Karena itulah, diperlukan perawatan klinis atau terapi menggunakan kombinasi obat antidiabetes yang tepat, misalnya sulfonilurea atau metformin. Tema tersebut menjadi salah satu bahasan menarik yang diangkat dalam 8th Diabetes, Obesity & Cardiovascular (DOC) LINK 2014 yang digelar di  Novotel Mangga Dua Square Hotel, Jakarta, 28-31 Agustus 2014. 

“Sekitar 75% pasien penderita diabetes meninggal akibat penyakit kardiovaskular. Penelitian Otter W, et al, juga menyebutkan, dari 28% pasien yang meninggal karena kardiovaskular, sekitar 35% di antaranya penderita diabetes. Sementara, pasien non-diabetes hanya sekitar 22%,” ungkap Prof. Achmad Rudijanto, MD, PhD.

Menurut WHO (2001), kematian akibat penyakit kardiovaskular pada penderita diabetes di beberapa kota besar di dunia, seperti London, Warsawa, Berlin, dan Zagreb, didominasi oleh penyakit jantung iskemik. Selanjutnya penyakit serebrovaskular dan penyakit kardiovaskular lain. 

United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) melaporkan bahwa berkurangnya 1% HbA1c akan menurunkan infraksi miokardinal sebesar 14%, komplikasi mikrovaskular sekitar 37%, dan kematian yang disebabkan komplikasi diabetes lain sebesar 21%. Karena itu, kini telah terbit paradigma baru dalam penanganan pasien diabates, yakni perawatan yang berpusat pada pasien, pemberian kombinasi awal (termasuk pemberian insulin), dan perawatan insulin secara agresif. Prof. Achmad mengingatkan bahwa hiperglikemia dapat menurunkan level insulin, berkurangnya efisiensi penyerapan glukosan pada otot rangka, serta meningkatkan produksi glukosa hepatik. Selain itu, juga menurunkan efek inkretin, meningkatkan sekresi glukosa, meningkatkan free fatty acids, serta tidak berfungsinya neurotransmitter dan meningkatkan reabsorpsi glukosa.

Pada penderita diabetes, langkah awal dan mudah untuk menurunkan kadar HbA1c adalah dengan mengubah gaya hidup. Jika HbA1c masih di atas 7% maka berikan metformin atau sulfonilurea sebagai lini pertama dalam penanganan diabetes. Namun, jika target HbA1c tidak tercapai dalam 3 bulan, lanjutkan dengan pemberian kombinasi dual terapi atau dua obat. Dalam hal ini, metformin dapat dikombinasikan dengan sulfonilurea, Thiazolidine-dione, DPP-4 inhibitor, GLP-1 receptor agonist, dan insulin (biasanya basal). Selain sangat efektif menurunkan hiperglikemia, metformin juga memiliki efek samping minimal yang menyebabkan hipoglikemia, tidak menyebabkan bertambahnya berat badan, dan harganya murah. Secara spesifik, pada otot rangka, metformin dapat meningkatkan penyerapan insulin, meningkatkan glikogenesis, dan menurunkan oksidasi fatty acids. Pada hati, metformin efektif menurunkan glukoneogenesis, glikogenolisis, dan oksidasi fatty acids. Sementara, pada usus dapat meningkatkan metabolisme glukosa anaerobik.

Banyak penelitian yang mengungkapkan keunggulan metformin. Salah satunya adalah penelitian UKPDS mengenai penggunaan metformin pada pasien kegemukan dibandingkan terapi berdasarkan diet konvensional. Dengan metformin, komplikasi akibat diabates dapat diturunkan hingga 42%, dan angka kematian turun hingga 32%. Sementara, infraksi miokardinal turun 39%, stroke 41%, komplikasi mikrovaskular 29%, dan retinal photocoagulation turun hingga 31%. Tidak hanya itu, metformin juga lebih efektif dibandingkan kombinasi sulfonilurea dan insulin. Sebagai obat lini pertama, metformin dapat digunakan, baik sebagai terapi tunggal, ganda, maupun tiga kombinasi. Perkeni Guideline (2011) juga memuat langkah-langkah terapi bagi penderita diabetes berdasarkan kadar HbA1c. Jika kurang dari 7%, cukup lakukan gaya hidup sehat, yaitu dengan menurunkan berat badan, diet, dan olah raga. Jika kadarnya 7-10%, bisa diberikan terapi tunggal, ganda, atau bahkan tiga kombinasi obat. Jika kadar HbA1c melebihi 10% maka selain dengan obat antidiabetes, juga harus diberikan terapi insulin secara intensif, yaitu pemberian insulin basal bersamaan dengan insulin prandial. “Namun, terapi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi pasien. Dalam artian, semua terapi yang diberikan semua bersifat individual,” jelas Prof. Achmad.

Berkaitan dengan keunggulan metformin tersebut, PT Merck Tbk menghadirkannya dengan merek dagang Glucophage®XR. The simple modern metformin ini mampu memberikan tolerabilitas yang baik dan kenyamanan untuk pasien diabetes serta efek samping saluran cerna yang lebih minimal. UKPDS Legacy Effect juga mengungkapkan manfaat jangka panjang terapi metformin lebih dini. Tidak hanya itu, produk ini juga meningkatkan kepatuhan pasien, karena dosisnya hanya sekali sehari, efektif mengontrol gula darah, dan ada inovasi Gelshield Diffusion System yang mengoptimalkan pelepasan metformin memberikan kontrol glukosa darah selama 24 jam. Terapi dengan produk ini secara bermakna menurunkan risiko komplikasi diabetes lebih besar dibandingkan terapi dengan SU atau insulin. 

 (Dian A.)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish