1307-Keg-peran-SODKerusakan DNA menimbul­kan peningkatan mutasi dari mito­kondria yang akhirnya meng­a­kibatkan disfungsi mito­kon­dria. Pada kondisi lain, ROS pada sel endotel  meningkat sehin­gga menyebabkan berkurangnya ketersediaan nitrogen oksida (NO) yang dibentuk menja­di peroksi nitrit (NO2). Zat NO yang berkurang ditengarai menyebabkan disfungsi vaso­dilator, kemudian menyebabkan terjadinya atoptosis endotel.

Ketidakseimbangan antara NO dan berbagai radikal bebas akan menyebabkan berbagai kerusakan pada DNA, lipid, protein, dan karbohidrat. Pening­katan produksi radikal bebas akan mengakibatkan gangguan keseimbangan NO dan menyebabkan timbulnya aterosklerosis dan sejumlah penyakit kardiovaskuler lain. Meningkatnya ROS antara lain dipicu timbulnya produksi oksigen radikal oleh mitokondria, proses infalamasi, NADPH (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate) oksidase, yang menimbulkan ber­kurang­nya ketersediaan NO. Akibatnya, terjadi kerusakan endo­tel yang akhirnya menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada kardiovaskuler.

Bicara radikal bebas (ROS) erat kaitannya dengan antioksidan. Apakah yang dimaksud antiok­sidan? “Suatu substansi yang berperan untuk menghambat atau memperlambat proses oksidatif,” ucap Prof. Siti dalam presentasinya lebih lanjut. Antioksidan terdiri atas antioksidan yang bersifat enzimatik dan non-enzimatik. Seperti diketahui bahwa antioksidan enzimatik antara lain superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GSHPx), dan katalase. Sementara, antioksidan non-enzim­atik yang dikenal adalah mineral (selenium, zink); vitamin (A, C, E, K, dll.); serta polifenol.

Secara mendalam, Prof. Siti memaparkan beberapa literatur tentang antioksidan. Dalam sistem­atik review oleh Kneck pada 2004 yang mempelajari hubung­an antara antioksidan vitam­in (nonenzimatik) dengan risiko penyakit jantung, menunjukkan bahwa vitamin E dan C secara bermakna berhubungan dengan berkurangnya insiden semua penyakit jantung pada perempuan. Setelah dilakukan analisis multivariat, ternyata vitam­in E tidak terbukti perannya, sedangkan vitamin C tetap ber­hu­bungan secara bermakna. Namun demikian, sebuah meta-anal­­­isis terbaru pada 2013 men­d­apatkan bahwa antioksidan vitam­in tidak memiliki efek, tidak berperan untuk memperbaiki inside­n kejadian kardiovaskular.

Bagaimana dengan antioksidan enzimatik? Secara teori, SOD akan mengonversi radikal superoksida menjadi hidrogen peroksidase. Sedangkan aktivasi dari hidrogen peroksida menjadi H2O dilakukan oleh katalase. Jika tidak diaktivasi maka hidrogen peroksida akan masuk ke dalam nukleus sel dan akan menghasilkan hidroksi radikal yang akan merusak DNA serta berbagai organel sel. Beberapa penelitian membuktikan ren­dah­nya level SOD, katalase, dan GSHPx pada pasien yang meng­alami gangguan kardiovaskuler atau sindrom metabolik diban­ding­kan dengan kondisi normal.

Dalam proses metabolisme tubuh terjadi respirasi yang dapa­t menghasilkan ROS. SOD, katalase, dan antioksidan enzim lain yang berperan sebagai peng­hambat peningkatan ROS. Perannya lebih kepada pertaha­nan awal ketimbang antioksidan nonenzimatik seperti vitamin. “Antioksidan sekunder seperti vitamin biasanya berperan sebagai penyangga dan seringkali tersaturasi,” ungkap Prof. Siti. “SOD merupakan antioksidan enzimatik yang kuat dan bekerja di tahap awal dari pertahanan tubuh. SOD berperan terhadap radikal bebas dengan meng­ata­li­sasi dismutase dari superoksida menjadi hidrogen peroksidase (H2O2) dan selanjutnya katalase membantu mengubah menjadi H2O dan O2. “SOD mempunyai harapan dalam perannya men­cegah kejadian kardiovaskuler,” lanjutnya. Tampaknya, peran antiok­sidan vitamin masih dipertanyakan apabila merujuk pada berbagai penelitian sampai 2013. Hal ini sehubungan denga­n hasil meta-analisis yang mendapatkan tidak adanya pera­n antioksidan vitamin dalam mengurangi kejadian kardiovaskuler. “Mungkin kita harus bergeser melihat peran dari antioks­idan enzimatik. Dalam hal ini, SOD katalase atau GSHPx,” himbau Prof. Siti sebe­lum menyampaikan kesimpulannya. Kandungan SOD terdapat dalam Glisodinâ, salah satu produk unggul persembahan PT. Kalbe Farma Tbk. Pemberian suplemen Glisodinâ 500 mg pada 76 subjek setelah 2 tahun terbukti efektif mengontrol ketebalan lapisan tunika intima media (IMT) arteri karotis.

Dengan demikian, disimpul­kan bahwa stres oksidatif, yaitu meningkatnya ROS di tingkat sel, merupakan tanda awal dari penuaan dan penyakit kardio­vas­kuler. Peran antioksidan enzima­tik yang meyakinkan tela­h ditunjukkan pada bebe­rap­a studi observasional dan laboratorium untuk usia lanjut. Namun, masih diperlukan uji klini­s untuk memperjelas peran suplementasi antioksidan, khu­susn­ya antiok­sidan enzimatik. Wika


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish