Pengaruh Asam Urat

 

Asam urat adalah istilah awam di masyarakat untuk penyakit pada persendian. Secara ilmiah, asam urat atau uric acid adalah senyawa yang dihasilkan dari katabolism­e purin. Purin sendiri adalah komponen utama dari DNA, RNA, dan koenzim. Kelebihan jumlah asam urat di dalam darah (hiperurisemia) sebagian besar terjadi karena dua hal, yaitu konsumsi berlebihan makanan yang mengandung purin (seperti jeroan, makanan laut, makanan kaleng, kaldu, kacang-kacangan, emping/melinjo) dan mengalami masalah pada ginjal sehingga mengganggu pembuangan asam urat melalui urin.

Read More

Tuberkulosis, Sebuah Gambaran Suram Dunia

 

Tuberkulosis (TB) adalah sebuah gambaran suram di dunia.  Dalam laporan TB di dunia terbaru, pada tahun 2013 saja terdapat sekitar 9 juta orang menderita TB, dengan sekita­r 1,5 juta orang meninggal. Sekitar separuh dari penderita TB ini berada di Asia Tenggara dan Pasifik Barat.[1]Saya harus setuju denga­n Phumeza Tisile, salah seorang penderita XDR TB yang berhasil sembuh, yang mengatakan bahwa tidak ada yang harus dirayakan pada Hari TB Sedunia. Mengapa? Karena menurutnya hanya 1 dari 5 orang penderita TB resistan mendapat diagnosis dan terapi yang benar, serta hanya separuh yang menda­pat pengobatan sembuh.[1]

Read More

Di Indonesia, ada gambaran suram yang sama. Ketika banyak orang berharap prevalensi TB menurun, apalagi karena kita mendapat­kan Champion Award for Exep­tional Work in the Fight Againts TB yang diperoleh dari Global Health USAID atas prestasi luar biasa dalam penanggulangan TB bertepatan dengan Peringat­an Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2013,1 prevalensi penduduk Indonesia yang didiagnosis TB paru oleh tenaga kesehatan tahun 2013 adalah 0,4 persen, tidak berbeda dengan 2007. Lima provinsi dengan TB paru tertinggi adalah Jawa Barat (0,7%); Papua (0,6%); DKI Jakarta (0,6%); Gorontalo (0,5%); Banten (0,4%); dan Papua Barat (0,4%).[1]

Seakan-akan untuk memastikan meningkatnya prevalensi TB, sebuah survei prevalensi TB yang lebih besar dilancarkan pad­a 2013. Survei itu dinyatakan memiliki standar yang tinggi. Di antara­nya, mencakup 100% kabupaten/kota di Indonesia dengan partisipasi cukup tinggi, yakni 88,7%; skrining dilakukan dengan menggunakan dua metode, yakni kuesioner mengenai tanda dan gejala TB, serta pemeriksaan dada menggunakan sinar X-ray disert­ai tingkat pengumpulan dahak (sputum) cukup tinggi, yakni 98% di antara mereka yang diduga positif.[1] Namun sampai sekarang belum dijelaskan hasilnya. Rumor nya prevalensi bahkan meningkat 3 kali.

Dalam kaitan itu, kita menerima sebuah artikel penelitian yang dilakukan di Papua, salah satu provinsi dengan prevalensi TB yang tinggi, dan dengan performans DOTS yang makin menurun, dari 76% pada 2005, menurun terus  hingga 47,9% pada 2009.

Artikel itu berjudul “Sikap Pencegahan Penularan TB yang Baik dan Faktor Lain yang Mempertinggi Kemungkinan Kesembuhan TB” dilakukan oleh Tri Nury Kridaningsih, staf dari Balai Litbang Biomedis Papua. Artikel tersebut kami muat dalam Medika edisi No. 8, Tahun ke XLI, Agustus 2015.

Hal yang menggembirakan adalah karena penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan yang mempertin­ggi kesembuhan TB. Kridaningsih menemukan bahwate­rdapat empat faktor dominan yang berpengaruh terhad­ap kesembuhan pasien TB, yaitu faktor pengetahuan ten­tan­g gejala/penyebab TB, sikap terhadap pencegahan/ penularan TB, perilaku terhadap pencegahan TB seperti keteraturan minum OAT, dan kebiasa­an membuka jendela rumah. Faktor yang paling dominan adalah faktor sikap terhadap pencegah­an/penularan TB. Subjek yang memiliki sikap dan perhati­an cukup jika dibandingkan denga­n yang kurang, me­miliki peluang 7,8 kali untuk sembu­h.

Faktor kedua yang domina­n adalah perilaku terha­dap pencegahan TB, yaitu kebiasaan membuka jende­la rumah. Subjek yang memiliki kebiasaan membuka jendel­a rumah tampaknya memiliki kemam­puan 4,47 kali sembuh.

Komentar saya terhadap penelitian Kridaningsih, kurang mendalamnya diskusi tentang penemuannya itu dan implikasinya pad­a kebijakan penanggulangan TB di Papua. Misalnya, siapa yang mempunyai pengetahuan yang cukup, sikap yang positif dan perilaku yang baik. Yang lebih penting lagi, kalau meman­g itu adalah faktor yang penting, bagaimana meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku itu di masyarakat Papua?  Memang perlu ada diskusi antar-peneliti dengan pembuat kebijakan di Papua, agar pene­litia­n yang cukup baik ini bisa diaplikasikan.  (Purnawan Junadi)

 

1http://www.who.int/tb/publications/global_report/gtbr14_executive_summary.pdf?ua=1 di akses 12 Juli 2015

2http://www.tbindonesia.or.id/2014/03/26/today-is-world-tb-day-help-us-get-to-20000-signatures/ di akses 12 Juli 2015

3http://www.tbindonesia.or.id/2013/04/18/serah-terima-penghargaan-tb-award/ di akses 12 Juli 2015

4BadanPenelitian Dan PengembanganKesehatanKementerianKesehatan RI,RisetKesehatanDasarRiskesdas 2013, hal 104

5http://www.depkes.go.id/article/view/15022600005/kegiatan-survei-prevalensi-tb-di-indonesia-diapresiasi-who.html di akses 12 juli 2015.

Meningkatkan Kemampuan Penegakan Diagnosis Gagal Jantung di Pelayanan Kesehatan Primer

 

Sekitar 1-2% populasi dewasa di negara-negara berkemban­g menderita gagal jantung, dengan prevalensi yang meningkat >10% pada usia 70 tahun atau lebih. Di Amerika Serikat saja, diketahui ada lebih dari 6 juta orang penderit­a gagal jantung dan setiap tahunnya sekitar 670.000 orang didiagnosis dengan gagal jantung. Penyakit ini adalah penyebab utama diperlukannya rawat inap bagi orang berusia di atas 65 tahun.

Read More

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish