Banner
Translate
Edisi No 08 Vol XXXV - 2009 - Studi Kasus

Psikoterapi untuk Gangguan Depresi Mayor pada Pasien Karsinoma Kolon

ANDRI

Psikiater, Staf Pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Pendahuluan

Secara keseluruhan, depresi mengenai sekitar 10%-15% pasien kanker. Namun, ada beberapa jenis kanker seperti kanker orofaring (22%-57%), pankreas (33%-50%), paru-paru (11%-44%), dan payudara (1,5%-46%) yang sangat erat kaitannya dengan terjadinya depresi. Beberapa jenis kanker lain yang juga mempunyai kaitan yang tinggi dengan munculnya depresi adalah kanker kolon (13-25%), kanker ginekologis (12-23%), dan limfoma (8-19%).1 Depresi sebagai komorbid meningkatkan morbiditas dan mortalitas dari penyakit medis itu sendiri.

Kasus

Pasien Tn. W, umur 63 tahun, Katolik, Suku Jawa, pendidikan terakhir Doktoral, menikah, dan mempunyai 5 orang anak. Pasien adalah pensiunan dosen, tinggal di Bogor, dengan keluhan utama merasakan nyeri di perut kanan bawah. Pasien mengatakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit perut kanannya terasa sakit. Pasien merasakan sakit ini terus menerus dan tidak mengalami perubahan dengan makan obat maag. Nyeri perut tidak menjalar. Selain sakit perut, pasien juga merasa sebah dan tidak nafsu makan. Pasien tidak mengalami muntah. Pasien juga sulit buang air besar. Bila buang air, kotorannya berwarna hitam.Tiga tahun yang lalu, pasien tiba-tiba mengalami kelumpuhan di sebelah tubuh kirinya saat berada di Palu. Saat itu tidak ada pingsan. Mulut pasien mencong. Tidak diketahui sebelumnya adanya riwayat hipertensi pada pasien. Setelah perawatan, pasien pulang masih dengan kelemahan di bagian tubuh sebelah kiri. Pasien masih bisa berjalan dengan bantuan alat (standar walker) atau memegang dinding saat berjalan. Pasien pernah mengalami jatuh saat di kamar mandi dan sejak saat itu pasien takut untuk kembali berjalan. Pasien kemudian lebih banyak duduk dan tidur di ranjang. Perawatan dengan obat tidak diteruskan dan perawatan rehabilitasi medik juga tidak dilakukan. Saat itu pasien didiagnosis DM tipe 2. Pasien tidak mengatakan mengalami keluhan-keluhan sering haus, sering kencing, atau sering makan sebelumnya. Pasien juga tidak mengalami penurunan berat badan yang bermakna. Dia baru mengetahui mempunyai DM sejak saat itu.

Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.
 
Banner