Artikel Penelitian

DEBORA SHARON RORY, RIZALDY TASLIM PINZON, ESDRAS ARDI PRAMUDITA

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

 

Pendahuluan

Pembunuh kedua dari daftar penyebab kematian di dunia setelah penyakit jantun g iskemik adalah stroke.Stroke telah bertanggung jawab atas kematian 6.7 juta manusia di dunia pada tahun 2012. Stroke menjadi penyebab utama di negara dengan pendapatan menengah keatas denga n 126 kematian per 100.000 populasi.1 Stroke juga bertanggung jawab pada delapan belas persen kerugian akibat penurunan produksi di Eropa yang disebabkan oleh mortalit as dan morbiditas akibat penyakit stroke.2 Penelitian sebelumnya menyebutkan dari semua pasien yang terkena stroke, sembilan puluh lima persen mengalami paling sedikit satu komplikasi. Komplikasi medis yang terjadi pada pasien stroke ini akan memperburuk luaran klinis dan mempengaruhi tingkat kematian.3 Data Register Stroke Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta menunjukan komplikasi medis tersering yang terjadi pada periode tahun 2014 adalah pendarahan saluran cerna (59 kasus), pneumonia (41 kasus), infeksisaluran kemih (19 kasus). 4 Dari beberapa penelitian sebelumnya, didapatkan bahwa komplikasi dari stroke iskemik akut, salah satun ya pendarahan saluran cerna, akan memberikan dampak yang buruk bagi luaran klinis.5-6 Penelitian mengenai pengaruh pendara han saluran cerna terhadap luaranklinis ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengukur dampak komplikasi pendarahan saluran cerna terhadap prognosi s stroke iskemik akut dengan menggunakan Modified Rankin Scale (mRS).

 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...

ANIK WIDIJANTI, BUDI SEPTIAWAN

Laboratorium Patologi Klinik RSUD Dr Saiful Anwar / FKUB Malang

 

Abstract:

Evaluation of coagulation testing can be affected by many factors, such as use of tube making materia l and anticoagulant in preanalitik phase. Prior study showed that is differences between in evaluati on of coagulation testing with using tubes from different manufacture. The purpose of this study is to compare two coagulation tubes from different manufactures.

Study is conducted by examining physiological hemostasis/coagulating from same sample using two different tubes, BD Vacutainer Plus plastic coagulation tube and GP Vacutube plastic tube, which both of them use sodium citrat as additive anticoagulant.

Statistical analysis is performed by using SPSS ver 17. Dependent t-test is used to evaluate differences between two tubes and correlation test pearson is used to investigate correlation of PT, INR, and aPTT in both tubes. Results is significantly different if p < 0.05.

There were no significant differences between PT, INR, and aPTT in used of BD tube and GP tube (p> 0.05). Correlation test between PT and INR in used of BD tube and GP tube shows strong, significant, and comparable relationship (r=0.935 and r=0.937). In contrast, correlation test between aPTT shows strong, significant, and comparable relationship (r=0.618).

Keywords: sodium citrat, coagulation testing, additive anticoagulant, plastic tube, 3,2% sodium citrat

 

Abstrak

Pemeriksaan tes koagulasi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain pada fase preanalitik, misalnya penggunaan bahan pembuat tabung dan antikoagulan yang dipakai. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya perbedaan pada pemeriksaan tes koagulasi dengan menggunakan tabung dari pabrik yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan dua tabung koagulasi dari pabrik yang berbeda.

Penelitian dilakukan dengan melakukan pemeriksaan faal hemostasis / koagulasi dari sampel yang sama menggunakan 2 tabung berbeda yaitu tabung plastik BD Vacutainer Plus plastic coagulation tube & tabung plastik GP Vacutube. Di mana keduanya menggunakan sodium sitrat 3,2% sebagai bahan aditi f antikoagulan.

Analisa statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 17. Uji t berpasangan digunakan untuk mengevaluasi perbedaan antar kedua tabung dan uji korelasi pearson digunakan untuk mengetahui kore - lasi antara nilai PT, INR dan aPTT pada kedua tabung. Hasil dinyatakan berbeda bermakna jika p < 0,05.

Ternyata tidak ada perbedaan bermakna antara nilai PT, INR dan aPTT pada penggunaan tabung BD dan tabung GP (p > 0,05). Uji korelasi antara nilai PT dan INR pada penggunaan tabung BD dan tabung GP menunjukkan hubungan yang sangat kuat, bermakna dan searah ( r 0,935 & 0,937), sedangkan uji korela si antara nilai aPTT menunjukkan hubungan kurang kuat, bermakna dan searah (r =0,618)

Kata kunci: sodium sitrat, tes koagulasi, bahan aditif antikoagulan, tabung plastik, 3,2% sodium sitrat

(Anik Widijanti dan Budi Septiawan, Medika 2017, Tahun ke XLIII, No. 2, p. 62- 64)

 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish