Yamazaki N, Koga Y, Taniguchi H, et Al

Oncotarget. 2016 Dec 28

doi: 10.18632/oncotarget.14344

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28036302

 

Pengobatan standar kanker kolorektal tahap II (CRC) adalah operasi reseksi tanp a bantuan kemoterapi. Namun demikian, rasio kekambuhan pasien ini sekitar 20%. Tidak ada penanda alamiah yang kuat untuk memprediksi kekambuhan pada pasien dengan CRC tahap II. Pada studi ini, microRNAs (miRNAs) diekstrak dari jaringan CRC yang diperiksa sebagai kemungkinan menjadi penanda prediksi kekambuhan pada pasien CRC tahap II. Dari analisis komprehensif, sebanyak 15 miRNAs dipilih sebagai kandidat untuk studi lebih lanjut. Mengenai let-7a, -7d, miR-23c, -26b, -128a, -151-5p, dan -181c, tingkat kekambuhan saat pelatihan pasien kohort dengan ekspresi miRNAs lebih tinggi yang diiso lasi dari sampel jaringan bekunya secara signifikan lebih tinggi daripada yang memiliki ekspresi lebih rendah (P < 0,05). Berdasarkan analisis multivariat, ekspresi yang lebih tinggi dari miR-181c dideteksi sebagai faktor prediktif independen kekambuhan (P = 0,001, OR: 9,43, 95% Ci: 2,57-34,48). Hasil ini sama dengan miR-181c yang diekstrak dari jaringan FFPE yang diperoleh dari pelatihan kohort (P = 0,003, OR: 7,46, 95% CI: 1,97-28,57). Dalam validasi kohort menggunakan jaringan FFPE, tingkat kekambuhan pada pasien dengan ekspresi miR-181c yang lebih tinggi secara signifikan lebih tinggi dengan kelompok dengan ekspresi miR-181c yang lebih rendah (P < 0,001). Analisis komprehensif menggunakan kepingan miRNA dengan sensitivitas tinggi pada awalnya dilakukan untuk memilih kandidat miRNAs yang berhubungan dengan kekambuhan. miRNAs terpilih dianalisis menggunakan RTPCR yang menggunakan RNA beku dan yang telah diformalin. Kesimpulannya, tingginnya ekspresi miR181c kemungkinan berguna sebagai predictor kekambuhan pasien CRC tahap II.


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish