Dalam rangkaian simposium ASEAN Federation of Endocrine Societies 2013 di Jakarta,  Prof. Sarwono Waspadji berbicara mengenai “Global Cardiovas­cular Risk Assesment ”. Strategi yang efektif untuk pencegahan diabetes komplikasi kardiovaskular mencakup pencegahan gangguan toleransi glukosa, pencegahan perkembangan toleransi glukosa terganggu menjadi diabet­es tipe 2, serta modifikasi gaya hidup. Dalam hal ini, pasien harus didorong untuk menurunkan berat badan jika perlu, berolah raga, dan makan sehat. Hal lain yang penting yaitu peresepan obat dengan tepat.

Lebih lanjut disampaikan tentang program diabetes untuk skrining kardiovaskular. Prof. Sarwono mengatakan bahw­a komplikasi kardiovaskular kronis diabetes serius dan merusak. Namun, hal tersebut dapat dicegah. Untuk itu, diperlukan penilaian global program skrining kardiovaskular sebagai langkah pencegahan. Ada banyak kalkulator risiko kardiovaskular yang ada, masing-masin­g memiliki kegunaan khusus dengan manfaat dan jug­a kekeliruan. Namun, belum ada yang sesuai untuk semua keadaan.

Salah satu di antaranya adalah skrining global untuk semu­a faktor risiko komplikasi kardiovaskular diabetes, dengan skor risiko Framingham. Mesin/ kalkulasi risiko berdasarkan Framingham Heart Study cen­derun­g kurang mewakili bagi penderita diabetes, karena subje­k diabetes pada penelitian ini relatif sedikit. Sedangkan kalkulasi risiko dari UKPDS (United Kingdom Prospective Diabetes Study) merupakan kalkulator risiko spesifik untuk diabetes tipe 2, berdasarkan dat­a tahunan 53.000 pasien diabe­tes dari studi tersebut. Mesin ini juga memberikan perkiraan “margin of error” untu­k masing-masing estimasi. Namun demikian, mesin risiko UKPDS didasarkan pada studi kohort jangka panjang di Inggris. Ini mungkin tidak sesuai untuk bangsa lain. Data ASEAN akan lebih tepat dan cocok untu­k penderita diabetes ASEAN. Menurut Prof. Sarwono, hal ini yang menjadi tantangan dalam upaya pencegahan kardiovaskular di kawasan ASEAN.

1404-keg11-penilaianDalam kesempatan yang sama, pembicara yang berasal dari Thailand, Prof. Chaicharn Deerochanawong, menyampaikan tentang “Management of Global Cardiovascular Risk Factors. Pengelolaan diabetes dan komplikasi kardiovaskular dilakukan melalui pendekatan holistik dan terapi individual.

Diabetes mellitus tipe 2 dikaitkan dengan peningkatan risiko yang signifikan dari mik­rovaskuler dan makrovaskuler. Meskipun kebanyakan studi telah berfokus pada komplikasi mikrovaskuler diabetes (misalnya, nefropati, neuropati, retinopati), kebanyakan pasien dengan DM tipe 2 meninggal karena pe­nyebab­ yang terkait dengan pe­nyakit makrovaskuler (misalny­a, infark miokard). Kontrol glike­mik yang buruk meningkatkan risiko kejadian kardiovaskuler di masa depan. Studi prospektif pasien dengan tipe 1 dan tipe 2 DM telah menunjukkan bahwa ke­jadia­n komplikasi vaskular dapat dikurangi dengan modifikasi gaya hidup atau obat yang mengu­rangi konsentrasi glukosa darah.

Sampai saat ini, pengobatan agresif hiperglikemia belum mampu mengurangi penyakit kardiovaskular. Ketika HBA1c di bawah 7%, tidak ada manfaat yang terlihat. Manfaat dari kontr­ol glikemik yang ketat butu­h waktu 5-10 tahun untuk dapat bermanfaat pada penurunan glukosa darah dengan risiko hipoglikemia dan efek samping obat. Manfaat tersebut hanya dapat terlihat pada orang yang baru sakit. Apabila terapi agresif dipertahankan pada orang yang tidak merespons maka dapat menyebabkan kerusakan. Hipoglikemia berat menyebabkan perpanjangan interv­al QT pada pasien diabetes tipe 2. Perpanjangan interval QT secara signifikan dapat mening­katkan risiko aritmia.

Rekomendasi ADA (2013) menggunakan aspirin sebagai pencegahan primer kejadian kardiovaskular pada diabetes. Namun, bukti yang mendukung masih jarang. Rekomendasi tersebut tampaknya didasarkan terutama pada ekstrapolasi data dari kelompok risiko tinggi lain, bukan sepenuhnya dari data dengan kriteria yang berasal dari studi khusus pasien diabetes. Sejumlah data menunjukkan bahwa efektivitas terapi antiplatelet pada pasien dengan diabetes cenderung lebih rendah dibanding pada individu tanpa diabetes.

Potensi manfaat terapi metfor­min pada kejadian kardiov­askular untuk pasien berisiko tinggi telah ditunjukkan dalam sebuah penelitian. Efek metformin dibandingkan de­nga­n glipizide pada kejadian kardiovaskular pasien diabetes tipe 2 dan penyakit arteri koroner. Pada akhir studi, kedua kelompok mencapai penurunan yang signifikan dalam tingkat hemoglobin terglikosilasi (7,1% pada kelompok glipizide dan 7,0% pada kelompok metformin). Hasilnya menunjukkan bahwa pengobatan dengan metformin selama 3 tahun secara substansial mengurangi kejadian utama kardiovaskular (95% CI 0,30-0,90; P= 0,026) dibandingkan dengan glipizide, yang diikuti rata-rata 5 tahun.

Dalam hal lain, keberhasilan jangka panjang terapi metformin terjadi pada individu non-obesitas dengan diabetes tipe 2, yang dianalisis dari data dasar pasien yang dirawat di rujukan pusat di Sydney, Australia. Pasien dengan diabetes tipe 2 dan data HbA1c lengkap, diobati dengan metformin atau sulfonilurea monoterapi untuk setidaknya tiga kunjungan sebelum me­nerim­a terapi oral ganda (n=644). Kemudian dilakukan analisis indeks massa tubuh (IMT) dan obat jenis oral. Dari hasil penelitian disimpulkan bahw­a metformin mempunyai efektivitas yang sama pada individ­u normal dan kelebihan berat badan (obesitas). Pene­litian tersebut menunjukkan evide­nce based untuk mendukung penggunaan metformin pada pasien obesitas dengan diabe­tes tipe 2. Komposisi metfor­min terdap­at dalam Glucophageâ XR, sedangkan Fixed Dose Combination (FDC) metformin dan sulfonylurea ter­kandung dalam Glucovanceâ. Kedua produ­k tersebut dipasarkan PT. Merck Tbk.

Manajemen hiperglikemia pada diabetes merupakan sebua­h pendekatan yang ber­pus­at pada pasien. Artinya, penting untuk menentukan targe­t pengobatan dan rejimen pengobatan sesuai dengan kebutu­han pasien.  (Wika)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish