Penegakkan Diagnosis dan Penatalaksanaan PPOK di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

 

MAHESA PARANADIPA

Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Pendahuluan

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu kelompok penya kit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh meningkatkan usia harapan hidup dan semakin tingginya pajana n faktor risiko. Usia harapan hidup di Indonesia meningkat dari 68,6 tahun di 2004 menjadi 70,8 tahun di 2015. Pada tahun 2035 diper kirakan meningkat lagi menjadi 72,2 tahun. Sedangkan mengenai faktor risiko, salah sa tu nya adalah meningkatnya jumlah perokok, di mana prevalensi perokok dari 27% pada tahun 1995 menjadi 36,3% di tahun 2013. Lebih memprihatinkan lagi adalah kebiasaan buruk merokok meningkat 3 kali lipat pada generasi muda yaitu remaja usia 16-19 tahun dari 7,1% pada tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014 (Kemenkes RI, 2016).

Read More

Panduan Praktik Klinik  Serumen Prop

 

MAHESA PARANADIPA

Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Pendahuluan

Serumen adalah sekret kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas, dan partikel debu yang terdapa t pada bagian kartilaginosa liang telinga. Bila serumen ini berlebihan maka dapa t membentuk gumpalan yang menumpuk di liang telinga, dikenal dengan serumen prop.

 Dalam laporan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tahun 2015, impacted serumen termasuk dalam diagnosis terbanyak yang dirujukkan oleh fasilitas kesehat an tingkat pertama (FKTP) ke fasilitas kesehatan tingkat rujukan lanjut (FKTRL). Penyakit ini masuk dalam 1,54 juta kasus non-spesialistik yang ditangani di rumah sakit.

Read More

Panduan Praktik Klinik Tuberkulosis Paru pada Dewasa

 

MAHESA PARANADIPA

Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


 

Pendahuluan

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB, yaitu Mycobacterium tuberkulosis. Kuman ini tergolong dalam kuma n Basil Tahan Asam (BTA). Sebagian besa r kuman TB menyerang paru, namun dap at juga mengenai organ tubuh lain. Kuman TB ditularkan melalui udara, melalui percikan dahak atau droplet penderita TB. Seseorang yang tertular dengan kuman TB belum tentu langsung menderita TB karena kuman ini dapat menjadi tidak aktif (dormant) selama bertahun-tahun.

Sejak tahun 2003, diperkirakan masih terdap at 9,5 juta kasus baru TB, dan sekitar 0,5 juta orang meninggal akibat TB di seluruh dunia (WHO, 2009). Pada laporan WHO tahun 2013 diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB pada tahun 2012 di mana 1,1 juta orang (13%) di antaranya adalah pasien denga n HIV positif.

Indonesia termasuk dalam 5 besar negara dengan beban TB dari 22 negara di dunia. Kontribusi TB di Indonesia sebesar 5,8%. Indonesia sebenarnya berpeluang mencapai penurunan angka kesakitan dan kematian akibat TB menjadi setengahnya pada tahun 2015 jika dibandingkan dengan data tahun 1990. Angka prevalensi TB yang pada tahun 1990 sebesar 443 per 100.000 penduduk, pada tahun 2015 ditargetkan menjadi 280 per 100.000 penduduk. Berdasarkan hasil survei tahun 2013, prevalensi TB paru smear positif per 100.000 penduduk umur 15 tahun ke atas sebesar 257. Angka notifikasi kasus (case notification rate/CNR) pada tahun 2015 semua kasus sebesar 117 per 100.000 pendudu k. Saat ini timbul kedaruratan baru dalam penanggulangan TB, yaitu TB resistan multiobat (Multi Drug Resis - tance/ MDR).

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya..