14.07-KEG2-GBR2Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan mikroba strain lama masih terus terjadi. Di sisi lain, mikroba strain baru terus bermunculan dan menjadi penyakit baru infektif. Bagai­manapun, penyakit infeksi, baik Community-acquired infection (CAI) maupun infeksi noso­komia­l atau Hospital-acquired infection (HAI), jika sudah menca­pai tahap akut dan kronis dapat menurunkan produktivitas dan kreativitas masyarakat. Tingginya angka kejadian infeksi menyebabkan penggunaan antibi­otik sebagai salah satu obat untuk anti-infeksi tidak dapa­t dihindari. Antibiotik adalah sekelompok senyawa yang bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) atau menyebabkan kematian bakteri (bakterisidal). Namun, sejak pertama kali ditemukan pada 1927 oleh Alexander Flemming dalam bentuk penisilin, bakteri secara alami beradaptasi untuk menjadi resistan dan tetap mampu bertahan hidup, meski dengan kehadiran antibiotik. Resistansi bakteri ini disebut dengan istilah Multidrugs Resistant (MDR) yang mengacu pada resistansi suatu bakteri terhadap lebih dari 3 antibiotik. Karena itu, pemilihan antibiotik yang tepat dan benar memiliki peran penting dalam mencapai kesembuhan pasien.

Generasi antibiotik pun terus bermunculan dan salah satu jenis antibiotik yang sering digunakan adalah sefalosporin. Sefalosporin termasuk golongan antibiotik betalaktam. Seperti antibiotik betalaktam lain, sefalosporin bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel mikroba. Yang dihambat adalah reaksi transpeptidase tahap ketig­a dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Sefalosporin aktif terhadap kuma­n gram-positif dan gram-negatif, tapi spektrum masing-masing derivat bervariasi.

Hingga tahun 2006, sudah ada 4 generasi sefalosporin. Perbedaan generasi sefalosporin ini didasarkan pada aktivitas mikroba dan secara tidak langsun­g sesuai dengan urutan masa pembuatannya.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika berbagai perusaha­an farmasi ternama di Indonesia mengeluarkan produk antibiotik unggulannya. Salah satunya dapat dilihat pada pamer­an stan Kongres Nasional IV Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (PABI) -Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan (P2B2) XI 2014 yang digelar di Trans Luxury Hotel, Bandung, 15-17 Mei 2014. Pada pameran stan tersebu­t, PT Pharos Indonesia turut serta dengan menghadirkan rangkaian produk antibiotik sefalosporin generasi ketiga, yaitu seftriakson (Intrix® Ceftriaxone 1 g) dan Seftazidim (Pharodime® Ceftazidime 1 g). 

cepat menurunkan demam, waktu terapi relatif singkat, serta dapat digunakan pada anak-anak dan ibu hamil. Selain itu, juga efektif untuk infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran kemih, infeksi tulang dan sendi, gonore, septikemia, dan profilaksis. Hadir dalam kemas­an boks, 1 vial @ 1 g.

Sedangkan seftazidim merupakan antibiotik sefalosporin semisintetik yang bersifat bakterisidal. Mekanisme kerjanya dengan menghambat enzim yang bertanggung jawab terhadap sintesis dinding sel. Secara in vitro, seftazidim dapat memengaruhi mikroorganisme dalam spektrum yang luas, termasuk strain yang resistan terhadap gentamicin dan aminogli­kosid lain. Selain itu, seftazidim sangat stabil terhadap sebagian besar betalaktamase, plasmid, dan kromosomal yang secara klinis dihasilkan oleh kuman gram-negatif sehingga aktif terhadap beberapa strain resistan ampisilin dan sefalosporin lain. Indikasinya terutama sebagai anti-pseudemonas dan infeksi yang disebabkan kuman yang susceptible, seperti septicemia, peritonitis, meningitis, infeksi saluran pernapasan bawah, infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan jaringan lunak, serta infeksi tulang, dan sendi. Hadir dalam kemasan boks, 1 vial @ 1 g. u (Dian A.)

 


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish