Seberapa jauhkah orang sakit yang tidak diwajibkan berpuasa? Apakah penyandang diabetes masuk dalam kategori tersebut?. Selasa, 2 Juli 2013 diselenggarakan acara Temu Media dengan tema “Kelola Diabetes Anda Secara Tepat Selama Berpuasa!” yang bertempat di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Dalam acara tersebut, Dr. dr. Em Yunir, SpPD, KEMD yang menjabat sebagai Sekjend PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) sekaligus se­bag­­ai pembicara, mengungkapkan bahwa pada penyakit metabolik seperti diabetes, jika tidak dijaga perubahan modifikasi pengobatan, maka bisa menyebabkan berbagai macam komplikasi. “Banyak para diabetisi yang nekat berpuasa dengan alasan religius tanpa mengetahui kontrol kadar gula darah mereka,” ungkap Dr. Yunir.

Lebih lanjut Dr. Yunir mengatakan bahwa ada suatu kondisi dimana seseorang harus mengetahui mekanisme keseimbangan kadar gula dalam darah pada saat naik ataupun pada saat turun, yang seringkali dipengaruhi oleh 2 hormon, yaitu hormon insulin dan hormon glukagon. Ketika gula darah naik, insulin akan dikeluarkan secara perlahan dari pankreas, kemudian insulin akan memasukkan gula ke dalam otot atau liver untuk disimpan, sehingg­a gula darah akan turun. Pada waktu berpuasa, sekitar jam 10 pagi dan tidak

ada pemasukkan makanan, maka gula darah akan turun, lalu di dalam pankreas akan dikeluar­kan hormon yang dinamakan hormon glukagon. Jadi, jika seseorang berpuasa dan pada saat itu pula tidak ada pemasukkan makanan, maka masih ada hormon lain yang berfungsi memproduksi gula yang sebelumnya disimpan di dalam hati atau lemak, yaitu hormon glukagon.

Pada orang normal, akan terjadi keseimbangan, gula da­rah turun sedangkan gluka­gon meningkat, maka akan mensti­mulasi liver untuk mengeluarkan gula cadangan, kemudian gula darah akan naik lagi dan akan terjadi secara seimbang. Pada penyandang diabetes, kadar insu­lin berkurang, sedangkan glukagon naik, sehingga meka­nisme ini menjadi terganggu. Pada waktu gula darah masuk, produksi insulin rendah, dan gul­a darah akan naik.

Ketika para diabetisi ber­puasa, sumber energi akan diambil dari cadangan glikogen hati, pada saat makan, gula darah akan disimpan di dalam hati untuk cadangan; pada siang hari akan dikeluarkan untu­k mencegah terjadinya hipog­likemia. Selain itu, saat berpuasa kadar hormon gluka­gon terlalu tinggi dan ter­kadang naik turunnya menjadi tidak terkendali. Apalagi jika ada intervensi obat-obatan lain yang dikonsumsi oleh para diabetisi. “Obat yang seharusnya dikonsumsi saat sahur, kemudian dia lupa, diminum saat berbuka yaitu pada waktu maghrib, atau obat yang biasanya dikonsumsi pada waktu berbuka, tiba-tiba teringat saat sahur, sehingga semuanya akan kacau balau,” ungkap Dr. Yunir mengenai pola konsumsi obat-obatan para diabet­isi saat berpuasa. Jika hal tersebut terjadi, maka akan menimbulkan gangguan keseimbangan, baik keseimbangan terhadap pola makan maupun pada pola konsumsi obat-obatan lainnya. Ini semua terjadi bukan hanya pada saat puasa Ramadhan, tetapi juga terjadi pada puasa hari lainnya. Sedang­kan pada diabetes berat, puasa akan menyebabkan pemec­ahan glikogen lebih besar tetapi cadangan berkurang, sert­a akan terjadi pemecahan lemak yang berlebihan.

Beberapa petunjuk umum pun diberikan oleh Dr. Yunir agar para diabetisi bisa melaksanakan puasa dengan nyaman, diantaranya pemeriksaan gula darah beberapa kali sehari (khususnya pada DM tipe 1 atau tipe 2 yang mendapat insulin atau sulfonilurea), mengetahui risiko yang akan terjadi dan cara mengantisipasinya, waktu sahur dianjurkan mendekati saat imsak, merubah jadwal, jumlah dan jenis makanan. Melakukan penyecekan gula darah pada hari-hari pertama puasa, yaitu saat sebelum sahur, dua jam sesudah sahur, jam 12.00 siang, dan menjelang buka puasa. Pengaturan pola makan bagi para diabetisi saat berpuasa tidak terlalu berubah drastis. Perbanyak minum pada malam hari dan sahur mendekati saat imsak, adalah dua hal penting yg harus dijalani. Pada saat sahur, tetap mengonsumsi karbohidrat kompleks, dan pada saat berbuka, disarankan untuk memperbanyak konsumsi jenis karbohidrat sederhana dan menghindari makanan yang terlalu banyak mengandung karbohidrat kompleks dan lemak.

“Ada saat-saat dimana seoran­g diabetisi harus mem­batal­kan puasanya, yaitu saat terjadi hipoglikemia dimana gula darah (Nizar)

 


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish