14.07-KEG12-GBR12Acara pembukaan KPPIK 2014 dilakukan di Ballroom A dan B Hotel Shangri-La pada Sabtu, 31 Mei 2014. Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secar­a bersama-sama. Selanjut­nya, dilakukan laporan resmi oleh ketua KPPIK 2014, dr. Salim Haris, SpS(K), FICA. Dalam laporan­nya, dr. Salim Haris mengat­akan bahwa rangkaian kegiatan KPPIK telah dimulai seja­k 21 Maret 2014 dengan dilaku­kannya berbagai kegiatan kursus. “Kegiatan dimulai denga­n kursus kedaruratan respira­si pada 21 Maret 2014 di ruang kuliah Rumah Sakit Persahabatan Jakarta dan diakhiri dengan simposium yang berlangsung selama dua hari di Hotel Shangri-La Jakarta,” ungkapnya. Rangkaian KPPIK 2014 terdiri dari course, memorial lecture, symposium,  plenary lecture, poster exhibition, dan meet the expert.

Kegiatan KPPIK 2014 diikuti oleh sekitar 250 peserta kursus dan lebih dari 1000 peserta simposi­um yang terdiri dari para praktisi dan profesional kedokteran. Di penghujung penyampaian laporannya, dr. Salim mengucapkan terima kasih kepada semua panitia dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Beliau pun berharap ke­giatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para dokter agar menjadi dokter yang bermanfaat dan amanah.

Keynote speech dibawakan oleh Wakil Dekan FKUI, dr. Ponco Birowo, SpU(K), PhD, yang membahas tema KPPIK 2014 “How to Solve Common Problems in Daily Practice”. Menurut penilaiannya, tema tersebut menarik karena mulai tahun 2014 para dokter mengha­dapi perubahan sistem pelayanan kesehatan, yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pada sistem ini, dokter yang berpraktik di fasilitas kesehat­an (faskes) primer merupa­kan garda terdepan yang memberikan pelayanan primer kepada masyarakat. “Perlu digarisbawahi bahwa titik berat pelayanan primer adalah promotif dan preventif,” tegasnya. Selanjutnya, Dr. Ponco menjelaskan bahwa  diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menangani kasus atau masalah kesehatan sehari-hari sehingga fungsi faskes dapat berjalan dengan baik dan mengurangi kasus rujuk­an ke faskes tingkat berikutnya yang tidak perlu.

Undang-undang No. 20 Tahun 2013 tentang pendidikan kedokteran telah membawa satu terminologi baru, yaitu dokter pelayanan primer. Salah satu pasalnya menjelaskan bahw­a dokter pelayanan primer inilah yang bertugas di faskes primer untuk melakukan pe­napis­an rujukan ke faskes tingkat kedua serta melakukan kendali mutu dan biaya sesuai dengan standar kompetensi dokter dalam upaya JKN. Lalu, Permenkes No. 5 Tahun 2014 tentang panduan klinis dokter di faskes primer, sekurang-kurang­nya harus menguasai 150 pe­nya­kit. Dokter di faskes primer juga dituntut mampu mendiagnosis, melakukan penatalaksa­naan secara tuntas atau sementara, serta melakukan rujukan yang tepat. Oleh karena itu, pad­a kegiatan KPPIK ini para dokter akan memperoleh pe­nye­garan dan update mengenai ilmu yang berkembang saat ini sehingga dapat diimplementasi­kan di tempat praktik dengan benar.

Pada akhir pidatonya, dr. Ponco menyampaikan harapan dan terima kasih ke berbagai piha­k. Harapannya adalah semo­ga kegiatan ini dapat memberikan kontribusi besar untuk ikut memperbaiki sistem pelayanan kesehatan di Indo­nesia dan sebagai salah satu cara untuk terus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Ucapan terima kasih ditujukan untuk semua pihak yang membantu dan berpartisipasi dalam kegiatan KPPIK 2014. Pembukaan KPPIK 2014 ditandai dengan pemukulan gong oleh dr. Ponco bersama-sama dengan Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI, FINASIM; dr. Salim Haris, SpS (K), FICA; Prof. Dr. dr. Chaula Sukasah, SpBP; dan dr. Firdaus Saleh, SpU.  (KK)