Artikel Konsep

AULADI HALIM

UMAR LUBIS, NUCHSAN

UMAR LUBIS

Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSU Cut Nyak Dhien Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam

 

Pendahuluan

Dalam keadaan normal, setiap bayi baru lahir mengalami penurunan faktor pembekuan yang tergantung vitamin K (vitamin K dependent coagulation factors), yaitu faktor pembekuan II, VII, IX, dan X.1 Kadar faktor pembekuan ini dalam plasma menurun sampai mencapai kadar terendah pada hari ke-2 sampai ke-5 kehidupan, kemudian meningkat kembali pada umur 7 sampai 14 hari, dan mendekati kadar normal orang dewasa setelah bayi berumur sekitar 3 bulan.1,2,3 Rangkaian fenomena ini adalah normal dan tidak menimbulkan gangguan proses pembekuan darah yang berakibat perdar ahan, namun dalam keadaan-keadaan tertentu, pada bayi baru lahir penurunan kadar faktor pembekuan tersebut dapat lebih besar daripada penurunan fisiologis serta peningkatannya lambat dan tidak sempurna. Hal ini mengakibatkan gangguan pembekuan dan perdarahan. Keadaan inilah yang disebut sebagai penyakit perdarahan pada bayi baru lahir atau hemorrhagic disease of the newborn atau vitamin K deficiency bleedin g (VKDB).2,3 Insiden penyakit ini sekita r 0,5-0,7%.3 

Menurunnya kadar faktor pembekuan II, VII, IX, dan X dalam plasma disebabkan oleh kurangnya vitamin K yang diperlukan dalam sintesis faktor pembekuan tersebut. Berbagai faktor dapat menyebabkan berkurangnya vitamin

K ini, yaitu cadangan vitamin K yang kurang pada bayi baru lahir, sintesis vitamin K diusus yang belum berlangsung, absorpsi vitam in K di usus yang masih sangat terbatas, atau adanya gangguan absorpsi vitamin K dan gangguan metabolisme vitamin K yang disebabkan oleh obat-obatan yang dikonsumsi ibu selama kehamilan.4 

Vitamin K berperan dalam proses karboksilase, perkusor faktor pembekuan II, VII, IX, dan X menjadi faktor pembekuan yang fungsional. Perkusor faktor pembekuan ini merupa kan protein yang mempunyai gugusan asam amino glutamat. Faktor-fakto r pembekuan tersebut hanya dapat berfungsi...

 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

MONICA DJAJA

SAPUTERA1,2

1 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat, Indonesia

2 Departemen Ilmu Penyakit THT-KL, Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang, Semarang, Indonesia

 

Pendahuluan

Muscle Tension Dysphonia (MTD) merupakan gangguan suara fungsio nal yang terjadi akibat adanya ketegangan berlebih pada otot-otot intrinsik dan ekstrinsik laring.1,2 Data dari Roy et al., (2003) menyatakan bahwa MTD  berupa kan salah satu penyebab terbanyak gangguan suara di klinik, dengan prevalensi sebesar 10 - 40%.3 Data epidemiologi lain melaporkan bahwa MTD banyak terjadi pada perempuan dewasa usia pertengahan, serta pada para pekerja yang mengharuskan merek a berbicara dalam volume yang keras seperti penyanyi, pengajar, instruktur, dll.4,5

Tujuan tulisan ini adalah memberikan informasi mengenai MTD agar angka kejadian MTD dapat dikurangi melalui diagnosis serta penanganan awal yang tepat.

 

Fisiologi Fonasi

Laring merupakan bagian terbawah dari saluran pernapasan yang memiliki beberapa fungsi, seperti respirasi dan fonasi. Dalam melakukan fungsi fonasi, bagian dari laring yang memegang peranan adalah otot intrinsi k dan ekstrinsik laring. Otot intrinsic laring merupakan otot-otot yang bekerja dalam mengatur gerakan pita suara dan terlet ak di bagian lateral — posterior laring. Yang termasuk ke dalam otot intrisik lateral laring adalah M. Krikoaritenoid lateral, M. Tiroepiglotika, M. Vokalis, M. Tiroaritenoid, M. Ariepiglotika, dan M. Krikotiroid. Sedangkan yang termasuk ke dalam otot intrisi k posterior laring adalah M. Aritenoid Transversum, M. Aritenoid Oblik, dan M. Krikoaritenoid Posterior.1-3,6,7 Sedangkan otot ekstrinsik laring merupakan otot-otot yang terletak di atas (suprahyoid) dan di bawah (infrahyoid) tulang hyoid. Yang termasuk ke dalam otot suprahyoid adalah M. Digastrkus, M. Geniohyoid, M. Stiloh -hyoid, dan M. Milohyoid. Sedangkan yang termasuk ke dalam otot infrahyoid adalah M. Sternohyoid, M. Omohyoid, dan M. Tirohyoid.1-3,6,7 Dalam proses respirasi, posisi pita suara akan terbuka sehingga terjadi aliran udara saat inspirasi. Sedangkan dalam proses fonasi, produksi suara akan keluar ketika pita suara dalam posisi tertutup. Tertutupnya pita suara saat proses fonasi terjadi akibat adanya keseimbangan antara kerja abduksi dan aduk - si otot ekstrinsik dan intrinsik laring.1-3,6,7

 
Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

NICHOLAS WIJAYANTO,

ANDREW KENCANA

Alumnus FK UKRIDA, Jakarta

 

Pendahuluan

Penyakit kardiovaskular masih merupakan masalah kesehatan yang utama di Indonesia, karena menyebabkan tingginya angka perawatan dan kematian. Sudah diketahui secara luas bahwa banyak faktor risiko dari penyakit kardiovaskular merupakan faktor yang dapat dimodifikasi, baik dengan perubahan gaya hidup atau denga n penggunaan terapi farmakologis. Beberapa faktor risiko tersebut adalah merokok, adanya riwayat hipertensi, dan kadar kolesterol LDL yang tinggi.1 

Kolesterol LDL merupakan salah satu fakto r utama yang menyebabkan terjadinya Atherosclerotic Heart Disease. Seperti diketahui, 60-70% kolesterol di dalam tubuh terdapat dalam bentuk LDL, di mana LDL sendiri merupakan faktor utama terbentuk nya Atherosclerotic plaque.2 

The National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III) pada tahun 2004 merekomendasikan penurunan kadar lipid secara intensif bagi pasien yang telah memiliki penyakit kardiovaskular, atau bagi pasien yang memiliki beberapa faktor risiko yang akan menyebabkan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular sebesar 20% dalam waktu 10 tahun.3 

Beberapa guidelines merekomendasikan statin sebagai pengobatan farmakologis lini pertama untuk menurunkan kadar LDL pada pasien. Statin (HMG-CoA reductase) merupakan penghambat kompetitif untuk menurun kan biosintesis lipid. Beberapa Randomized Clinical Trial menunjukkan bahwa statin menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular, di mana efek statin sendiri adalah menurunkan progresivitas dari pembentukan Atherosclerotic plaque.4,5

 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

RIZALDY PINZON1,
FATIMAH PITALOCA2,
LUCAS MELIALA3
1Fakultas Kedokteran UKDW/RS Bethesda, Yogyakarta
2PT Merck Tbk. Indonesia
3Bagian IP Saraf FK Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

 

Pendahuluan

Neuropati diabetik/polineuropati diabetik dikarakteristikkan sebagai munculnya kehilangan fungsi saraf secara progresif atau melibatkan tanda dan gejala disfungsi saraf perifer secara progresif pada pasien diabetes setelah eksklusi kemungkin an penyebab lainnya.1 Komplikasi ini terjadi pada 50% pasien dengan DM tipe 1 dan 2.2

Penelitian menunjukkan bahwa 47% pasien DM terkena neuropati perifer. Sebanyak 7,5% komplikasi ini diperkirakan terjadi pada setiap pasien saat didiagnosis menderita DM, dan lebih dari setengah kasus tersebut terdapat polineuropati distal simetris. Penelitian ini mengemukakan bahwa neuropati diabetik sama banyak mengenai wanita dan pria, dan dapat muncul pada segala usia, tetapi akan lebih sering dengan pertambahan usia, derajat keparahan, serta durasi dari diabetes melitus.3

Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi pasien DM dengan populasi kelompok usia 20-79 tahun di seluruh dunia mencapai 382 juta orang, dan menyebabkan kematian pada 5,1 juta orang.4 Prevalensi DM di Indonesia mencapai 8,5 juta orang, menduduki urutan ke-7 terbanyak di dunia, dan diperkirakan jumlah ini akan naik pada tahun 2035 dengan estimasi prevalensi DM mencapai 14,1 juta orang.5

Prevalensi DM di Indonesia, khususnya berdasarkan wawancara, yang terdiagnosis dokter sebesar 1,5%, dan terdiagnosis dokter atau bergejala sebesar 2,1%, dengan prevalensi tertinggi terdapat di DI Yogyakarta sebesar 2,6%. Tanda dan gejala DM meningkat sesuai dengan bertambahnya umur. Prevalensi tertinggi pada kelompok usia 55 - 64 tahun (terdiagnosis 4,8%, terdiagnosis dengan gejala 5,5%), namun mulai umur >65 tahun cenderung menurun.5 Permasalahan yang muncul adalah sering kali diagnosis neuropati ...

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish