steroids
Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVII - 2011 - Kegiatan

Penatalaksanaan Hipertensi untuk Mencegah Infark Miokard

 

Hipertensi merupakan masa­lah kesehatan utama yang mengakibatkan dampak yang luas terhadap berbagai organ. Dampak hipertensi yang paling nyata adalah penyakit kardiovas­kular seperti penyakit jantung koroner dan infark miokard. Selain perubahan gaya hidup, upaya penatalaksanaan hiper­ten­si dilakukan dengan farma­ko­terapi.  Salah satu agen hiper­tensi yang digunakan dalam farma­koterapi adalah angiotension-converting enzyme (ACE) inhibitors. Demikian ulasan yang mengemuka dalam sesi Hyper­tension and Cardiovascular Protection yang merupakan bagian dari Weekend Course on Cardiology (WECOC), di Jakarta, 23 Oktober 2011.

Berkaitan dengan peng­guna­an ACE-I dalam penatalaksanaan hipertensi, Dr. Nani Hersunarti, SpJP, menyatakan bahwa ACE-I merupakan agen antihipertensi yang menghambat korversi angiotensin I ke angio­tensin II, dan mencegah degradasi bradikinin. ACE-I telah diketahui dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular, terutama melalui efek antihipertensif-nya. Aktivasi renin-angiotensin system (RAS) berperan penting dalam patogenesis penyakit kardiovaskular melalui mekanisme tekanan da­rah independen yang dimediasi oleh angiotensin II.

Beliau juga menyatakan studi preklinik yang menyarankan bahwa efek penurunan tekanan darah bukan satu-satunya efek  perlindungan ACE-I atas organ dan jaringan. Lebih jauh, studi klinis yang mengevaluasi efek pada organ dan penanda pengganti menunjukkan bahwa agen ini memiliki efek tekanan darah independen. Efek ini dapat diklasif­ikasikan menjadi efek kardioprotektif yang meliputi hemodinamik jantung secara keseluruhan, stabilitas elektrik, dan penurunan massa ventrikel kiri; efek vaskularprotektif yang berkaitan langsung dengan efek antiproliferatif, memiliki potensi antiaterogenik, dan efek meka­nis­me trombotik.

“Imidapril merupakan go­long­an baru ACE-inhibitors,” kata dr. Nani. Sebagai ACE-inhib­itor, imidaprilat setara denga­n enalaprilat dan dua kali lebih kuat dibandingkan dengan captopril. Pada pasien dengan hipertensi, tekanan darah tetap stabil selama 24 jam setelah pemberian imidapril. Efek antihipertensif imidapril bergantung pada dosis dimana penurunan tekanan darah maksimal dan plasma ACE dicapai dengan imida­pril 10 mg per hari. Efek tambahan tidak dicapai dengan dosis yang lebih tinggi. Bila diberikan pada pasien infark miokard akut, imidapril memperbaiki left ventricular ejection fraction dan menurunkan kadar plasma brain natriuretic peptide (BNP). Pada pasien dengan gagal jantung ringan sampai sedang, imidapril meningkatkan waktu latihan dan kapasitas kerj­a fisik serta menurunkan plasma atrial natriuretic peptide (ANP) dan kadar BNP yang terkait dengan dosis.

Pada kesempatan yang sama, dr. Budi Yuli Setianto, SpJP, FIHA, FINASIM, menyata­kan bahwa dalam hipertensi, peningkatan tekanan sistolik 20 mm Hg dan tekanan diatolik 10 mm Hg dapat meningkatkan mortilitas yang bermakna. “Padahal bila kita dapat me­nurun­kan 2 mm Hg saja, akan menurunkan angka kejadian kematian penyakit jantung sebesar 7% dan menurunkan stroke 10%,” katanya. Selama ini, peng­obatan hipertensi yang berfokus pada perubahan gaya hidup ditargetkan mencapai angka 140/90 mm Hg. Untuk pengobatan hipertensi dengan penyakit penyerta seperti penyakit ginjal kronik targetnya berbeda.

Untuk menurunkan tekanan darah secara efektif digunakan antihipertensi. Antihipertensi yang efektif dan dapat dito­leran­si dengan baik ada 6 golong­an, seperti diuretik, angiote­nsin receptors blockers (ARB), calcium channel blockers (CCB), agiotensin converting enzy­me inhibitors (ACEI), alfa blockers, dan beta blockers. Beta blockers dalam pengobat­an hipertensi memiliki beberapa keuntungan, seperti memiliki efek antiaterogenik, antiaritmia dengan menurunkan heart rate, dan anti-iskemik.

Studi yang menggunakan beta blockers sudah banyak dilak­ukan, baik sebagai terapi utama maupun sebagai pencegahan sekunder. Pada pasien pasca infark miokard, pemberi­an beta blockers dapat menurunkan angka kematian secara keseluruhan menjadi di bawah 22%. Tak mengherankan jika beta blockers direkomendasikan dalam kelas IA, yakni pada peng­­gunaan beta blockers paska-infark miokard, sindrom ko­ro­n­er akut, dan pada pasien left ventricular sistolic disfunction.

Pemilihan beta blockers di­ses­uaikan dengan kondisi pasien yang dihadapi dan disesuaikan dengan karakteristik beta blocker­s seperti selektivitasnya, lipofilisitasnya, eliminasi, dan  ekskresinya. Bisoprolol merupa­kan beta blockers yang lebih selektif dibandingkan dengan beta blockers lain. Salah satu bisoprolol yang beredar di pasaran ada­lah Maintate yang diproduksi PT Tanabe Indonesia.  (hidayati)
 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm