14.05-KEG8-GBR1Oleh karena itu, sangat pen­ting untuk melakukan diag­no­sis dini dan manajemen pasien diabetes dengan terapi yang tepat untuk mengontrol kadar glukosa darah sehingga terhindar dari komplikasi diabete­s.

Berangkat dari pemahaman mengenai kondisi komplikasi diab­etes tersebut maka pada 29 Maret 2014 diselenggarakan Diabetes Master Class 2014 dengan tema “Exploring Dia­betes Frontiers in Complications Management”. Acara ini diikuti olehpara dokter penyakit dalam dan narasumber ternama di bidangnya. Dalam acara ilmiah ini, para peserta diberikan kesempatan untuk membawakan kasus pasien yang ditemui sehar­i-hari untuk didiskusikan secara langsung dengan panel ahli.

Manajemen diabetes menjadi salah satu kelas terapi yang paling banyak mengalami kemajuan dengan terus bertambahnya modalitas terapi. Sebut saja ada inhibitor DPP-IV, agonis resep­tor GLP-1, dan yang akan segera hadir adalah agen SGLT-2. Di tengah banyaknya pilihan kelas obat terbaru, dimana posisi insulin? Kapan dan bagai­ma­na pemilihannya untuk manajemen pasien diabetes di klinis seha­ri-hari? Prof. DR. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD, menjelaskan mengenai rekomendasi ADA untuk pasien DM tipe 2 yang baru terdiagnosis disertai gejala khas DM, dimulai dengan terapi insulin, khususnya insulin basal, dengan atau tanpa kombinasi obat lain.Prof. Suastika menunjukkan hasil penelitian EASIE (Evaluation of Insulin Glargine Versus Sitagliptin in Insulin-Naïve Patients) bahwa pasien yang diberikan insulin glargine dari awal, lebih banyak yang mencapai target HbA1c dan glukosa darah puasa serta glukosa darah post-prandial dibandingkan dengan pasien yang diberikan sitagliptin. Dari segi efek samping yang berkaitan dengan obat yang diberikan, kelompok pasien dengan insulin glargine mengalami 15% lebih sedikit efek samping dibanding pasien dengan sitagliptin. Meski­pun angka hipoglikemia lebih tinggi pada kelompok insul­in glargine, angka kejadian secara klinis tetap rendah pada kedua kelompok pasien. Prof. Suastika menekankan penting­nya pemilihan terapi diabetes bergantung pada individu pa­sien yang kita hadapi, dengan mene­rap­kan pola “Patient-centricity.

Sementara itu, pentingnya kontrol gula darah untuk men­cegah komplikasi dibawakan oleh Dr. Soebagijo Adi, Sp.PD-KEMD. Banyak studi yang menunjukkan pentingnya penggunaan insulin pada komplikasi mikrovaskular (nephropathy, retinopathy dan neuropathy), namun penggunaan insulin dan pengaruhnya pada komplikasi makrovaskular masih menjadi isu kontroversial sampai se­karang. Dr. Soebagijo menunjukkan data ORIGIN yang mene­rangkan bahwa penggunaan awal insulin glargine pada pasien dysglycemia selama lebih dari 6 tahun mempertahankan kadar glukosa darah mendekati nilai normal, dengan efek netral pada kejadian kardiovaskular. Belajar dari pengalaman studi observasional UKPDS, penurunan angka kejadian makro­vaskular (infark miokardial) baru terlihat pada 20 tahun setelah studi dimulai. Oleh karena itu, akan lebih baik jika efek insulin glargine pada kejadian makro­vaskular ditindaklanjuti dalam kurun waktu yang lebih panjang dari 6 tahun pada studi ORIGIN.

Pada sesi selanjutnya, Dr. Marulam Panggabean, Sp.PD-KKV, Sp.JP, menyampaikan hasil studi berjudul “Pengaruh Kadar Glukosa Darah Saat Perawatan pada Mortalitas Penderita Sindrom Koroner Akut” yang dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo pada 2012. Studi ini menunjukkan bah­wa 30% pasien SKA (Sindrom Koroner Akut) mengalami kondisi hiperglikemia. Angka survival pasien SKA dengan kadar gula darah terkontrol dibawah 180mg/dl adalah 5,14 bulan; lebih panjang dibanding pasien dengan kadar gula darah diatas 180mg/dl, yaitu 3,34 bulan. Studi ini menunjukkan penting­nya kontrol glukosa darah pada pasien dengan gangguan kardio­vaskular. Insulin menjadi modalitas terapi yang dianjurkan untuk regulasi gula darah sesuai target 140 – 180 mg/dl. Dr. Marulam juga memaparkan studi ORIGIN-GRACE yang merupakan ekstensi dari studi ORIGIN mengenai penggunaan insulin glargine pada pasien dysglyc­emia dengan risiko tinggi kejadian kardiovaskular.Hasilnya menunjukkan pada pasien dyslyc­emia dengan penyakit kardio­vaskular dan/atau memiliki faktor risiko kardiovaskular, penggunaan insulin glargine mengurangi ketebalan karotid intima-media (CIMT) pada kelompok pasien dengan risiko tinggi kardiovaskular.

Dari sisi nephrologi, dr. Pranawa, Sp.PD-KGH, mene­kan­kan pentingnya diagnosis dini nefropati diabetik. Menjadi menarik bahwa seiiring dengan semakin dini diagnosis diabetes dan perbaikan manajemen un­tu­k mengontrol kadar glukosa pasien diabetes, angka harapan hidup pasien makin memanjang dan semakin banyak pasien yang akhirnya menjalani hemodialisis. Karena itu, diagnosis dini menjadi poin kritis dalam manajemen nefropati diabetik. GFR atau Creatinine clearance yang dahulu menjadi tolok ukur diagnosis nefropati menjadi kura­ng bermakna dan sekarang digantikan oleh pemeriksaan mikroalbuminuria, yang timbul akibat peningkatan tekanan ka­piler sampai 45 mmHg (tekanan kapiler normal 35mmHg) dan hilang­nya muatan negatif dari glomerular basal membrane.

Berkaitan dengan cuci darah, studi IDEAL memban­ding­kan cuci darah yang dimulai awal (nilai eGFR 10–14 ml/ menit/1,73m2) tidak menunjuk­kan perbedaan bermakna dari pertambahan survival pasien dan alih-alih menambah beban biaya dibandingkan dengan cuci darah yang dimulai terlambat (nilai eGFR 5 – 7 ml/menit/ 1,73m2). Karena itu, cuci darah ideal dapat dipertimbangkan pada pasien dengan hasil eGFR 9–6 ml/menit/1,73m2. Sedang­kan pengawasan ketat diperlukan pada pasien diabetes atau dengan perburukan fungsi ginjal lebih cepat dari 4 ml/menit/ tahun. Acara ini ditutup dengan diskusi dan panel ahli yang membahas studi kasus pasien nyata yang dibawakan oleh pesert­a. (dr. Andi Marsali)

 


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish