The aim of this study is to evaluate the use of mesh for strangulated hernia, both requiring and not requiring small bowel resection. July 2011 – April 2012, 51 case with strangulated hernia undergoing an emergency surgery at Fatmawati Hospital were evaluated retrospectively. These case were divided base on those requiring small bowel resection (group 1) and those who not (group 2). The variables evaluated were demographic characteristics, duratio­n of surgery, length of stay, post-op morbidity and surgical site infection.  Fifty one case with strangulated hernia, 40 (78,5%) underwent tension free hernia repair using polypropilene mesh, 11 (21,5%) were treated without using mesh. Small bowel resection were done on 10 case (19,6%), the othe­r 41 (80,4%) did not require small bowel resection. Of the 10 case, 6 were repaired using mesh, while the rest underwent delayed repair. No surgical site infection were observed in the group that underw­ent small bowel resection and hernia repair using mesh. Tension free hernia repair using polypropilene mesh, done with special method, can be considered as a treatment alternative for strangulat­ed hernia requiring small bowel resection. 

 

Keywords: strangulated hernia, tension free hernia repair, small bowel resection

 

Abstrak

Ada tiga zona dalam pembedahan hernia, yaitu zona putih pada elektif hernia di mana  ada konsensus diperlukannya mesh, zona hitam pada hernia dengan area kontaminasi seperti adanya peritonit­is di mana ada konsensus tidak menggunakan material prostetik berhubung karena dengan risiko infeksi yang tinggi, dan zona abu-abu yaitu pembedahan hernia dengan kemungkinan risiko konta­mina­si bakterial seperti hernia strangulata yang memerlukan reseksi usus halus yang menyebabkan penggunaan mesh dihindari.Studi terbaru melaporkan bahwa hernia strangulata tidak lagi dianggap kontraindikasi pemasangan mesh, bahkan pada kasus dilakukannya reseksi usus. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penggunaan mesh pada kasus hernia emergensi dengan atau tanpa reseksi usus halus. Sejak Juli 2011 hingga April 2012, dilakukan evaluasi retrospektif sebanyak 51 pasien  hernia strangulata menjalani operasi emergensi di RSUP Fatmawati atau tidak dilakukannya. Pasien dikategorikan berdasarkan dilakukan reseksi usus halus. Karakteristik pasien yang dievaluasi pad­a setiap grup adalah lama operasi, lama rawat, morbiditas pasca-operasi dan infeksi luka operasi. Hasil: dan 51 pasien hernia strangulata dilakukan  tension free repair dengan mesh  polypropilene pada 40 pasien (78,5% ); dan 11 pasien (21,5%) tidak dipasang mesh. Reseksi usus halus dilakukan pada 10 pasien (19,6%), 41 pasien tidak memerlukan reseksi usus (80,4%). Pasien yang menjalani reseksi usus halus 6 orang di antaranya dilakukan dengan mesh, sementara 4 pasien dilakukan delay repair. Tidak dijumpai ada  infeksi luka operasi pada pasien repair mesh dengan reseksi usus halus. Kesimpulan : Perlakuan khusus Tension free hernia repair dengan mesh polyprolene  dapat menjadi pilihan terapi pad­a hernia strangulata, bahkan pada kasus yang memerlukan reseksi usus halus.

 

Keywords: hernia strangulata, tension free hernia repair, reseksi usus halus

 

(Danny Pratama dkk., Medika 2015, Tahun ke XLI, No. 8, p. 458–465)

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish