Artikel Penelitian

Sikap Pencegahan Penularan TB yang Baik dan Faktor Lain yang Mempertinggi Kesembuhan TB

 

TRI NURY KRIDANINGSIH

Balai Litbang Biomedis Papua

 

Abstract

Tuberculosis (TB) still become a problem in Indonesia. In Papua Province, cure rat still very low, below the national target. The aims of the study  to identify the dominant factors that contributed in TB healing. 

Suspected Obstructive Sleep Apnea  dan Hipertensi pada Orang Dewasa Usia 30–60 Tahun

 

ELLEN*, STEVANUS BRAM*, MARCELLA E. RUMAWAS**,

BUDI KIDARSA**

 

*Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Tarumangara, Jakarta

**Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Tarumangara, Jakarta

 

Abstract

Hypertension is one among the leading problems in Primary Health Center (PHC). Many patients with hypertension have the common symptoms of obstructive sleep apnea, including loud snoring and excessive daytime sleepiness or fatigue. This cross-sectional examined the association between suspected obstructive sleep apnea and hypertension. Seventy men and women aged 30?60 years, who were not taking anti-hypertensive treatment, were consecutively selected among patients attending North Meruya Sub-district PHC, Jakarta, between March 31 and April 05, 2012. Blood pressures were measured according  to the standard protocols.  Symptoms of obstructive sleep apnea were identified  using interview-based questionnaires. Analysis was performed using the Generalized Linear Model.  In this study, among 70 respondents, 33 persons (47,1%) had the symptoms of obstructive sleep apnea and 19 persons (27.1%) had hypertension.  Out of 33 respondents with suspected obstructive sleep apnea, 13 persons (39.4%) were diagnosed with hypertension.  The risk of hypertension was 2.43 significantly higher in respondents who were experiencing obstructive sleep apnea’s symptoms as compared to those who were not (PR=2.43, p-value=0.03).  This significant association intensified but remained significa­nt after adjustment for several other risk factors for hypertension (PR=3.5; p-value=0.03). Early detection and prompt treatment of sleep apnea may reduce the risk of hypertension.

 

Keywords: obstructive sleep apnea, hypertension

 

Abstrak

Hipertensi merupakan salah satu kasus terbanyak di Puskesmas. Diketahui pula bahwa banyak pasien hipertensi yang mengalami gejala obstructive sleep apnea, termasuk mendengkur  saat  tidur sert­a kelelahan  atau  mengantuk berlebihan pada siang hari. Penelitian cross-sectional ini bertujuan untu­k membuktikan hubungan antara  suspected obstructive sleep apnea dengan hipertensi. Tujuh pu­lu­h laki-laki dan perempuan berusia 30-60 tahun  yang tidak mengonsumsi obat antihipertensi  dipilih secara consecutive sampling di antara pasien yang datang ke Puskesmas Kelurahan Meruya Utara, Jakarta, pada 31 Maret – 5 April 2012. Tekanan darah diukur sesuai dengan prosedur standar.  Gejala obstruc­tive sleep apnea diidentifikasi dengan wawancara berdasarkan kuesioner. Analisis statistik denga­n metode Generalized Linear Model. Dari 70 responden, gejala obstructive sleep apnea didapat­kan pada 33 orang (47,1%) dan hipertensi pada 19 orang  (27,1%). Dari 33 responden dengan suspected obstructive sleep apnea, 13 orang (39,4%) didiagnosis hipertensi.  Risiko hipertensi 2,43 kali lebih besa­r pada responden yang mengalami gejala obstructive sleep apnea dibanding yang tidak mengalami­nya (PR=2.43, p-value=0.03).  Hubungan ini menguat dan tetap signifikan setelah faktor risiko lain dari hipertensi disetarakan (PR=3.5; p-value=0.03). Deteksi dini dan pengobatan yang tepat dari sleep apnea dapat mengurangi risiko hipertensi.

 

Kata kunci :  obstructive sleep apnea, hipertensi  

 

(Ellen dkk., Medika 2015, Tahun ke XLI, No. 8, p. 466–472)

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

Kelayakan Tension Free Hernia Repair  sebagai Pilihan Terapi pada Hernia Strangulata yang Memerlukan Reseksi Usus Halus

 

DANNY PRATAMA1,

AGI SATRIA2, TASLIM PONIMAN3

ROFI Y. SAUNAR3

 1Departemen Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

2Divisi Bedah Digestif  Departemen Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

3SMF Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta Selatan, Indonesia

 

Abstract

 

There are three zones  in hernia surgery: white zone, elective hernia where there is consensus on use of mesh ; the black zone in contaminated areas such as in peritonitis where the  consensus is not to position any kind prosthetic material due to a very high risk of infection; and lastly,the grey zone,which includes hernia surgery with possible risk of bacterial contamination, for which the use of prosthetic mesh is avoided.(1) Several studies had shown that strangulated hernia is not a contraindication for the use of mesh, even for case requiring small bowel resection.

Hubungan antara Penggunaan Kontrasepsi Hormonal dengan Kejadian Stroke Iskemik

 

BERNADET DHANNI WULANDARI SARWONO, RIZALDY PINZON, ESDRAS ARDI PRAMUDITA, SUGIANTO

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana/Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta

 

Abstrak

 

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Stroke dibagi menjadi 2 berdasarkan patofisiologinya, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Faktor risiko terjadinya stroke dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Penelitian terdahulu masih menjadi kontroversi.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish