Koinfeksi HIV dan Penanggulangannya

Tanggal : 09 Jul 2020 16:14 Wib


      Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) masih menjadi salah satu penyakit yang dikhawatirkan penyebarannya di seluruh dunia. UNAIDS dan WHO memperkirakan AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta juwa sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1981. Hal ini pula yang menyebabkan penghilangan stigma bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sangatlah sulit. Di Indonesia sendiri tercatat sebanyak 349 juta penderita HIV/AIDS pada pertengahan tahun 2019. Antara tahun 200 hingga 2018, infeksi HIV/AIDS terjadi penurunan 37 persen dan kematian terkiat HIV/AIDS turun 45 persen. Sebanyak 13,6 juta jiwa selamat karena mengkonsumsi antiretroviral (ARV). Namun Kementerian Kesehatan masih mencatat sebanyak 23 persen ODHA putus pengobatan ARV, padahal obat tersebut bisa didapatkan secara gratis di puskesmas di hampir seluruh provinsi di Indonesia.
 
     Kementerian Kesehatan RI menerapkan stratego STOP untuk menghentikan endemi HIV/AIDS. STOP dijabarkan menjadi S (Suluh) yaitu edukasi kepada masyarakat, T (Temukan) melalui percepatan tes dini, O (Obati) pengobatan kepada ODHA dengan segera pemberian ARV, dan P (Pertahankan) dengan menjaga tetap di atas 90 persen ODHA dengan terapi ARV tidak terdeteksi virus. Saat ini koinfeksi ODHA denagn virus Hepatitis C menjadi perhatian serius. Adanya kesamaan cara penyebaran infeksi HIV  dengan infeksi virus Hepatitis C (HCV) menyebabkan tingginya angka kejadian koinfeksi HIV dan HCV. Oleh karenanya skrining terhadap pasien HCV untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi HIV perlu dilakukan. Dengan terdeteksinya antibodi HCV, tidak memastikan adanya infeksi yang aktif, sekitar 10-25% individu koinfeksi dan monoinfeksi akan secara spontan membersihkan virus. Pemeriksaan HCV RNA harus dilakukan sesudah ditemukannya positif HCV pada pemeriksaan skrining, untuk menyingkirkan adanya spontaneous clearance. Individu dengan HCV RNA positif harus melakukan pemeriksaan genotipe, supaya dapat menentukan terapi selanjutnya. Semua individu harus melakukan skrining kekebalan hepatitis A (IgG anti hepatitis A) dan hepatitis B (HBsAg, AntiHBs dan anti HBc) dan harus dilakukan vaksinasi jika berstatus  nonimmune.
 
     Terapi dapat dimulai lebih awal pada pasien koinfeksi apabila didapati kondisi dimana progresivitas penyakit hati berjalan cepat dibandingkan dengan pasien dengan monoinfeksi hepatitis C, ataupun pasien dengan risiko tinggi mengalami hepatotoksisitas setelah inisiasi terapi anti retroviral (ART). Pengobatan koinfeksi HIV-HCV secara bersamaan adalah mungkin, akan tetapi akan dipersulit dengan adanya beban meminum tablet yang banyak, interaksi obat dan toksisitas. Pada keadaan ini, maka tahap dari penyakit hepatitis C harus dipastikan, agar dapat menentukan pengobatan HCV serta membuat keputusan kapan dimulai pengobatan.
 
       Pada jurnal MEDIKA edisi ini dihadirkan sebuah artikel berjudul TATA LAKSANA KOINFEKSI HIV DAN HEPATITIS C : FOKUS PADA DIRECT ACTING ANTIVIRAL (DAA). Dengan memahami artikel ini diharapkan dokter dan tenaga kesehatan lain dapat memahami deteksi dini pasien-pasien yang mungkin mengalami koinfeksi HIV dan Hepatitis C. Hal ini tentunya diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada kasus-kasus HIV/AIDS dan Hepatitis C. (MP)

Post Terkait

Perkembangan Anak dan Faktor yang Memengaruhinya

Tanggal Publikasi: 30 Aug 2018 13:53 | 1107 View

Anak adalah titipan Tuhan kepada setiap orang tua. Bagi mereka yang memahami akan hal ini, menjaga anak sebagai buah hati tidak hanya saat di dalam kandung an, namun hingga mereka…

Selengkapnya