Gaya Hidup dan Ancaman Kanker

Tanggal : 12 Jul 2019 15:01 Wib



Dr. Pribakti B, Sp.OG(K)
Dosen FK Universitas Lambung Mangkurat
 dan Dokter RSUD Ulin Banjarmasin
Harus diakui untuk mengubah gaya hidup tak segampang menulisnya. Kalau dari kecil lidah anak terbiasa mengecap cita rasa gurihnya daging bakar atau steak, tak mudah membujuknya jadi suka menu nenek. Adalah salah orang tua kalau anak meninggalkan sayur lodeh dan sayur asam. Kecen de rungan cita rasa lidah pada menu sesungguhnya diciptakan sejak kecil. Keliru membiarkan anak mengkonsumsi semua menu restoran, karena selain anak jadi gembrot, anak menyimpan penyakit lain. Gembrot bukan saja awal dari semua penyakit degeneratif, khususnya kencing manis, jantung, ginjal dan tekanan darah tinggi, tapi orang gemuk berisiko kena kanker juga. Gemuk terkait kanker payudara, misalnya. Maka, dimanamana di dunia, kegemukan itu dilarang. Bukan saja supaya rakyatnya sehat tapi anggaran kesehatan negara bisa jebol.
Namun diantara resiko terkena penyakit kanker, faktor diet adalah penyebab terbesar. Dan diet yang kebanyakan daging ketimbang karbohidrat, sayur mayur dan buah‐buahan adalah diet yang jahat. Ini karena protein berlebih terbukti memicu kejadian kanker. Maka sekarang mulai diyakini, bukan gen kanker yang perlu kita takuti, melainkan apa yang kita makan setiap hari. Menu seimbang itu hukum ilmu gizi. Tapi menu seim bang saja tak cukup jika pilihannya tidak tepat. Jika lebih banyak daging dibanding sayur dan buah juga bisa bikin runjam sel tubuh. Mengapa? Sebab daging selain berarti protein, juga lemak. Kelebihan protein sama jeleknya dengan kelebihan lemak. 
Ada dua akibat kelebihan daging. Bukan saja menambah resiko penyakit degeneratif, tapi juga memperbesar resiko terkena penyakit kanker. Kanker itu penyakit gaya hidup juga. Untuk itu perlu mengubah gaya hidup agar kanker menjauh.
Bukan saja pilihan menu, aktivitas fisik semakin nyata mempengaruhi resiko terkena kanker. Termasuk bila kita lebih suka memilih menu olah/instant dan bukan yang alami.
Sesungguhnya hidup kita sudah dikepung oleh beraneka ragam kimia kanker atau karsinogen. Paling banyak berasal dari apa yang kita konsumsi. Mungkin dari jajanan. Bisa jadi dari menu restoran. Mana tahu dari dapur kita sendiri ketika bahan baku menu sudah tak lagi segar, terkontaminasi pupuk, peptisida, herbisida dan salah mengelolanya. Daging sendiri sudah tidak menyehatkan jika dikonsumsi berlebih. Tapi daging yang diberi sodium nitrite yang bikin daging berwarna merah segar sekaligus sebagai pengawet, juga kimia kanker. Proses pembuatan gula pasir melibatkan unsur kimia. Minyak goreng yang berkali‐kali dipakai juga bertabiat buruk bagi tubuh. Termasuk gelombang elektromagnetik yang memapar tubuh kita lewat gadget setiap hari. Jadi mana mungkin kita berkelit. Kimia kanker bersekutu dengan radikal bebas dimana‐mana. Mungkin ada di minuman, cat tembok atau di oncom yang kita makan. Mana tahu juga ada di ikan asin, permen dan makanan bayi. Maka semakin sulitlah kita mengelak dari itu semua. Barangkali itu sebabnya, mengapa penyakit kanker semakin banyak. Hidup kita sudah dikepung oleh faktor yang menyuburkan sel kanker bertumbuh. Sebagian masih mungkin kita elakkan kalau tahu pencetusnya. Coba berapa bahaya kimia kanker pada kulit apel impor? Berapa buruk kimia kanker bentukan dari makanan asap ? Sekadar gosong sate atau iwak bakarpun perlu diwaspadai. 
Namun, penyakit kanker juga bisa tumbuh dari sel yang menyimpan gen kanker. Gen kanker memang diwariskan melalui garis darah orang tua. Namun tidak setiap gen kanker berujung kanker. Faktor gaya hidup, termasuk diet, lebih menentukan apakah gen kanker tersebut berkembang menjadi kanker atau tidak. Maka adalah penting mengendalikan faktor gaya hidup agar sekiranya benar memiliki gen kanker, kankernya batal muncul. Pastinya gen kanker yang kita miliki tak mungkin kita hapuskan. Pencetus kanker itulah yang masih mungkin kita kendalikan, agar kanker gagal hadir.
Untuk itu, kita perlu melakukan pemeriksaan kesehatan.
Selain pemeriksaan fisik, dengan melakukannya sendiri sepert i mengenali kanker payudara, mewaspadai setiap kemunculan benjolan, tahi lalat, perdarahan, keputihan, kencing berdarah, batuk‐batuk tak kunjung sembuh. Sekarang semakin banyak penanda tumor (tumor marker) bisa diperiksa dari darah. Walau tidak semuanya spesifik untuk satu jenis kanker, kita bisa mulai waspada sekiranya ada nilai penanda tumor yang abnormal. Memeriksakan rutin leher rahim perlu rutin dilakukan dengan IVA atau pap smear, selain pemeriksaan prosta t pada pria. Pemeriksaan perlu lebih intensif dilakukan bagi mereka yang berisiko terkena kanker. Mereka yang memiliki orang tua atau saudara kandung penderita penyakit kanker.
Selain mengendalikan faktor pencetus kanker, tubuh perlu dikuatkan dengan menambah antioksidan. Radikal bebas telah kuyup membanjir pada tubuh berasal dari apa yang kita makan, minum dan hirup dari udara. Radikal bebas jugadatang dari obat, herbal dan asap industri. Antioksidan yang tubuh buat tak lagi mencukupi untuk meredam radikal bebas yang membanjiri tubuh. Maka, perlu bantuan suplemen ekstra antioksidan dari luar. Vitamin C, Vitamin E, Betacarotene adalah sumber antioksidan yang bisa kita pilih. Lebih dari itu, hidup juga perlu ditata lebih santai, dan tidak tegang terus. Diketahui DNA dalam sel tubuh kita bisa disetel untuk merusak tubuh atau memeliharanya. Stresor dalam hidup bisa memperburuk perusakan tubuh oleh DNA yang merusak. Sel tubuh rusak yang berubah sifat itu jangan sampai terjadi agar peluang menjadi sel kanker tetap tertutup. Sesungguhnya kanker merupakan penyakit yang masih mungkin dicegah. Semoga bermanfaat.

 

Post Terkait

Peremajaan Miss V dan Ginekologi Estetika

Tanggal Publikasi: 02 Sep 2019 09:42 | 74 View

Harus diakui gencarnya perkembangan teknologi informasi dan komun ikasi turut menyumbang gambaran ideal tentang kecantikan. Tak terkecuali dengan penampilan organ intim wanita ini. Tren kecantikan terus berkembang seiring waktu .…

Selengkapnya

Keluarga Berencana dan Kualitas Penduduk

Tanggal Publikasi: 14 Aug 2019 13:31 | 92 View

Harus diakui kesuksesan Keluarga Berencana (KB) era Orde Baru adalah suatu prestasi. Mampukah pada Era Refor masi ini pemerintah mengerem laju pertambahan pendudu k? Saat ini laju pertumbuhan penduduk kita…

Selengkapnya

Defisit BPJS, Rumah Sakit, dan Farmasi

Tanggal Publikasi: 13 Jun 2019 10:25 | 277 View

Seperti diketahui permasalahan keuangan BPJS Kesehatan terjadi dari tahun ke tahun belum mampu menemukan solusi jitu. Setiap tahun selalu mengalami defisit dan semakin besar. Pada 2014 defisit sebesar Rp3,8 triliun.…

Selengkapnya

Saatnya Regulasi Layanan e-Kesehatan

Tanggal Publikasi: 08 May 2019 09:30 | 185 View

Tidak diragukan lagi, saat ini sektor kesehatan mulai memasuki era disrupsi. Pasien kini dapat berkonsultasi dengan dokter melalui berbagai aplikasi seluler. Layanan perawatan di rumah, pemeriksaan laboratorium maupun pemesanan obat,…

Selengkapnya

Evidence Based Medicine dan Kedokteran Modern

Tanggal Publikasi: 30 Sep 2018 08:17 | 1002 View

Pada beberapa dekade terakhir ini berkembang paradigma baru yang disebut Evidence Based Medicine (EBM), yang banyak dianut oleh para klinisi, ahli kesehatan masyarakat, perencana dan manajer kesehatan.

Selengkapnya