Sembilan puluh persen penderita SLE adalah wanita usia subur, meskipun terjadi pada kedua jenis kelamin. Semua usia dan semua etnik dapat menjadi kelompok yang suseptibel. Prevalensi SLE di US (United States) adalah 15-50 per 100.000. Prevalensi lebih tinggi terdapat pada etnik Afrika-Amirika. SLE terutama menyerang wanita muda usia 15-44 tahun dengan rasio laki-laki : wanita adalah 1:5. SLE lebih banyak menyerang wanita dibanding pria, dengan rasio berubah sejalan dengan umur. Pada masa menjelang pubertas, rasio wanita dan pria 3:1, tetapi setelah pubertas rasionya menjadi 9:1. Prevalensi SLE dilaporkan berkisa­r 12,2 per 100.000 penduduk dengan angka mortalitas dan morbiditas yang cukup tinggi, terutama di negara yang sedang berkembang. Di Negara maju, pada 2000 secar­a umum angka harapan hidup 5 tahun penderita SLE meningkat hingga mencapai 90%. Namun, di Indonesia angka umur  harapan hidup masih rendah, yaitu 5 tahun 70% dan 10 tahun 50%.1,2,3,4

Mekanisme patogenik SLE adalah adanya interaksi antara suseptibilitas genetik dan lingkungan yang dapat menimbulkan respons imun abnormal. Jadi, antigen self, oto-antibodi, dan kompleks imun yang ada dalam jangka waktu lama, dapat menimbul­kan inflamasi jaringan sehingga berkembang menjadi penyakit. Berbagai alele gen bertanggung jawab terhadap suseptibilitas penyakit dengan memengaruhi klirens dari sel apoptotik, namun tak ada hipotesis yang pasti mengenai patogenesis SLE. Wanita yang mendapatkan estrogen dari penggunaan kontrasepsi dapat meningkatkan risiko terjadi­nya SLE. Berbagai rangsangan dari lingkungan dapat memengaruhi SLE, ekspos dengan sinar ultraviolet menyebabkan flare pada 70% kasus SLE, juga berbagai virus misalnya Ebstein Barr virus (EBV) dapat men­ja­di pencetus terjadinya SLE pada individu yang suseptibel.3,4

 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya... 

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish