Penggunaan Metronidazole sebagai Antibiotik Intra-abdominal

 

NALDO SOFIAN

Dokter Internship – RSUD Tc Hillers, Maumere,

Nusa Tenggara Timur

 

Pendahuluan

 

Infeksi oleh bakteri anaerob dapat ditemu­kan pada berbagai organ. Khusus intra-abdom­en, sejumlah organ yang paling serin­g terlibat adalah gastrointestinal, hepar, serta sistem bilier. Batasan infeksi intra-abdome­n itu sendiri dapat diperluas mencapai daerah pelvis sehingga infeksi pada kavum douglas atau tubo-ovarium ikut terliba­t di dalamnya. Organ intra-abdomen yang paling mudah terinfeksi berturut-turut appendiks, kolon, dan gaster.1

Penggunaan metronidazole menjadi salah satu pilihan seirin­g dengan temuan prevalensi kasus-kasu­s intra-abdomen, seperti giardiasis dan amubiasis, berturut-turut sebesar 20-30%,2 terutama pada anak sekolah dan 10-18% (6,5% dengan diare berdarah pada anak-anak) di Indonesia.3,4 Kemunculan apendisitis, kolitis, divertikulitis, disentri, dan infeksi intra-abdomen lain juga perlu mendapat perhat­ian seiring peritonitis yang menjadi komplikasi dan tanda beratnya infeksi intra-abdo­men turut menyumbang angka morta­lita­s hingga 30% akibat sepsis berat atau syok sepsis.1

Ragam patogen yang menginfeksi intra-abdomen mencakup kelompok bakteri dan amuba. Bakteri yang biasanya terlibat antara lain berupa kelompok bakteri anaerob, baik gram positif (terutama bentuk kokus) mau­pun gram negatif (terutama bentuk basil), meliputi Bacteroides sp, Clostridium sp, Helicobacter sp, Pseudomonas sp, dan Campylobacter sp. Lain halnya dengan amub­a.1,5 Entamoeba hystolytica dan Giardia lamblia kerap kali ditemukan pada kasus intra-abdomen. Asal patogen tersebut meliputi penularan secara fecal-oral dengan kurang­nya menjaga sanitasi dan kebersihan konsum­si makanan atau air minum ditambah dengan migrasi flora normal dan perlambatan peristaltik saluran cerna.1-4,6

Dengan keadaan demikian, peningkatan penggunaan antibiotik turut terjadi. Metro­nidazole mengalami peningkatan penggunaan. Mutsaers SN, et al (2011) mendapat­kan penggunaan metronidazole hingga 76,6% rumah sakit di Belanda.7 Antibiotik tersebut banyak dicantumkan dalam ber­bagai pedoman tata laksana, baik eradikasi maupun profilaksis, sejumlah kasus infeksi. Tindakan pembedahan juga menggunakan metronidazole sebagai antibiotik pilihan dalam profilaksis maupun terapi, seperti pada terbentuknya fistula hingga kasus ruptur viskus maupun peritonitis karena tingginya konsentrasi yang dicapai pada jaringan gastroi­ntestinal yang mengalami inflamasi.8

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...