TB termasuk re-emerging disease, penyakit lama yang menjadi masalah baru. Kuman TB atau Mycobacterium tuberculosis telah dikenal sejak tahun 1882 yang menyebabkan kematian satu dari tujuh orang di Eropa dan Amerika. Hingga saat ini, TB terus menjadi masalah global, terutama di negara berkem-bang. Menurut Dr. Tri Yunis Miko, MSc, Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, TB menjadi re-emerging disease karena terdapat bagian tertentu yang berubah. “Pada TB yang berubah adalah masalah resistansi. Sekarang telah ada multidrug resistance TB (TB MDR), bahkan extensively drug-resistant TB (TB XDR),” ungkap Dr. Miko. Hal inilah yang menyebabkan masalah dan beban baru penyakit TB.

Gejala penyakit TB harus diketahui oleh setiap orang. Apabila seseorang mengalami gejala seperti batuk yang berlangsung selama lebih dari beberapa minggu, penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, demam, berkeringat di malam hari, atau batuk darah, maka dia terindikasi menderita TB. Selanjutnya, diagnosis harus ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium agar pengobatan dapat segera dilakukan. “Jika diobati segera dengan antibiotik maka dalam waktu 10 hari, kuman TB akan hancur. Artinya, mengurangi risiko penularan kepada orang lain,”papar Dr. Miko. Sedangkan untuk sembuh, pasien harus minum obat anti-TB (OAT) selama 6 bulan.

 

Epidemiologi dan Beban Masalah TB

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2013, terdapat 8,6 juta kasus TB pada tahun 2012, di mana 1,1 juta orang (13%) di antaranya adalah pasien TB dengan HIV positif. Untuk kasus resistansi TB, diperkirakan terdapat sekitar 450.000 orang menderita TB MDR dan 170.000 orang meninggal dunia. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia produktif karena lebih mudah didiagnosis. “Ini berhubungan dengan mudah tidaknya mengeluarkan dahak. Orang dewasa muda mudah mengeluarkan dahak sehingga mudah didiagnosis. Anak-anak dan orang tua seringkali sulit mengeluarkan dahak sehingga susah diagnosis,” ungkap Dr. Miko. Oleh karena itu, sebaran usia terbanyak pasien TB yaitu antara usia 15-40 tahun.

Seperti halnya dunia, Indonesia juga memiliki beban TB. Apalagi Indonesia tergolong negara sedang berkembang yang menjadi faktor risiko tingginya angka kejadian TB. Walaupun prevalensi TB di Indonesia tergolong rendah, yaitu sekitar 0,4% (menurut data Riskesdas tahun 2013), dilihat dari jumlah penderita, Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita TB terbanyak nomor lima di dunia. Menurut Dr. Miko, hal ini wajar karena jumlah penduduk Indonesia banyak. Peningkatan jumlah penderita TB akan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah penduduk. Ditambah lokasi penduduk yang padat, maka apabila TB mengenai orang-orang yang kurang gizi akan menyebabkan penyebaran penyakit TB yang cepat.

Meningkatnya beban masalah TB, khususnya di Indonesia, disebabkan oleh banyak faktor. Pertama, kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi dengan disparitas yang terlalu lebar sehingga masih terdapat masyarakat yang mengalami masalah dengan tempat tinggal yang padat, sanitasi dan pangan yang buruk. “Sebenarnya Indonesia termasuk high middle income, tetapi ada kondisi yang menyebabkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin,” ungkap Dr. Miko. Ketiga, beban sosial yang masih tinggi seperti banyaknya penduduk yang berpendidikan rendah. Keempat, masalah kesehatan lain yang memengaruhi beban TB seperti gizi buruk, merokok, dan diabetes. Kelima, dampak pandemi HIV. Keenam, resisansi kuman TB yang semakin menjadi masalah karena kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Ketujuh, program TB yang kurang berhasil.

 

Kunci Pencegahan: Temukan dan Obati Segera

Pada prinsipnya, penularan TB bersifat person to person contact atau penularan langsung antar-manusia dari dahak dan bersin penderita. “Cara mencegahnya tentu saja dengan cut of contact,” papar Dr. Miko. Langkah cut of contact dimulai dengan promosi kesehatan, antara lain dengan meng-ajarkan pasien TB agar jangan membuang ludah sembarangan dan menggunakan masker. Selanjutnya, menemukan pasien TB dan mengobati segera hingga sembuh. Program utama TB adalah menemukan pasien dengan TB. “Penemuan kasus TB diukur dengan indikator Case Detection Rate (CDR),” papar Dr. Miko. CDR adalah prosentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tertentu. CDR menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tertentu. Sedangkan strategi penemuan kasus TB sesuai kebijakan pemerintah dilakukan secara passive case finding dan promosi kesehatan. Namun, menurut Dr. Miko, agar penemuan kasusnya berhasil, strategi yang harus dilakukan adalah active case finding seperti penyakit lepra. Pada passive case finding seringkali terjadi kasus TB yang tidak dilaporkan karena tergantung dari kemauan melapor atau berobat dari penderita, dan akhirnya menyebabkan terjadinya penularan di masyarakat. Sedangkan active case finding dapat menjaring penderita atau suspek yang kemudian di follow up agar bersedia melapor dan berobat ke pelayanan kesehatan. Strategi ini dapat mencegah terjadinya penularan dan dampak lebih lanjut akibat TB di masyarakat. “Tapi strategi ini biayanya mahal karena kasus TB banyak, berbeda dengan lepra yang kasusnya sedikit sehingga lebih murah,” ungkap Dr. Miko. Alasan lain yaitu jumlah kontak. Pada lepra jumlah kontak sedikit sehingga bisa dilakukan active case finding, sedangkan pada TB jumlah kontak banyak, sehingga yang mungkin dilakukan saat ini adalah passive case finding dan promosi kesehatan. Selanjutnya, pasien TB yang ditemukan harus diobati dengan segera minimal 6 bulan agar sembuh total. Program penyembuhan TB disebut DOTS (Direct Observed Treatment Shortcourse). “Di dalam program DOTS diperlukan sistem rujukan atau DOTS linkage,” ungkap Dr. Miko. DOTS linkage berupa puskesmas dan rumah sakit (Hospital DOTS Linkage) yang berfungsi menjaring penderita TB, menyembuhkan, dan memastikan pasien TB tidak keluar dari DOTS linkage tersebut.

 

Indikator Ketidakpatuhan Pasien

Salah satu permasalahan utama pengobatan jangka panjang penyakit seperti TB adalah tingkat ketidakpatuhan yang tinggi. Konsekuensinya, pasien TB yang tidak patuh terhadap pengobatan akan mengalami resistensi obat, lebih sulit disembuhkan, dan menyebabkan masalah baru seperti penularan kepada orang lain. Pasien TB yang mengalami resistensi obat (TB MDR) memerlukan masa pengobatan yang lebih lama minimal 1 tahun. “Apabila tidak sembuh-sembuh, bahkan dia bisa meninggal karena efek samping obatnya,” papar Dr. Miko. Hal ini dikarenakan OAT memiliki berbagai efek samping terhadap ginjal, hati, dan organ lain sehingga diperlukan pengawasan dalam pengobatan TB.

“Seharusnya kita sadar dari dulu bahwa harus ada indikator noncompliance dalam pengobatan TB,” papar Dr. Miko. Saat ini indikator yang digunakan dalam pengobatan TB hanya success rate, sedangkan noncom-pliance atau ketidakpatuhan belum diperhitungkan sebagai indikator. “Menurut saya, noncompliance harus dijadikan sebagai indikator,” tegas Dr. Miko. Hal ini karena ketidakpatuhan pasien TB dalam meminum OAT menjadi penyebab utama kegagalan pengobatan TB dan dapat menimbulkan beban yang lebih besar yaitu resistensi.

Sebagai kesimpulan, melalui peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 24 Maret, kita hendaknya sadar bahwa TB masih menjadi beban kesehatan masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia. Penemuan kasus dan pengobatan segera merupakan kunci utama keberhasilan penyembuhan TB. Oleh karena itu, kerjasama antara masyarakat, petugas kesehatan, dan pemerintah melalui pelaksanaan program dengan baik menjadi ujung tombak tercapainya target Indonesia bebas TB tahun 2050. (KK)

 

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish