Epidemiology data are essential for the development of prevention, education and healthcare facilities program. This was a descriptive retrospective study using data from the Surgery Department, Operating Room Department and Medical Record. All medical record of every cleft lip and palate patient, who checked him/her self and was operated during 2012 until 2014 was taken and recorded. From 86 patients, only 82 were qualified to join the research based onthe completeness of medical record.The result shows that the most frequent cases were cleft lip with palate (48.8%), followed by cleft lip (41.5%) and cleft palate (9.7%). 53 cases were unilateral which 34 cases located on left side. Cleft lip and cleft lip with palate were suffered mostly by boys,with boy to girl ratios of 1.1:1 for cleft lip and 1.2:1 for cleft lip with palate. On the other hand cleft palate was predominated by girls, with ratio­s 0.6:1. Among patients with cleft palate and cleft lip with palate whomhad palatoraphy

surgery, only 7 of 26 patients did the surgery before 18 months old.The sufficient number of cleft lip and palate cases is found in Maluku. It is important for the government to provide an adequate program and healthcare facilities along with the proper promotional tools that able to reach out to all patients in this province.

 

Keywords : Epidemiology, Cleft lip and palate, Ambon, Maluku

 

Abstrak

Bibir sumbing dan langit-langit adalah cacat bawaan kraniofasial yang umum ditemukan. Penderita cacat bawaan ini mulai mengalami kesulitan sejak awal kehidupannya, yang mengakibatkan gangguan tumbuh kembang dan risiko infeksi. Ketidaktersediaan sumber daya penanganan sumbing di Maluku mengakibatkan banyak penderita mengalami keterlambatan penanganan dan peningkatan morbiditas. Data epidemiologi sangat dibutuhkan sebagai dasar perencanaan program pencegahan, edukasi, dan pemenuhan sumber daya kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif retrospektif, melalui pengumpulan data di bagian Bedah, Kamar Operasi, dan bagian Rekam Medis. Setiap penderi­ta bibir sumbing dan langit-langit yang memeriksakan diri dan dioperasi sepanjang tahun 2012 sampai 2014, diperiksa kelengkapan rekam medis dan diambil datanya. Didapatkan 86 kasus baru bibir sumbing dan langit-langit, namun hanya 82 yang memenuhi syarat untuk diikutsertakan ke dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan kasus tertinggi adalah bibir sumbing disertai langit-langit (48.8%), diikuti bibir sumbing (41,5%) dan sumbing langit-langit (9,7%). Sebanyak 53 kasus merupakan kasus unilateral dengan mayoritas sisi yang terkena adalah kiri sebanyak 34 kasus. Bibir sumbing dan bibir sumbing disertai langit-langit lebih banyak diderita laki-laki, dengan rasio 1,1:1 untuk bibir sumbing dan 1,2:1 untuk bibir sumbing disertai langit-langit. Sedangkan sumbing langit-langit lebih banyak diderita perempuan, dengan rasio 0,6:1. Di antara pasien sumbing langit-langit dan bibir sumbin­g disertai langit-langit yang menjalani operasi palatoraphy, hanya 7 dari 26 pasien yang dioperasi sebelum usia 18 bulan. Bibir sumbing dan langit-langit cukup banyak ditemukan di Maluku. Penting bagi pemerintah dan tenaga kesehatan Maluku untuk semakin menjangkau seluruh penderita dengan menyediakan program dan fasilitas kesehatan, termasuk tenaga kesehatan, yang adekuat disert­ai dengan promosi kesehatan.

 

Kata Kunci: Epidemiologi, bibir sumbing dan langit-langit, Ambon, Maluku

(Margaret Ivana Tangkilisan, Medika 2015, Tahun ke XLI, No. 10, p. 582–587)

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish