Pada edisi Maret 2016, ini MEDIKA menghadirkan sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Hadiki Habib, dkk., dari Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C) dengan judul Rapid Health Assesement Masyarakat Suku Bajau Palau di Tanjung Batu, Kalimantan Timur. Peneliti melakukan survei dengan memeriksa kesehatan 548 orang dari suku Bajau Palau yang merupakan suku nomaden di laut yang berasal dari perairan Malaysia. Mereka ditampung oleh polisi perairan di Tanjung Batu, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Anak daerah terpencilPelayanan kesehatan di daerah perbatasan memang memiliki karakteristik spesifik. Tidak hanya interaksi masyarakat dari negara tetangga yang mungkin banyak memengaruhi status kesehatan, tetapi juga tantangan pelayanan kesehatan di daerah terpencil dan perbatasan. Masih rendahnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan primer ditandai oleh sarana transportasi sangat terbatas dengan biaya yang mahal, jumlah tenaga kesehatan yang minim, serta obat dan sarana prasarana penunjang yang terbatas.

Sudah selayaknya fokus pembangunan pemerintah saat ini diprioritaskan pada upaya percepatan dan atau perlakuan khusus untuk pembangunan kesehatan Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan (DTP). Hal ini tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 331/MENKES/SK/V/2006 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2005-2009. Terdapat enam strategi yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2010, yaitu menggerakkan dan memberdayakan masyarakat di DTPK; meningkatkan akses masyarakat DTPK terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas; meningkatkan pembiayaan pelayanan kesehatan di DTPK; meningkatkan pemberdayaan SDM Kesehatan di DTPK; meningkatkan ketersediaan obat dan perbekalan serta strategi; serta meningkatkan manajemen Puskesmas di DTPK, termasuk sistem surveilans, monitoring dan evaluasi, serta Sistem Informasi Kesehatan.

Dalam mewujudkan ketersediaan SDM Kesehatan, Kementerian Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1231 tahun 2007 tentang Penugasan Khusus Sumber Daya Manusia Kesehatan mendorong untuk pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat di daerah terpencil, sangat terpencil, tertinggal, perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, daerah yang tidak diminati, serta daerah rawan bencana dan konflik sosial.

Dalam penugasan khusus tersebut, tenaga kesehatan berhak atas biaya perjalanan pulang-pergi dari provinsi domisili terakhir, insentif dari pemerintah pusat, dan uang makan per bulan. Dalam Permenkes tersebut, waktu penugasan disebutkan minimal tiga bulan dan dapat diperpanjang sesuai ketentuan.

Meski demikian, cerita mengenai beratnya kondisi yang harus dialami oleh tenaga kesehatan di daerah tersebut masih saja dirasakan. Beberapa bulan terakhir, kita mendapat berita mengenai meninggalnya dokter dan bidan yang bertugas di daerah terpencil. Ada juga dokter internship yang juga meninggal karena kesulitan dalam proses rujukan ke fasilitas kesehatan lain.

Kondisi ini tentu menjadi pemikiran bersama untuk memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan di DTPK serta memperbaiki kondisi tenaga kesehatan yang bertugas atau yang akan bertugas ke daerah tersebut. Berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal RI, kita memiliki 183 daerah tertinggal yang salah satu kriterianya adalah keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi, transportasi, air bersih, irigasi, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lain yang menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal tersebut mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.

Beberapa langkah konstrtuktif untuk memperbaiki kualitas kesehatan di DTPK antara lain: Pemenuhan sarana dan prasarana kesehatan primer yang sesuai dengan standar pelayanan; Pemenuhan saranan transportasi untuk rujukan sesuai dengan topografi; Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan yang ada. Khusus untuk dokter perlu diberikan keterampilan kompetensi tambahan yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengurangi angka rujukan ke fasilitas tingkat sekunder. Selain itu, perlu kebijakan sistem reward atau insentif tersendiri bagi tenaga kesehatan di DTPK untuk mengurangi angka kekurangan tenaga yang dibutuhkan.

Kebijakan ini tentu harus dapat disinergiskan dengan kebijakan sistem Jaminan Kesehatan Nasional dengan target cakupan nasional/Universal Health Coverage di tahun 2019. Diharapkan di masa depan status kesehatan di seluruh Indonesia, terutama di DTPK, menjadi lebih baik. Semoga. (MP)

Pengaruh Asam Urat

 

Asam urat adalah istilah awam di masyarakat untuk penyakit pada persendian. Secara ilmiah, asam urat atau uric acid adalah senyawa yang dihasilkan dari katabolism­e purin. Purin sendiri adalah komponen utama dari DNA, RNA, dan koenzim. Kelebihan jumlah asam urat di dalam darah (hiperurisemia) sebagian besar terjadi karena dua hal, yaitu konsumsi berlebihan makanan yang mengandung purin (seperti jeroan, makanan laut, makanan kaleng, kaldu, kacang-kacangan, emping/melinjo) dan mengalami masalah pada ginjal sehingga mengganggu pembuangan asam urat melalui urin.

Read More

Tuberkulosis, Sebuah Gambaran Suram Dunia

 

Tuberkulosis (TB) adalah sebuah gambaran suram di dunia.  Dalam laporan TB di dunia terbaru, pada tahun 2013 saja terdapat sekitar 9 juta orang menderita TB, dengan sekita­r 1,5 juta orang meninggal. Sekitar separuh dari penderita TB ini berada di Asia Tenggara dan Pasifik Barat.[1]Saya harus setuju denga­n Phumeza Tisile, salah seorang penderita XDR TB yang berhasil sembuh, yang mengatakan bahwa tidak ada yang harus dirayakan pada Hari TB Sedunia. Mengapa? Karena menurutnya hanya 1 dari 5 orang penderita TB resistan mendapat diagnosis dan terapi yang benar, serta hanya separuh yang menda­pat pengobatan sembuh.[1]

Read More

Di Indonesia, ada gambaran suram yang sama. Ketika banyak orang berharap prevalensi TB menurun, apalagi karena kita mendapat­kan Champion Award for Exep­tional Work in the Fight Againts TB yang diperoleh dari Global Health USAID atas prestasi luar biasa dalam penanggulangan TB bertepatan dengan Peringat­an Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2013,1 prevalensi penduduk Indonesia yang didiagnosis TB paru oleh tenaga kesehatan tahun 2013 adalah 0,4 persen, tidak berbeda dengan 2007. Lima provinsi dengan TB paru tertinggi adalah Jawa Barat (0,7%); Papua (0,6%); DKI Jakarta (0,6%); Gorontalo (0,5%); Banten (0,4%); dan Papua Barat (0,4%).[1]

Seakan-akan untuk memastikan meningkatnya prevalensi TB, sebuah survei prevalensi TB yang lebih besar dilancarkan pad­a 2013. Survei itu dinyatakan memiliki standar yang tinggi. Di antara­nya, mencakup 100% kabupaten/kota di Indonesia dengan partisipasi cukup tinggi, yakni 88,7%; skrining dilakukan dengan menggunakan dua metode, yakni kuesioner mengenai tanda dan gejala TB, serta pemeriksaan dada menggunakan sinar X-ray disert­ai tingkat pengumpulan dahak (sputum) cukup tinggi, yakni 98% di antara mereka yang diduga positif.[1] Namun sampai sekarang belum dijelaskan hasilnya. Rumor nya prevalensi bahkan meningkat 3 kali.

Dalam kaitan itu, kita menerima sebuah artikel penelitian yang dilakukan di Papua, salah satu provinsi dengan prevalensi TB yang tinggi, dan dengan performans DOTS yang makin menurun, dari 76% pada 2005, menurun terus  hingga 47,9% pada 2009.

Artikel itu berjudul “Sikap Pencegahan Penularan TB yang Baik dan Faktor Lain yang Mempertinggi Kemungkinan Kesembuhan TB” dilakukan oleh Tri Nury Kridaningsih, staf dari Balai Litbang Biomedis Papua. Artikel tersebut kami muat dalam Medika edisi No. 8, Tahun ke XLI, Agustus 2015.

Hal yang menggembirakan adalah karena penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan yang mempertin­ggi kesembuhan TB. Kridaningsih menemukan bahwate­rdapat empat faktor dominan yang berpengaruh terhad­ap kesembuhan pasien TB, yaitu faktor pengetahuan ten­tan­g gejala/penyebab TB, sikap terhadap pencegahan/ penularan TB, perilaku terhadap pencegahan TB seperti keteraturan minum OAT, dan kebiasa­an membuka jendela rumah. Faktor yang paling dominan adalah faktor sikap terhadap pencegah­an/penularan TB. Subjek yang memiliki sikap dan perhati­an cukup jika dibandingkan denga­n yang kurang, me­miliki peluang 7,8 kali untuk sembu­h.

Faktor kedua yang domina­n adalah perilaku terha­dap pencegahan TB, yaitu kebiasaan membuka jende­la rumah. Subjek yang memiliki kebiasaan membuka jendel­a rumah tampaknya memiliki kemam­puan 4,47 kali sembuh.

Komentar saya terhadap penelitian Kridaningsih, kurang mendalamnya diskusi tentang penemuannya itu dan implikasinya pad­a kebijakan penanggulangan TB di Papua. Misalnya, siapa yang mempunyai pengetahuan yang cukup, sikap yang positif dan perilaku yang baik. Yang lebih penting lagi, kalau meman­g itu adalah faktor yang penting, bagaimana meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku itu di masyarakat Papua?  Memang perlu ada diskusi antar-peneliti dengan pembuat kebijakan di Papua, agar pene­litia­n yang cukup baik ini bisa diaplikasikan.  (Purnawan Junadi)

 

1http://www.who.int/tb/publications/global_report/gtbr14_executive_summary.pdf?ua=1 di akses 12 Juli 2015

2http://www.tbindonesia.or.id/2014/03/26/today-is-world-tb-day-help-us-get-to-20000-signatures/ di akses 12 Juli 2015

3http://www.tbindonesia.or.id/2013/04/18/serah-terima-penghargaan-tb-award/ di akses 12 Juli 2015

4BadanPenelitian Dan PengembanganKesehatanKementerianKesehatan RI,RisetKesehatanDasarRiskesdas 2013, hal 104

5http://www.depkes.go.id/article/view/15022600005/kegiatan-survei-prevalensi-tb-di-indonesia-diapresiasi-who.html di akses 12 juli 2015.

Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish