas dan perubahan perilaku kesehatan, peneliti menggunakan metodemetode analisis tematik untuk menganalisis transkrip wawancara di perangkat lunak Dedoose dengan tujuan mengidentifikasi faktor hubungan kunci yang dapat berkontribusi mengembangkan intervensi berbasis pasangan untuk meningkatkan dampak kesehatan untuk wanita hamil dan pasangan pria mereka.

Sesuai dengan model saling ketergantungan, peneliti menemukan bahwa pasangan dengan motivasi yang berpusat pada hubungan terlihat lebih meningkatkan perilaku kesehatan, seperti melakukan pengujian HIV pasangan, pengungkapan status HIV, dan kerja sama untuk meningkatkan pengobatan, dan kepatuhan perjanjian klinik. Pasangan ini sering memiliki factor predisposisi seperti kemampuan komunikasi yang lebih kuat dan pembagian anak-anak, dan mungkin kurang untuk menghadapi tantangan potensial seperti pernikahan poligami, warisan istri, hidup terpisah, atau kesulitan keuangan. Untuk pasangan HIVnegatif, pengambilan keputusan bersama membantu mereka menghadapi ancaman kesehatan tertular HIV bersama-sama. Untuk pasangan dengan diagnosis HIV-positif, communal copying membantu mengurangi risiko penularan interspousal dan mening katkan prospek kesehatan jangka panjang. Sebaliknya, peserta merasa bahwa motivasi self-centered menyebabkan berkurangnya kepuasan hubungan dan ketidakpercayaan. Pasangan yang tidak memiliki ketergantungan cenderung lebih terbuka dalam menyebutkan kekerasan yang dialami atau keretakan hubungan, atau mengalami kesulitan menghadapi stigma terkait HIV.

Peneliti menemukan bahwa teori interdep endensi atau saling ketergantungan dapat memberikan wawasan pada sikap yang seseorang terhadap kesehatan dan perilak u yang diadopsi oleh pasangan yang sedang hamil. Intervensi yang berinvestasi pada penguatan hubungan, seperti konseling pasangan selama kehamilan, dapat meningkatkan adopsi perilaku kesehatan terkait HIV yang menguntungkan. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi adaptasi yang terjadi berdasarkan fakta intervensi konseling pasangan dengan konteks local dalam rangka mengatasi karakteristik hubungan yang termodifikasi yang dapat meningkatkan interdependensi dan meningkatkan dampak kesehatan terkait HIV.

 

Papageorghiou AT, Ohuma EO, Gravett MG, et Al BMJ. 2016 Nov 7; 355; i5662 doi: 10.136/bmj.i5662

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27821614

 

Tujuan studi ini adalah untuk menciptakan standar internasional tinggi symphysisfundal dari kehamilan wanita sehat dengan kondisi ibu dan perinatal yang baik. Desain studi ini menggunakan studi observasi longitudinal prospektif. Studi ini dilakukan di delapan wilayah urban di Brazil, China, India, Italia, Kenya, Oman, UK, dan USA. Dalam studi ini, ibu hamil dengan gizi baik didaftarkan ke dalam komponen Fetal Growth Longitudinal Study dari Proyek INTERGROWTH 21st pada usia kehamilan 9-14 minggu dan ditindaklanjuti hingga melahirkan.

Tinggi symphysis-fundal diukur setiap 5 minggu sejak minggu ke-14 kehamilan hingga melahirkan menggunakan metode dan staf peneliti yang berdedikasi yang tidak mengetahui pengukuran tinggi symphysisfundal dengan memutar meteran sehingga jumlahnya tidak terlihat selama pemeriksaan. Kurva yang terbaik dipilih menggunakan derajat kedua polinomial pecahan dan selanjutn ya dimodelkan dalam kerangka bertingkat untuk menjelaskan desain penelitian longitudinal.

Dari studi tersebut didapatkan hasil dari 13.108 wanita yang diskrining pada trimester pertama, 4.607 (35,1%) masuk ke dalam kriteria inklusi studi. Dari jumlah wanit a yang eligible, 4.321 (93,8%) mengalami kehamilan tanpa komplikasi mayor dan melahirkan bayi tanpa cacat bawaan. Angka median pengukuran tinggi symphysis-fundal adalah 5,0 (dengan rentang 1-7); sebanyak 3.976 (92,0%) wanita melakukan empat kali atau lebih pengukuran. Pengukuran tinggi symphysis-fundal meningkat hampir linear dengan usia kehamilan. Data yang digunakan untuk mendefinisikan kurva sesuai denga n percentil ke-3, ke-50, dan ke-97 yang menunjukkan hasil yang sangat baik terhadap nilai yang ditelaah.

Studi ini menyimpulkan bahwa standar internasional untuk mengukur tinggi symphysis-fundal merupakan alat skrining tingkat pertama untuk mengetahui gangguan pertumb uhan janin.

 

Clark j, Holgan N, Craig L, et Al.

Food Sci Nutr. 2016 Mar 2;4(6): 848-851, e-Collection 2016

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27826434

 

Rendahnya konsumsi vitamin E ibu selama hamil berkaitan dengan kejadian asma pada anak-anak. Percobaan ini dilakukan untuk menguji apakah meningkatkan asupan vitamin E ibu dapat mengurangi asma pada anak-anak. Studi ini menguji apakah memung kinkan melakukan percobaan ini denga n menggunakan makanan untuk meningkatkan asupan vitamin E. Telah dikembangkan sebanyak 3 jenis variasi sup dengan dengan komposisi makanan yang mengandung vitamin E yang ditingkatkan (16-19 mg/kaleng). Selain itu, dibuat pula yang identik dengan versi retail (vitamin E 1-4 mg/kaleng) yang dijadikan sebagai plasebo. Dalam pilot double-blind randomized controll ed trial, wanita hamil secara acak 1: 1 dibagi ke dalam kelompok makanan yang telah ditingkatkan atau placebo dengan pemberian tiga kaleng/minggu sejak 12 minggu kehamilan. Asupan vitamin E dihitun g pada 12, 20, dan 34 minggu kehami lan. Wawancara kualitatif juga dilakukan. Sebanyak 59 perempuan diikutsertakan dalam studi (29 ditingkatkan, 30 plasebo). Dari jumlah tersebut, 28 menyelesaikan uji coba (15 ditingkatkan, 13 plasebo). Pada wanita yang telah menyelesaikan percobaan,  asupan vitamin E dari kelompok placebo tetap tidak berubah; 7,09 mg/hari (95% CI 5,41-8,77) pada 12 minggu; 6,41 mg/hari (5,07-7,75) pada 20 minggu; dan 6,67 mg/hari (5,38-7,96) pada 34 minggu kehamilan. Asupan vitamin E dari kelompok yang ditingkatkan vitamin E meningkat dari 6,50 mg/hari (5,21-7,79) pada 12 minggu menjadi 14,9 mg/hari (13,3-16,4) pada 20 minggu dan 15,2 mg/hari (12,9-17,5) pada 34 minggu, P < 0,001. Wawancara kualitatif memberikan panduan yang jelas pada pening katan kepatuhan. Meskipun 31 wanita berhenti melakukan percobaan pada median 19 minggu kehamilan (kisaran interkuartil 16-25), intervensi tersebut dilakukan oleh 80% wanita pada minggu ke-12 dan 34 kehami lan serta 63% dari minggu 12 kehamil an dan persalinan. Pilot double-blind randomized controlled trial (RCT) memungkinkan untuk meningkatkan asupan vitamin E ibu menggunakan bahan-bahan makanan, produk makanan lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan intervensi.

Wadasinghe SU, Metcalf L, Metcalf P, Perry D J Ultrasound Med. 2016 Dec; 35(12): 2659-2664

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27821653

 

Tujuan dari studi ini adalah untuk membuat data referensi sonografi pada dilatasi pelvis ginjal maternal pada wanita hamil asimtomatik. Sebuah studi cross section al prospektif dilakukan pada wanita hamil yang datang untuk melakukan pemeriksaan kebidanan. Pada setiap sisi, panjang diameter dan aksial anteroposterior ginjal pelvis ginjal diukur. Data demografi ibu, graviditas dan paritas, jumlah kelahiran, dan berat janin juga dicatat (bila tersedia).

Sebanyak 700 perempuan diikutsertakan dalam studi ini, dengan 191 tidak termasuk dalam kriteria inklusi. Sebanyak 509 perempuan dianalisis, terdiri dari 465 kehamilan tunggal dan 44 kehamilan kembar. Sebanyak 815 perempuan dilakukan pemeriksaan sonografi, terdiri dari 716 pada kehamilan tunggal dan 99 pada kehamilan kembar.

Rentang usia kehamilan 10 sampai 40 minggu. Grafik yang menggambarkan diameter pelvis ginjal anteroposterior dibandingkan

usia kehamilan dibuat untuk menentukan data referensi sonografi normatif bagi pelvis ginjal ibu dilatasi pada kehamilan tunggal. Meskipun rata-rata diameter pelvis ginjal meningkat sebagai perkembangan kehamilan, pengukuran yang lebih besar dari 10 mm relatif jarang, diidentifikasi 9,7% dari kanan dan 2,1% dari ginjal kiri pada trimester ketig a. Hanya 4,1% dari kanan dan 0,4% dari kiri pada pengukuran saat trimester ketig a yang melebihi 15 mm. Pengukuran pelvis ginjal kanan rata-rata lebih besar dari kiri 1,54 mm (95% confidence interval [CI], 1,20-1,87 mm). Ibu hamil yang mengandung janin kembar memiliki pengukuran pelvis ginjal secara signifikan lebih besar daripada ibu hamil yang mengandung janin tunggal dengan rata-rata berukuran 2,11 mm (95% CI, 1,50-2,72 mm), lebih besar di sebelah kanan dan 1,69 mm (95% CI, 0,73-2,65) di sebelah kiri.

Dari hasil studi ini, peneliti menyajikan data referensi sonografi untuk kehamilan asimtomatik yang berhubungan dengan dilatasi pelvis ginjal pada kehamilan tunggal dari studi kohort besar pada perempuan.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish