PRIVILEGE CARD™ Medika

1.Member PCM dibuat sebagai bentuk apresiasi pengabdian untuk tenaga medis di seluruh Indonesia. 2. Sebagai bentuk mobilitas tinggi yang diberikan oleh PT Medika Media Mandiri untuk semua tenaga medis di seluruh Indonesia. 3. Memfasilitasi pendukung dalam pemenuhan kebutuhan resertifikasi tenaga medis di seluruh Indonesia.

Lomba Foto

Diadakan sampai 28 Februari 2016

Edisi Januari 2016

Segera berlangganan dan dapatkan keuntungan menarik lainnya
camera slider joomla

Peningkatan angka kejadian DM ini terjadi di hampir di semua negar­a, termasuk Indonesia. Peringkat Indonesia bahkan naik dari peringkat 9 menjadi peringkat 7 negara dengan pende­rita DM terbanyak di dunia,” ungkap Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FACE, dalam semarak peringatan World Diabetes Day (WDD) 2012 di Jogja­karta, 18-19 November yang lalu.

“Hal yang lebih mengenaskan, 50% penderita DM ternyata tidak mengetahui bahwa dirinya meng­ida­p DM, dan di Indonesia ke­tidak­tahuan ini ada pada 74% pasien DM,” lanjut Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) ini. Oleh karena itu, tak berlebihan bil­a edukasi diseb­ut ber­pe­ran­an penting dalam manajemen penyakit metabolik ini.

Hari Diabetes Dunia sebenarnya diperingati setiap 14 November yang merupakan tanggal lahir Frederick Banting, tokoh yang berjas­a di balik penemuan insulin. Jogjakarta ter­pilih menjadi kota tempat penyelenggaraan acara punca­k hari diabetes sedunia di Indonesia setelah sebelumnya Persadia mengadakan roadshow ke berbagai kota di Indonesia, yakni Makassar, Palem­bang, Medan, dan Surabaya.

Novo Nordisk dengan mottonya “Changing Diabetes” selalu ber­partisip­asi aktif dalam seluruh rangkaian acara World Diabetes Day di seluruh Indonesia, termasuk dalam WDD Jogja ini. Tema “Protect our future” sengaja diambil untuk mengingatkan bahwa aksi nyata memerangi DM harus dimulai dari sekarang demi melindungi generasi penerus kelak.

Acara diawali dengan senam diab­etes yang diikuti oleh lebih dari 500 anggota Persadia cabang Jogja, Klaten, Cilegon, Medan, Surabaya, dan berbagai kota di Indonesia lainny­a. Dengan berseragam kaos berwarna biru muda, peserta kemudian diminta membentuk lingkaran sesuai lambang WDD. Lingkaran dipilih sebagai simbol WDD untuk melambangkan diperlukannya kesatu­an seluruh bangsa di dunia dalam upaya pencegahan diabetes dan warna biru mencerminkan ang­kasa sekaligus warna lambang PBB.

Setelah bersama-sama melaku­kan senam diabetes, peserta kemudian antusias mengikuti talkshow yang dipimpin oleh dr. Roy Sibarani, SpPD-KEMD. “DM dapat disebab­kan oleh kekurangan atau resistansi hormon insulin dalam tubuh. Adapun insulin diperlukan untuk “menghantar” gula masuk ke dalam sel. Karena ada gangguan insulin, gula hanya menumpuk di dalam darah dan menyebabkan kerusakan berbagai organ,” papar dr. Bowo Pramono, SpPD-KEMD, selaku pembicara pertama. Bahasa yang mudah dimengerti sengaja digunakan Bowo mengingat porsi terbesar pesert­a acara ini adalah awam. “Bila terus dibiarkan, kadar gula darah yang tinggi ini akan membawa kom­plikasi di berbagai organ. Misalnya, retinopati hingga kebuta­an, gagal ginjal yang mengharuskan pasien cuci darah, serangan jantung, neuropati dengan gejala kesemut­an dan baal, stroke, serta impotensi,” terang Dr. Bowo Pramono, SpPD-KEMD.

Untuk mencegah terjadinya komplikasi, diabetisi harus memahami pilar penanganan DM agar kestabila­n kadar gula darah dapat terjaga. Pertama, manajemen diet yang sehat dan seimbang. “Porsi makan satu hari yang umumnya dibagi menjadi 3 kali harus diubah menjadi 6 kali. Pola makan “sedikit tapi sering” ini akan membantu menstabilkan kadar gula dalam darah. Atur dan hitung pula jenis serta jumlah kalori yang dimakan dengan berkonsultasi pada ahli gizi,” jelas Bowo. Kedua, pasien DM dianjurkan untuk berolahraga aerobi­k (misalnya lari, jalan, renang, senam) setiap hari secara teratur selam­a 30 menit karena dapat membantu meningkatkan sensiti­vita­s insulin. Ketiga, hindari stres dengan cara aktif dalam kegiatan rohani, mengembangkan hobi, dan melakukan rekreasi. Keempat, mengon­sumsi obat sesuai petunjuk dokter dan kontrol teratur tanpa per­lu menunggu datangnya ke­luhan. Kelima, selalu berusaha memiliki pengetahuan yang baik tentang DM dengan mencari infor­ma­si di berbagai media, aktif ber­tanya pada dokter, dan mengikuti kegiatan organisasi di bidang DM, misalnya Persadia.

Semua hal di atas diamini oleh dr. Ida Ayu Kshanti, SpPD-KEMD, sela­ku pembicara kedua. Ia ditugasi untuk membawakan materi me­nge­n­ai diagnosis dan terapi farma­kologi­s DM. “Seseorang dicurigai menderita DM bila mengalami gejala 3 P, yaitu polidipsi, polifagi, dan poliuri. Diagnosis DM kemudian ditegakkan bila kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dL atau kadar glu­kosa darah sewaktu > 199 mg/dL,” papar Ida. Lebih lanjut, pada penyandang DM, kriteria gula darah terkontrol dicapai bila gula darah puasa berkisar antara 80-99 mg/dL atau gula darah 2 jam postprandial tidak lebih dari 139 mg/dL.

Anggota Perhimpunan Edu­kator Diabetes Indonesia (PEDI) ini kemudian menyebutkan berbagai jenis obat antidiabetik (OAD) oral beserta mekanismenya. “Pada kondi­si DM yang tidak terkontrol dengan kombinasi OAD oral maksimal, DM pada kehamilan, ataupun pertimbangan dokter lainnya, akan digunakan insulin,” pungkas Ida. Insulin digolongkan berdasarkan waktu kerjanya, yaitu insulin kerja cepat, insulin kerja pendek, insulin kerja menengah, dan insulin kerja panjang. Waktu kerja ini yang akan menentukan cara pemberian pada pasien. Insulin kerja cepat, misalnya, disuntikkan 15-20 menit sebelum makan.

Dinilai berperan dalam edukasi DM pada masyarakat, media turut dilibatkan dalam peringatan WDD Jogja ini. Konferensi pers digelar seusai rangkaian acara WDD Jogja, menghadirkan Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FACE, selaku Ketua Persadia, Ibu Ekowati Rahajeng, SKM, MKES me­wakili Kementerian Kesehatan, Dr. Ida Ayu, SpPD-KEMD mewakili PEDI, Dr. Bowo Pramono, SpPD-KEMD sebagai perwakilan Perkeni cabang Yogyakarta, serta Bapak Sandeep Sur dari Novo Nordisk Indonesia.

Segenap tokoh yang hadir tersebut menekankan kembali bahw­a diabetes adalah masalah bersama yang membutuhkan kerja sama seluruh pihak untuk menekan angka prevalensinya yang semakin menanjak. Upaya memerangi DM juga harus dilakukan dengan serius demi melindungi generasi penerus bangsa. “Kemenkes meminta ke­sedia­an seluruh pihak, dari dokter, paramedis, serta awam, untuk berperan aktif memerangi diabetes, mensosialisasikan gaya hidup sehat, dan menyebarkan informasi me­ngen­ai diabetes sampai ke seluruh pelosok Indonesia,” tegas Rahajeng.

Akhirnya, di malam hari, sebagai puncak acara, dilakukan penya­laan lampu biru yang menyoroti Candi Prambanan (Prambanan Light Celebration) dan penyampaian diabet­es statement oleh berbagai organisasi terkait: Persadia, PEDI, dan Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni). Mewakili Persadia, Sidartawan mengingatkan bahwa DM merupakan masalah besa­r, terbukti dari kenaikan pre­valensinya yang semakin tidak ter­ken­dali. Prof. dr. Ahmad Rudijanto, SpPD-KEMD sebagai Ketua Perkeni dengan tegas me­nyampaikan bahwa penanggu­langa­n DM mem­bu­tuh­kan usaha bersama. Ida mewa­kili PEDI mene­kankan pentingnya edukasi bagi penanganan DM dan memotivasi  segenap yang hadir untu­k menjadi edukator DM.

Sendratari Ramayana dengan apik menutup rangkaian acara peringatan hari diabetes sedunia ini, sekaligus membawa harapan baru bagi penanganan DM yang lebih baik demi melindungi masa depan bangsa. Semoga! u (Olga)


Translate

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Login Form

Who's Online

Kami memiliki 47 tamu dan tidak ada anggota online