steroids
Banner
Translate
Edisi No 11 Vol XXXV - 2009 - Kolom

Masalah Kesehatan Kita Bukan Hanya Karena Beban Ganda

Prof. Dr. Purnawan Junadi, MPH, PhD.i

Pakar kesehatan umumnya memandang masalah kesehatan di negara berkembang sebagai dampak dari transisi epidemiologis, yaitu menurunnya mortalitas dan morbiditas penyakit menular seperti diare, batuk/pilek (ISPA), diikuti meningkatnya penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, stroke, dan kanker. Perubahan transisi epidemiologis ini terjadi mengikuti transisi demografik, yaitu perubahan masyarakat muda menjadi masyarakat yang menua, yang ditandai dengan menurunnya IMR dan naiknya harapan hidup.

Kolom - Purnawan JunadiNamun, kita tidak menikmati apa yang disebut oleh WHO sebagai revolusi kesehatan. Laporan riset nasional kesehatan 2007 menunjukkan bahwa Indonesia masih tetap menghadapi penyakit diare, infeksi pernapasan, TBC, di samping sekaligus mulai menghadapi penyakit diabetes, hipertensi, dan dampaknya berupa jantung koroner, stroke, dan kanker. Di samping itu, Indonesia juga menghadapi masalah kurang gizi akut (kurus) maupun kronis (pendek), sekaligus obesitas (gemuk).

Ini yang disebut WHO sebagai beban ganda (Laporan WHO 1999). Beban ganda ini menunjukkan bahwa transisi demografik dan transisi epidemiologis saja tidak cukup menjelaskan fenomena masalah kesehatan yang kita hadapi. Beban ganda ini menunjukkan bahwa kita masih mempunyai masalah ketimpangan pendapatan dibarengi dengan belum berhasilnya kita menyelesaikan penyediaan air bersih dan sanitasi dasar. Penduduk miskin kurang gizi rentan terserang penyakit menular karena kekurangan air bersih dan sanitasi yang jelek, lebih terpapar terhadap diare dan infeski saluran pernafasan. Sebagian penduduk lagi yang berkelebihan, namun karena pengetahuan kesehatan yang kurang memadai, menghadapi masalah kelebihan dan salah gizi, serta penyakit degeneratif dan sindrom metabolik sebagai dampaknya. Jeleknya, lingkungan dan rendahnya perilaku sehat ini menunjukkan program kesehatan kita masih dominan kuratif.

Kompleksitas faktor penyebab masalah ini juga belum menjelaskan dengan tuntas masalah kesehatan lain yang kita hadapi. Mengapa demam berdarah, hipertensi, dan asma prevalensinya praktis merata, baik pada kelompok miskin maupun kaya? Salah satu jawabannya adalah fenomena urbanisasi dan modernisasi yang terjadi di Indonesia tidak memperhitungkan dampaknya terhadap kesehatan. Demam berdarah makin meningkat seirama dengan tumbuhnya urbanisasi di Indonesia. Hipertensi yang melanda hampir sepertiga penduduk Indonesia adalah dampak dari berbagai faktor, termasuk di antaranya stres. Meningkatnya prevalensi asma juga antara lain disebabkan oleh makin terpolusinya udara kita, dampak dari urbanisasi juga.

Artinya, modernisasi dan pertumbuhan kota di Indonesia masih belum memperhatikan kesehatan sebagai prioritas. Yang sederhana saja, misalnya ucapan pejabat kita bahwa “program mudik 2009” berhasil karena ukurannya kelancaran arus mudik, dilihat dari berkurangnya kemacetan. Coba kalau ukurannya jumlah korban kecelakaan dan kematian pemudiknya, maka mudik tahun ini gagal besar.

Dampak urbanisasi dan modernisasi ini makin mewarnai masalah kesehatan di masa mendatang. Kecelakaan lalu lintas sudah menjadi 10 penyebab kematian utama di Indonesia pada penduduk 15 tahun ke atas, bahkan pada laki-laki sudah menjadi penyebab nomor sa-tu (Riskesdas 2007).

Penyakit lain sebagai dampak polusi seperti asma, penyakit kulit, dan kanker juga meningkat. Polusi juga mempermudah timbulnya berbagai penyakit lain seperti diare dan infeksi saluran napas. Jika urbanisasi dan modernisasi ini merupakan faktor penting penyumbang kompleksnya masalah kesehatan yang kita hadapi maka penanggulangannya juga seharusnya mulai dari sana. Tanpa bergerak ke sana, kita hanya akan menampung terus sampah urbanisasi dan modernisasi dalam bentuk naiknya angka kesakitan, kecacatan, dan kematian.

Para pemangku kepentingan, baik menteri, pejabat, industriawan, developer, maupun pelaku ekonomi, perlu memahami dampak kesehatan dari kebijakan, tindakan, dan kegiatan yang mereka lakukan pada bidang kesehatan serta outcomenya pada kesejahteraan penduduk. Artinya, ukuran kesejahteraan, indikator kesehatan harus menjadi ukuran sukses dari kebijakan, tindakan, dan kegiatan mereka.

Karena itu, tidak aneh kalau WHO mengatakan: We need to remind prime ministers and finance ministers that they are health ministers themselves and that investments in the health of the poor can enhance growth and reduce poverty. Merekalah: presiden, perdana menteri, dan menteri keuangan yang merupakan menteri kesehatan!

i Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
 

Tambah komentar


Kode Pengaman
Kode Baru

Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm