Umumnya, DE ditemukan pada pria berusia lebih dari 40 tahun. Hampir 39% pria dengan DE yang berusia 40 - 70 tahun memiliki tingkat keparahan (gradasi) sedang dan berat, sedangkan sebanyak 52% keparahannya ringan sampai berat. Studi terbaru di Amerika Serikat menemukan bahwa 24 dari 1.000 pria tercatat sebagai kasus baru. Merujuk data WHO, diperkirakan di akhir 2025 sebanyak 322 juta pria di dunia akan mengalami DE.

1311-keg-13-harapanPeningkatan prevalensi DE yang terus-menerus menjadi kekhawatiran. DE banyak di­te­mu­kan pada tingkat keparahan sedang dan berat. Hal ini me­nun­jukkan kurangnya kepedulian individu untuk melakukan deteksi lebih dini. Seperti diungkapkan dr. Ponco Birowo, SpU, PhD, “Bila DE dideteksi lebih dini maka terapinya relatif lebih mudah”. Terapi peng­obat­a­n DE telah mengalami kema­juan, mulai dari terapi minum obat sampai terapi non-obat minum (alat pompa va­kum, obat suntik, dan operasi).  “Beberapa hal baru dalam terapi disfungsi ereksi di antaranya adalah ditemukannya obat minum yang baru dan terapi gen. Namun, kedua hal tersebut masih terbatas pada uji coba, belum dapat dijadikan suatu bentuk terapi yang teruji. Terapi terbaru dalam bidang disfungsi ereksi yang sudah dilakukan uji cobanya adalah LIESWT (Low- Intensity Extracorporeal Shock­wave Therapy),” lanjutnya.

Terapi LI-ESWT atau terapi kejut (penembakan) berbeda dengan terapi lain. Terapi yang menggunakan gelombang intensitas rendah ini merupakan inovasi yang unik karena dapat mengembalikan kemampuan ereksi spontan tanpa operasi atau non-invasif, serta tidak menimbulkan nyeri. Selain itu, pasien mempunyai harapan, tanpa perlu mengonsumsi obat apabila akan melakukan hu­bunga­n seksual. “Penggunaan LI-ESWTsebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1980-an untuk penatalaksanaan batu ginjal, lalu digunakan untuk ortop­edi pada tahun 1990-an dan kardiologi pada tahun 2000. Teknik LI-ESWT pada dasar­nya dilakukan dengan penem­bakan gelombang kejut intensitas rendah yang akan menimbulkan shear stress sehing­ga berdampak positif dengan terbentuknya pembuluh-pembuluh darah baru,” papa­r Dr. dr. Nur Rasyid, SpU dalam kesempatan yang sama.

Lebih lanjut, Nur Rasyid menjelaskan bahwa telah dilakukan sebuah studi ESWT (2010) pada bidang urologi. Sampel penelitian ini adalah pria yang merespons dengan baik obat-obatan oral (PDE 5i). Setelah obat berhenti diberikan selama sebulan, lalu mulai dilakukan penembakan ESWT pad­a penis (di puncak, tengah, dan pangkal) sebanyak 12 kali. Penembakan ESWT dberikan selam­a 9 minggu yang terdiri dari 2 kali seminggu pada 3 minggu pertama, lalu istirahat 3 minggu. Setelah itu, dilakukan kembali penembakan selama 3 minggu. Selanjutnya, dilakukan perhitungan skor kekerasan ereksi. “Hasilnya cukup tinggi pada rata-rata setelah 8 tembakan.  Sekitar 70 persen dari sampel merespons dengan baik terapi ini dan 50% dapat kembali ereksi spontan tanpa obat,” demikian dikatakan Nur Rasyid. Ia menambahkan, “Pada penelitian selanjutnya yang bersifat random, didapati bahwa dari pria dengan DE yang merespons dengan baik terhadap obat oral, sebanyak 70% merespons de­nga­n baik dan dapat melakukan ereksi spontan tanpa peng­obata­n”.  Penelitian lanjutan jug­a dilakukan pada sampel yang tidak merespons dengan baik terhadap obat oral (DE deraja­d berat). Setelah dilaku­kan penembakan, sebanyak 30 persen pria dapat terjadi ereksi tanpa minum obat, dan 40% berhasil ereksi kembali dengan minum obat oral PDE5i. Pene­litian follow up dilakukan 6 bula­n kemudian, LI-ESWT tetap memberikan hasil yang baik, yaitu dari 191 orang yang ditera­pi, 47 persen merespons dengan baik. “Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa LI-ESWT memberikan harapan baru pada pasien DE, yaitu kesembuhan tanpa obat,” ujar Urologi senior ini diakhir penjelasannya.

Sebuah harapan diutarakan Prof. dr. Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K), FCCP, yang turut hadir dalam press conference ini, “Diharapkan LI-ESWT akan menja­di salah satu unggulan dalam pengobatan terapi DE”. Terapi dengan alat gelombang kejut berintensitas rendah ini dapat memperbaiki aliran darah ke pe­ni­s. Sebuah terapi revolusio­ne­r tanpa tindakan invasif dan memberi harapan kesembuhan tanpa minum obat. (Wika)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish