PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Edisi Mei 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya!
camera slider joomla

Mayoritas pasien dengan DM tipe 2 mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup harus didorong secara keselu­ruhan. Untuk mengatasi hal tersebut, ada suatu solusi yang bermanfaat untuk me­ngen­dalikan gula darah pasien diabetes disertai dengan efek penurunan berat badan, yaitu dengan pendekatan terapi GLP-1 reseptor agonist dan metfor­min. Beberapa faktor seperti menurunnya kadar glukosa, disfungsi sel beta secara progresif, produksi glukosa hepatik, gangguan inkretin, kurangnya penekanan glukagon, meningkatnya transport glukosa ginjal, dan peningkatan lypolisis turut berkontribusi terhadap DM tipe 2.

Agust 2013_Kegiatan3_Gambar 1Efek inkretin diproduksi oleh saluran cerna setelah adanya asupan glukosa oral. Respon sekresi insulin yang dihasilkan bisa mencapai 70%. Pada pasien diabetes tipe 2, efek inkretin berkurang. Terapi berbasis inkretin memiliki keunggulan karena efek hipoglikemik yang ditimbulkan sangat rendah. Umumnya, risiko hipoglikemia meningkat dengan semakin ketatn­ya terapi yang diberikan. Begitu pula, kebanyakan terapi juga menyebabkan kenaikan bera­t badan dari waktu ke waktu.

Pasien dengan diabetes memiliki tantangan besar bagi kemajuan hidupnya dan pera­watan saat ini kurang efektif. Pencegahan hipoglikemia dan pencegahan kenaikan berat badan adalah tujuan terapi yang penting mengingat peningkatan mortalitas pada pasien DM tipe 2 karena peningkatan insiden hipog­likemia. Memodifikasi diet untuk membatasi dan kontrol asupan glukosa juga dikenal dapa­t membantu proses terapi DM tipe 2, terutama di awal perjalan­an perkembangan penyakit itu.

GLP-1 (Glucagon Like Peptida 1) adalah hormon yang dihasilkan oleh sel L pada sa­luran pencernaan, tepatnya terdapa­t pada ileum dan kolon, dari produk transkripsi gen proglukagon dan digolongkan sebagai inkretin. Seperti juga glukagon, GLP-1 mengalami proteolisis terbatas dalam proses sintesanya. GLP-1 mempunyai waktu paruh kurang dari 2 menit karena reaksi degradasi enzim dipeptil peptidase-4 (DPP-4). GLP-1 memiliki bebe­rap­a kapasitas fisiologis yang bermanfaat pada diabetes, antar­a lain untuk membuat pankreas lebih reaktif terhadap glukosa darah dan mening­kat­kan sekresi insulin, menurunkan sekresi glukagon dari sel alfa di pankreas, meningkatkan massa sel beta dan ekspresi gen insuli­n, serta menekan sekresi asam lambung dan kadar gas lambung.

Respons insulin pada tingkat fisiologis GLP-1 bisa terganggu pada diabetes melitus tipe 2, namu­n bisa diperbaiki dengan pemberian dosis farmakologis dengan GLP-1 reseptor agonist. Menurut Prof. Sidartawan, GLP-1 reseptor agonist dan DPP-4 inhibit­or merupakan dua pilihan pengobatan berbasis inkretin yang berbeda. “Tindakan langsung dari GLP-1 reseptor agonist pada target bersifat eksogen, sedangkan action dari DPP-4 inhibi­tor bersifat endogen,” tutu­r Beliau.

Dari semua yang disampaikan oleh Prof. Sidartawan mengenai kontrol gula darah dan berat badan pada DM tipe 2, dapat disimpulkan bahwa GLP-1 reseptor agonist merupakan alternatif yang tepat bagi penderita diabetes melitus tipe 2. GLP-1 reseptor agonist dapat dijadikan pilihan utama pada pasien diabetes dengan kegemukan. (Nizar)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish