Saatnya Peduli Bahaya Antibiotik Website Administrator

Tanggal : 09 Sep 2017 06:51 Wib


Dr. Pribakti B. Sp.OG(K)*

Dunia pengobatan tengah dilanda kegalauan akibat obat dewa yang selam a ini diagungagungkan untuk menumpas segala penyakit telah berbalik menjadi ancaman serius di tingkat global. Sejak 2000-an, angka kematian penderita penyakit infeksi yang disebabkan bakteri multi-resistan meningkat tajam, baik infeksi yang terjadi di rumah sakit maupun dalam komun itas. Prevalensi kematian ter ting gi akibat infeksi bakteri multi-resistan terjadi di Asia se bany ak 4,7 juta; diikuti Afrika sejumlah 4,1 juta; lalu Eropa sebesar 390 ribu; dan Amerika sebanyak 317 ribu. WHO Regional Asia Tenggara melaporkan, tiap lima menit ada satu anak yang mati di daerah Asia Tenggara karena bakteri resista n antibiotik. Pada 2050, diprediksi 10 juta orang per tahun meninggal dan 2—3,5 persen GDP (gross domestic product) berkurang akibat penggunaan antibiotik yang tidak terkendali. Indonesia pun tidak luput dari permasalahan resist ansi obat antibio tik, bahkan sudah pada tingkat cukup mengkhawatirkan. Berdasar data WHO pada 2009, Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 27 negara dengan beba n tinggi kekebalan obat terhadap kuma n (multidrug resist ance/MDR).

Harus diakui bahwa angka prevalensi kasus resistansi antibiotik saat ini belum akurat. Berkaca dari Thailand, dengan popula si 70 juta dan 38 ribu orang di an tara nya meninggal akibat resistansi, Komite Pengendalian Resistansi Antimikroba (KPRA) mengasumsikan kematian akibat penyakit resistansi (kebal) antibiotik di Indonesia kurang lebih 130 ribu per tahun. Berdasar penelitian pada 2013 di enam rumah sakit di Indonesia, angka kasus infek si akibat bak teri kebal pada antibiotik mencapai 50 persen. Antibiotik adalah salah satu lompatan ke berhasilan peng obat an yang mencengangkan. Pasca-penemuan penisilin sebagai antibio tik pertama oleh Alexander Fleming, bisa dibilang kita berada dalam era antibiotik. Obat ini telah digunakan untuk melawan infeksi berbagai bakteri pada tumbuhan, hewan, dan manusia sejak 1930-an, baik sebagai bakterisida (membunuh bakteri) maupun bakteriostatika (menghambat pertumbuhan bakteri). Secara dramatis, tingkat ke sehatan dan usia harapan hidup manusia melonjak dengan tajam. Namun, era ini diramal bakal berakhir setelah kasus-kasus kebal anti bioti k bermunculan di berbagai belahan dunia. Obat yang dulu efektif menangani penyakit seperti tuber kulosis, malaria, dan gonorrhea kini mulai ke hilangan dampaknya. Penyebab mun culnya resis tansi ini adalah mutasi bakteri yang terjadi ka rena penyalahgunaan dan penggunaan anti - biotik berlebihan. Pengembangan antibiotik baru tidak bisa mengimbangi kecepatan bakteri berevolusi. Kekebalan antibiotik baru terbentuk dua tahun setelah antibiotik pertama digunakan, padahal butuh 10—15 tahun untuk menemukan zat antibiotik baru. Antibiotik yang sejatinya hanya untuk melawan infeksi bakteri, ironisnya, disa lahgunakan untuk melawan infeksi virus. Misal nya, flu, pilek, sakit tenggorokan, gondok, dan bronkitis.

Penggunaan berlebihan, seperti terlalu lama mengonsumsi atau malah tidak menghabiskan obat sesuai resep, juga penggunaan secara massal di peternakan dan tanaman pertanian, memberikan kontribusi tinggi pada resistansi. Dampak resistansi adalah meningkatnya angka kesakitan, melonjaknya biaya dan lama perawat an, serta meningkatnya efek samping karena penggu naan obat ganda dan dosis tinggi. Yang paling fatal adalah meningkatkan angka kematian. Sulit dibayangkan jika era pasca antibiotik tiba, hanya luka sayatan kecil saja bisa membaha yakan nyawa atau tindakan operasi sukses tapi nyawa tak tertolong lagi akibat tubuh sudah kebal terhadap antibakteri. Bahaya antibiotik telah menjadi momok dunia. Penanggulangan AMR tidak mudah karena bukan hanya melibatkan pihak pasien atau dokter, tetapi merupakan
interaksi kompleks dari berbagai faktor mulai dari dokter, pasien, industri farmasi, kepentingan bisnis, kesadaran masyarakat, hingga dunia pendidikan secara luas.

Lebih dari itu, penanganan resistansi antibioti k makin sulit karena antibiotik bukan saja diman faatkan untuk mengobati penyakitpenyakit infeksi pada manusia, tetapi juga bidang lain, seperti pertanian dan peternakan. Luasnya cakupan pemakaian antibiotik dalam produk-produk pertanian dan peternakan memerlukan perhatian khusus dan ketaatan keta t terhadap peraturan yang ada. Kesadaran akan bahaya residu antibiotik dari produk peternakan perlu ditingkatkan agar seiring dengan upaya penanganan resistansi antibiotik. Kenyataan bahwa penyebab dan dampak persoalan resistansi antibiotik melampaui bidang kesehatan masyarakat, memerlukan partisipasi dari semua sektor pemerintah dan masyarakat untuk bekerja sama me nanggulangi tantang an ini. Bagaimanapun juga, kita tidak ingin capaian pemba ngun an nasio nalyang telah dicapai dengan susah payah hilang gara-gara kerugian akibat penanganan resistansi antibiotik yang salah. Lebih jauh, janga n sampai kapasitas untuk mencapai tujuan pembangunan global, seperti Sustainable Development Goals (SDGs), direduksi oleh dampak resistansi antibiotik. Permasalahan ini bukan hanya milik pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, namu n dokter, apoteker, dan organisasi profesi hingga masyarakat harus terlibat. Pemerintah sebetulnya sudah mengaturnya melalui Permenkes Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011 tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Ini sejalan dengan Deklarasi Jaipur tentang kekebalan antimikroba 2011. Untuk kali pertama, WHO mencanangkan Pekan Peduli Antibiotik Sedunia pada 16—22 November 2015. Melalui kampanye Antibiotics: Handle with Care, WHO mengajak masyarakat memanfaatkan antibiotik dengan tepat. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia melakukan upaya pengobatan diri sendiri dan lebih dari 80 persen di antaranya mengandalkan obat modern. Pemberian informasi yang jelas, tepat dan benar, serta dapat dipercaya mutlak diperlukan. Antibiotik dengan bahaya kekebalannya adalah sebuah ancaman serius bagi kita semua.

Keaktifan pemerintah dituntut dalam melaksanakan pembinaan pengawasan. Juga, bertanggung jawab atas ketersediaan, keterjang kauan, dan pemerataan obat. Secara sosial-ekonomi, obat adalah komponen tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Kesadaran masyarakat adalah kunci utama dalam penanggulangan bahay a antibiotik. Edukasi dari semua elemen, baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, maupun organisasi profesi, akan memberikan kontribusi yang tinggi untuk mencegah resistansi. Satu hal yang patut digarisbawahi adalah mengawal semua program dengan komitmen dan konsistansi tinggi. Itu dilakukan agar pelan tapi pasti permasalahan pelik resistansi antibiotik bisa teratasi. Semoga.



Jurnal Medika CME

TB Paru

05 Oct 2017 - 14 Oct 2017 2 SKP

Dari Redaksi

Waspadai Virus Zika