Neuschwander A, Lemiale V, Darmon M, et Al.

J Crit Care. 2016 Dec 7; 38:295-299

doi: 10.1016/j.jcrc.2016.11.042

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28038339

 

Tujuan dari studi ini adalah untuk menjelaskan dampak pada pasien kanker yang dirawat karena sindrom gangguan pernapasan (ARDS) dengan ventilasi noninvasive dan untuk melakukan evaluasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kegagalan NIV.Post hoc analisis database multisenter selama 20 tahun telah dilakukan. Seluruh pasien keganasan berdasarkan definisi Berlin ARDS diikutsertakan dalam studi ini. Penggunaan ventilasi noninvasif didefinisikan sebagai NIV yang berlangsung lebih dari 1 jam, sedangkan kegagalan didefinisikan sebagai persyaratan berikutnya ventilasi invasif. Analisa dilakukan dengan analisis regresi logistic mundur secara kondisional. Sebanyak 1.004 subyek dikategorikan ke dalam ARDS. Ventilasi noninvasive digunakan pada 387 pasien (38,6%) dan kegagalan NIV terjadi sebanyak 71%, dengan tingkat kematian di rumah sakit sebesar 62.7%. Tingkat keparahan ARDS ditentukan menggunakan tekanan oksigen arterial sebagiab dan pecahan rasio oksigen yang dihirup (OR 2,20; 95% CI; 1,15-4,19) , infeksi paru (OR, 1,81; 95% CI, 1,08-3,03), dan nilai Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) yang telah dimodifikasi (OR, 1,13; 95% CI, 1,06-1,21) berhubungan dengan kegagalan NIV. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian di rumah sakit adalah kegagalan NIV (OR, 2,52; 95% CI, 1,56-4,07), ARDS parah dibandingkan dengan ARDS sedang (OR,1,89; 95% CI, 1,05-1,19), dan nilai SOFA yang dimodifikasi (OR, 1,12; 95% CI, 1,05-1,19). Kesimpulannya, kegagalan NIV pada pasien ARDS dengan keganasan sering terjad i dan berhubungan dengan keparahan ARDS, skor SOFA, dan infeksi paru yang berhubungan dengan ARDS. Kegagalan NIV berhubungan dengan kejadian kematian di rumah sakit.

 


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish