Recognition and diagnosis of coagulopathy helps to predict damaged cerebral cortex and also mortality rate in patients.  The objective of this study wass to analyze various paramaters that affect the coagulopathy profile in head injury patients. This is a cross sectional retrospective study of severe head injured patients treated in our department. There were 144 patients that fullfill our study criteria through an analysis of medical records. Various parameters were noted such as, history (sex, age, trauma mechanism, helmet use, trauma interval), physical findings (GCS, pupil reaction, hemiparese), radiological findings (Head CT Scan) and laboratory parameters (PT, aPTT, INR and thrombocyte count). The incidence of coagulopathy was seen in 52 patients (36.1%) and PT was the most sensitive laboratory parameter in diagnosing coagulopathy (p=0,001). From the other parameters, only two variables that affect the inciden­ce of coagulopathy in head injured patients, namely trauma interval (p=0,013) and pupil reaction (p=0,027). A thorough clinical examination follwed by coagulation markers (PT, aPTT and thrombocyte count) could practically be used to diagnose coagulopathy in severely head injured patients.

Keywords : coagulopathy, head injury, laboratory parameters

 

Abstrak

Koagulopati merupakan salah satu komplikasi cedera kepala yang disebabkan oleh pelepasan tromb­oplastin setelah kerusakan korteks serebri. Selain parameter laboratorium, temuan klinis dan radio­logis berpengaruh terhadap terjadinya koagulopati pada pasien cedera kepala. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis berbagai parameter yang memengaruhi terjadinya kelainan koagulopati pada pasien cedera kepala berat. Penelitian ini menggunakan studi analitik cross sectional retrospektif pasien cedera kepala berat yang dirawat di bagian bedah saraf pada 2011 – 2013 di mana terdapat 144 pasien yang memenuhi kriteria. Penelitian ini mencatat berbagai parameter seperti riwayat perjalanan penyakit (jenis kelamin, usia pasien, mekanisme trauma, penggunaan helm, interval kejadian trauma); pemeriksaan fisik (GCS, reaktivitas pupil, ada tidaknya hemiparese); hasil pemeriksaan radiologis (CT scan kepala); dan pemeriksaan laboratorium (PT, aPTT, INR, dan hitung trombosit). Angka kejadian koagul­opati sebesar 52 pasien (36,1%) dengan parameter PT merupakan parameter laboratorium paling sensitif untuk mendiagnosis koagulopati (p=0,001). Dari berbagai parameter lain tersebut, yang bermakna secara statistik menentukan kejadian koagulopati adalah  interval kejadian trauma (p=0,013) dan reaktivitas pupil (p=0,027). Mortalitas pasien mencapai 86 pasien (60%), di mana 36 pasien (41%) di antaranya mempunyai koagulopati. Pemeriksaan klinis yang baik disertai kadar koagulasi darah perife­r (PT, aPTT dan Trombosit) dapat digunakan sebagai parameter yang praktis untuk menentukan terjadinya koagulopati pada pasien cedera kepala berat. Penentuan koagulopati ini penting dalam upay­a penatalaksanaan pasien cedera kepala berat yang lebih baik.

Kata kunci: koagulopati, cedera kepala, parameter laboratorium

(Muhammad Z Arifin dkk., Medika 2015, Tahun ke XLI, No. 9, p. 522–525)

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish