Kelompok kedua adalah pasien yang tidak memerlukan perawatan di ruang intensif atau pasien tidak kritis, misalnya pasien praoperatif atau pasien dengan penyakit tidak gawat. Secara umum, terdapat perbedaan cara pemberian terapi insulin untuk kedua kelompok tersebut. Bagaimana perbedaan keduanya? Jawabannya dibahas dalam “Workshop Insulin Advanceyang diselenggarakan oleh PT Novo Nordisk Indonesia di Hotel Aston Bogor, 28 September 2014, lalu. Workshop yang diikuti oleh para dokter spesialis penyakit dalam ini dibawakan oleh 2 narasumber, yaitu dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD, KEMD, dan dr. Benny Santosa, SpPD, KEMD.

dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD, KEMD, dalam presentasinya berjudul “Insulin Therapy in Hospitalized Critical Patientsmengatakan bahwa komplikasi yang sering terjadi pada pasien diabetes dan menyebabkan kondisi kritis adalah ketoasidosis diabetik (KAD) dan status hiperglikemia hiperosmolar (SHH). “Insiden KAD terus meningkat dan tinggi di negara dengan tingkat pendapatan yang rendah hingga menengah,” ungkap dr.Roy. KAD ditandai dengan kondisi takikardi, hipotensi, hipotermia, gangguan kesadaran, kulit kering, respirasi kussmaul, dan bau aseton pada napas. Gejalanya berupa anoreksia, mual, muntah, rasa kehausan, poliuria, rasa kelelahan, nyeri perut, dan penurunan berat badan. Diagnostik DKA ditegakkan apabila kadar glukosa plasma >250 mg/dl, pH arterial 600 mg/dl, pH arterial >7,30, kadar bikarbonat >18 mEq/L, keton urine tidak ada/sedikit, serum keton tidak ada/sedikit, anion gap bervariasi, dan status mental koma.

“Kasus KAD dan SHH memerlukan diagnosis segera dan manajemen yang intensif,” papar dr. Roy. Prioritas manajemen keduanya dilakukan dengan cara mengoreksi kekurangan cairan, mengoreksi hiperglikemia dengan terapi insulin, manajemen elektrolit seperti potasium dan bikarbonat, identifikasi faktor presipitasi dan pencegahannya, serta monitoring yang ketat kepada pasien. Untuk terapi insulin, kondisi kritis KAD dan SHH membutuhkan terapi insulin secara infus intravena (IV). “Karena kondisi kritis, biasanya pasien tidak sadar dan tidak bisa makan maka perlu insulin IV,” tambahnya. Pemilihan terapi insulin IV didasarkan atas 4 pertimbangan, yaitu onset yang cepat, durasi yang pendek, titrasi yang mudah, dan adanya sirkulasi jaringan yang buruk pada pasien syok.

Insulin Aspart (NovoRapid®) adalah insulin kerja cepat (onset 10-20 menit), biasa disuntikkan sebelum makan. Selain dalam bentuk FlexPen®, Insulin Aspart ini juga tersedia dalam bentuk vial, sehingga dapat diberikan secara IV. Selama 15 tahun, NovoRapid® telah berkontribusi dalam terapi diabetes melitus untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Memilih Insulin Aspart merupakan hal yang tepat untuk berbagai populasi pasien DM. Insulin Aspart ini sudah disetujui penggunaannya untuk pasien DM tipe 1, anak-anak usia di atas 2 tahun, pasien dengan diabetes gestasional & menyusui, emergency treatment, dan insulin pump.

Presentasi selanjutnya disampaikan oleh dr.Benny Santosa, SpPD, KEMD, tentang “Management of Hyperglycemia in Hospitalized Patients in a Non-Critical Care”. Menurutnya, hiperglikemia merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Kondisi tersebut sekaligus menjadi tanda buruknya outcome klinis dan peningkatan kematian pasien dengan atau tanpa riwayat diabetes. Hiperglikemia sering berhubungan dengan outcome klinis seperti kejadian pneumonia, penyakit kulit, sepsis, infeksi pernapasan atas, infark miokard akut, dan gagal ginjal akut.

“Selama dirawat di rumah sakit, pasien dengan hiperglikemia tanpa riwayat diabetes harus diperiksa dengan HbA1c untuk mengonfirmasi diagnosis diabetesnya,” ungkap dr.Benny. Berdasarkan American Diabetes Association (ADA) 2014, kategori peningkatan risiko diabetes (prediabetes) terjadi apabila glukosa plasma puasa ≥100-125 mg/dl (impaired fasting glucose), plasma glukosa 2 jam setelah makan ≥140-199 mg/dl (impaired glucose tolerance), dan nilai A1c 5,7-6,4%. Sedangkan kategori diabetes terjadi apabila glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl, plasma glukosa 2 jam setelah makan ≥200 mg/dl disertai gejala, dan nilai A1c ≥ 6,5%.

Menurut dr.Benny, pada pasien di rumah sakit, terapi anti hiperglikemia yang direkomendasikan adalah terapi insulin, sedangkan obat antidiabetik oral tidak dianjurkan. Untuk pasien yang tidak kritis, pemberian terapi insulin dapat diberikan secara subkutan (SC). Salah satu terapi insulin untuk manajemen hiperglikemia dan diabetes pada pasien tidak kritis yaitu terapi insulin basal.  Jenis insulin analog long-acting seperti insulin detemir (Levemir®) lebih baik digunakan sebagai terapi karena tidak memiliki puncak sehingga risiko hipoglikemia minimal. Terapi insulin subkutan dengan insulin detemir dimulai dengan dosis 10 U atau 0,1-0,2 U/kg satu kali setiap hari pada waktu yang sama. Glukosa darah pada pasien tidak kritis dikatakan telah mencapai target apabila glukosa sebelum makan (KK)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish