Pada tahun ini, tema yang diusung PIPKRA adalah “Bridging Knowledge and Skills in Respiratory Medicine.Acara dihadiri oleh sekitar 1.050 peserta dari seluruh Indonesia yang terdiri dari dokter umum, spesialis, dan Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Pembicara yang dihadirkan adalah para ahli di bidang pulmonologi dan kedokteran respirasi, baik dari dalam maupun luar negeri.

14.04-KEG1-GBR1

Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Wiwien H. Wiyono, M.D., Ph.D. Beliau mengatakan bahwa PIPKRA merupaka­n acara rutin yang diselenggarakan sejak 2003. “Tahun ini, PIPKRA terselenggara untuk yang ke-12 kali,” ungkapnya. Kegiatan ilmiah ini diselenggarakan dalam rangka membahas masalah kesehatan di bidang pulmonolo­gi dan kedokteran respirasi yang saat ini semakin kompleks dan jumlah kasusnya semakin banyak. Tujuan PIPKRA yaitu meningkatkan kemampuan pelayanan dokter penyakit paru maupun dokter umum sejawat lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan di bidang pulmonologi yang terukur, valid, dan aplikatif.

“Kita diingatkan di depan mata kita, sinabung dan kelud. Itu tanggung jawab kita semua, terutama PDPI di wilayahnya masing-masing,” tegas Prof. Wiwien. Abu yang dikeluarkan oleh letusan gunung tersebut akan me­nye­babkan dan menambah masalah kesehatan, terutama kesehatan paru dan respirasi.

Harapan beliau adalah ilmu yang diperoleh dari PIPKRA dapat diaplikasikan pada hal-hal yang sifatnya aktual seperti bencana alam dan lainnya yang langsung ber­kaitan dengan masalah respi­rasi dan berhubungan de­ngan kesehatan masyarakat.

Dalam sambutan ke­dua­nya, Direktur Umum Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH, menyampaikan bahwa RSUP Persahabatan seba­gai rumah sakit rujukan nasional di bidang pela­yanan kesehatan respirasi di Indonesia mendukung penuh penyelenggaraan PIPKR­A ini. Secara umum, RSUP Persahabatan mendukung baik secara ilmiah maupun praktisi hal-hal yang berkaitan dengan pulmonologi dan kedokteran respirasi di tingkat nasional. Oleh karena itu, RSUP Persahabatan juga memerlukan dukungan bersama berbagai pihak agar mampu memfasilitasi pelayanan respir­asi secara nasional.

Sambutan ketiga di­ba­wa­kan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang diwakili oleh dr. Ponco Birowo, Sp.P, Ph.D. Menurutnya, masalah paru merupakan salah satu tantangan nasional. Hal ini karena Indonesia merupa­kan negara tropis yang memiliki tingkat infeksi tinggi. Kondisi ini diperburuk oleh kombinasi keadaan sosial, lingkungan, serta pola hidup yang tidak sehat. Bahkan, menurut data interna­sional, diperkirakan pada 2020 sekitar 9 juta dari 68 juta kematian di dunia diakibatkan oleh pe­nya­kit paru. “Tentu saja ini menguatkan fakta bahwa masalah paru adalah masa­lah global,” tambahnya.

Dokter Ponco menyampaikan bahwa penelitian selam­a ini yang semakin dalam dan didukung kemampuan teknologi telah meningkatkan pemahaman kita tentang penyakit hingga tingkat biomolekuler. Pengembangan penelitian yang telah dicapai tersebut perlu disosialisasikan ke pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia agar dapat memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Di samping itu, dengan banyaknya jumlah dan ragam kasus yang kita miliki, sudah seharusnya pusat pelayanan paru di Indonesia juga menjadi pusat penelitian yang meng­hasilkan terobosan baru untuk pulmonologi dan ilmu kedokteran respirasi. Di akhir sambutannya, wakil dekan FKUI tersebut membuka secara resmi PIPKR­A 2014 dengan dita­bu­h­nya gong secara ber­sama-sama oleh ketiga pem­baca sambutan tersebut.

Pembukaan PIPKRA ini juga menghadirkan Sekre­ta­ris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, dr. Supriyan­toro, Sp.P, MARS, sebagai keynote speakers yang menyampaikan pembahasan mengenai sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sebelum memasuki topik tentang JKN, dr. Supriyantoro menyampai­kan bahwa sebagai komunitas paru, kita harus mempunyai kepedulian terhadap upaya kesehatan promotif dan preventif serta upaya kesehatan masyarakat. “Jadi, kita tidak hanya meliha­t paru dari gejala klinisn­ya, tetapi melihat bagaimana lingkungan yang semakin tinggi tingkat paparannya oleh berbagai zat kimia. Itu harus menjadi kepedulian kita,” tegasnya. Harapan beliau, dokter tidak hanya menangani kurati­f, tetapi harus bisa berkiprah dan memiliki kepedulian terhadap ling­kungan. Misalnya, dengan cara memberikan kontribusi dengan penelitian-peneliti­an yang mendukung untuk meng-goal-kan FCTC (Frame­work Convention on Tobacco Control) atau penelitian-penelitian lain untuk masalah kesehatan yang berhubungan dengan gangguan kesehatan akibat rokok.

Dalam presentasinya mengenai JKN, dr. Supriyan­toro mengatakan bahwa kebijakan mengenai JKN pad­a dasarnya adalah amanat undang-undang. Pemerintah ingin agar se­luru­h penduduk, termasuk warga negara asing yang tinggal 6 bulan di Indonesia, terpenuhi kebutuhan dasar­nya. Selanjutnya, sistem JKN harus menguntungkan 3 pila­r utama, yaitu pasien, fasilitas kesehatan, dan pe­nyelenggaranya, yaitu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Berbicara tentang sistem pembayaran paket di fasilitas kesehatan, dr. Supriyantoro berpesan kepada PDPI untuk segera melengkapi clinical pathway di bidang paru. Hal ini karena akan menjadi dasar untuk perhitungan, sekaligus menjadi dasar pelayanan standar bagi pasien. Diha­rap­kan ada kerjasama dari tim PDPI dan institusi pendidikan sehingga dalam melengkapi clinical pathway tersebut dapat sesuai eviden­ce based yang ada. (KK)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish