Lansia Lebih Berisiko Menderita Herpes Zoster dan Nyeri Pasca-herpes

 

Bertambahnya usia berhubungan dengan penurunan fungsi organ tubuh, salah satunya kondisi immunosenescence, yaitu menurunnya kekebalan tubuh sehingga respons imun untuk pertahanan terhadap infeksi kuman dan virus menurun. Kondisi immunosenescence sering dialami oleh orang yang berusia 60 tahun ke atas atau sering disebut lanjut usia (lansia).

Akibatnya, kelompok lansia lebih mudah terkena berbagai penyakit infeksi seperti influenza, bronchitis, gastroenteritis, dan herpes zoster.

 “Sudah saatnya kesehatan dan kualitas hidup lansia lebih menjadi sorotan,” ungkap dr. Edy Rizal Wahyudi, Sp.PD, KGer, dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, dalam seminar media yang diadakan oleh MSD Indonesia bertema “Lansia berpotensi menderita luar biasa akibat nyeri pascaherpes” di Hongkong Café, Jakarta, 30 September 2014. Menurut dr. Edy, dengan meningkatnya usia harapan hidup (UHH) suatu negara maka jumlah lansia akan bertambah. UHH di Indonesia pada 2004 adalah 66,2 tahun dan meningkat menjadi 70,6 tahun pada 2009. Pada  2012, jumlah penduduk lansia di Indonesia sebesar 25 juta dan menjadikan Indonesia sebagai peringkat ketiga negara Asia dengan populasi lansia terbanyak setelah Cina dan India. Oleh karena itu, perhatian terhadap kualitas hidup lansia menjadi penting, salah satunya dengan mencegah lansia dari penyakit herpes zoster.

Herpes zoster (HZ) merupakan penyakit akibat reaktivasi virus varisela atau virus yang sama yang menyebabkan penyakit cacar air. Setelah penyakit cacar air sembuh, virus varisela tidak mati, tetapi berdiam (dorman) di dalam ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kranialis. Jika sewaktu-waktu tubuh mengalami penurunan respons imun maka virus varisela dapat reaktivasi dan menyebabkan herpes zoster. Menurut data, sebanyak 98% orang selama hidupnya pernah terinfeksi virus varisela atau penyakit cacar air sehingga mereka berpotensi menderita HZ di kemudian hari. Sekitar 1 dari 3 orang selama hidupnya berisiko mengalami HZ. HZ ditandai dengan adanya ruam merah berisi cairan (bintil) di tubuh atau wajah, dan biasanya disertai rasa nyeri yang menyiksa.

Lansia memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami HZ.Setelah seseorang memasuki usia 50 tahun, risiko terkena dan tingkat keparahan HZ semakin tinggi. “Kejadian reaktivasi virus varisela 10 kali lebih sering terjadi pada lansia daripada usia muda,” ungkap dr. Edy. Bahkan, ketika memasuki usia 85 tahun, 1 dari 2 orang berisiko mengalami HZ. Di Amerika, dari 1 juta kasus HZ per tahun, sekitar 70% terjadi di usia ≥ 50 tahun. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan studi di 13 RS Pendidikan, prevalensi HZ pada usia ≥ 45 tahun adalah 55,77%.

Gejala klinis HZ pada pasien lansia lebih berat dibandingkan pasien usia muda. Gejala klinis tersebut meliputi nyeri sebelum lesi yang lebih hebat dan lebih lama, nyeri akut lebih hebat, ruam kulit lebih berat, dapat meluas dan mengenai lebih dari satu bagian persarafan, perjalanan penyakit lebih panjang, sering berulang, dan menimbulkan komplikasi yang lebih sering. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain  oftalmik (mata), komplikasi dermatologis (kulit), komplikasi viseral, dan yang paling sering terjadi adalah komplikasi neurologis, yaitu neuralgia pascaherpes.

Neuralgia pascaherpes (NPH) didefinisikan sebagai nyeri yang menetap selama 3 bulan atau lebih setelah ruam kulit HZ menghilang. “Nyeri NPH tergolong nyeri berat dan lebih nyeri dibandingkan nyeri melahirkan,” papar dr. Andradi Suryamiharja, Sp.S(K), Neurolog dari RS Graha Kedoya. NPH meningkat 27 kali lipat pada usia ≥ 50 tahun ke atas dan meningkat 40% pada usia ≥ 60 tahun. NPH tetap terjadi pada 10-20% pasien HZ walaupun telah mendapat terapi antivirus. Gejala NPH meliputi rasa panas yang kontinyu, rasa disayat, dan alodinia (rasa nyeri yang timbul karena rangsangan ringan, misalnya gesekan baju). Selain itu, NPH sering disertai gejala penyerta seperti gangguan tidur, keterbatasan gerak, penurunan nafsu makan dan berat badan, serta kerap menimbulkan depresi penderitanya.

Pengobatan NPH membutuhkan kombinasi antivirus, analgesik dan perawatan suportif. “Walaupun pengobatannya optimal, sebagian besar pasien NPH tetap merasa nyeri,” ungkap dr. Andradi. Oleh karena itu, pencegahan menggunakan vaksin HZ merupakan penanganan yang dianggap paling efektif untuk menghindari dampak negatif HZ dan NPH. Di Indonesia telah tersedia vaksinasi HZ yang direkomendasikan untuk orang dewasa berusia ≥ 50 tahun sebagai upaya pencegahan terhadap HZ dan NPH. Vaksinasi HZ dapat membantu mengurangi risiko virus varisela untuk reaktivasi sehingga mengurangi risiko timbulnya HZ dan NPH pada lansia. u (KK)