Resistansi insulin yang terjadi pada diabetes melitu­s tipe 2 menyebabkan kadar sex-hormone binding globulin (SHBG) lebih rendah pad­a pria diabetik daripada pria non-diabetik.Dalam beberapa pe­nelitian lain, tingginya preva­lensi kadar testosteron total dan testosteron bebas pada pria dengan diabetes tipe 2 berhu­bungan dengan tingginya lemak visceral, resistansi insulin, HbA1c, dan gejala hipogonadisme.

 

Didalam darah, testosteron terbagi menjadi tiga bagian, yaitu testosteron bebas (2-3%), testosteron yang terikat globulin (20-40%), dan terikat SHBG (60-80%). Yang aktif secara biolo­gis adalah testosteron beba­s dan yang terikat albumin. Yang terikat SHBG adalah testosteron inaktif. Pada 1/3 pria diabetes, kadar testosteron beba­s rendah. Selain itu, kadar SHBG meningkat dengan ber­tambahnya usia, sehingga kadar testosteron yang bebas semakin berkurang.

Diketahui bahwa kadar testosteron yang rendah pada pria berhubungan dengan ber­kurangnya sensitivitas terhadap insulin dan diabetes tipe 2. Kadar testosteron yang rendah juga ternyata dapat memperkirakan terjadinya resistansi insulin dan perkembangan diabetes tipe 2. Selain itu, juga telah dilaporkan bahwa kadar testosteron pria dengan diabetes ternyata lebih rendah daripada pria non-diabetik. Menurut Kapoor et al., 56% pria dengan diabetes melitu­s tipe-2 memiliki kadar tes­tosteron yang lebih rendah secara signifikan pada dialisis ekuilibrium (Testosterone Deficiency Syndrome).

Obesitas viseral merupakan penyebab penting resistansi insuli­n. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria obesitas memiliki kadar testosteron yang rendah dan ini berhubungan dengan derajat obesitasnya. Pada pria dengan hipogona­disme, terjadi peningkatan depo­sit lemak abdomen, yang kemudian semakin menekan konsentrasi testosteron dalam darah melalui perubahan testoste­ron menjadi estradiol oleh enzi­m aromatase. Ini juga me­nyebabkan penumpukan lemak abdomen lebih lanjut dan akhirnya penurunan testosteron yang lebih berat. Menurut pe­nelitian Hackett et al., semakin tinggi BMI seseorang, semakin rendah kadar testosteron total dan testosteron bebasnya; se­ma­­kin besar ukuran lingkar pe­ru­­t seseorang, semakin rendah kadar testosteronnya; semakin rendah kadar testosteron, sema­ki­n tinggi kadar HbA1c pasien tersebut, dan semakin rendah kadar testosteron aktif,  semakin berat derajat disfungsi ereksi yang terjadi.

Gejala utama hipogona­disme adalah penurunan atau hilangnya libido, penurunan kekuatan ereksi, lelah, penurunan kekuatan fisik, serta perub­ahan mood. Defisiensi testosteron yang menyebabkan munculnya gejala hipogonadisme dapat diatasi dengan pemberian terapi suplementasi testosteron.

Menurut Hackett et al., pasien dengan hipogonadisme yang nyata dan dengan kadar testosteron bebas kurang dari 8nmol/L sebaiknya diberikan tera­pi suplementasi hormon. NICE guideline 66 tentang dia­bete­­s tipe 2 (2008) merekomendasikan pemeriksaan setiap setah­un sekali untuk disfungsi ereksi pada pria dengan diabetes tipe II. Menurut the British Society for Sexual Medicine dan EAU (European Urology Assosciation), klasifikasi kadar testosteron adalah kadar normal pada pria dengan kadar testosteron >12 nmol/L, zona kelabu pada pria dengan kadar testosteron antara 8-12 nmol/L, serta late onset hypogonadism pada pria dengan kadar testosteron (Dian)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish