Stroke Mengancam Generasi Milenial

Tanggal : 30 Aug 2018 13:07 Wib


 
     Stroke adalah suatu keadaan darurat medis yang serius. Menurut beberapa studi, sekitar 30% dari penderita stroke meninggal dalam jangka waktu tiga bulan. Namun, lebih dari 50% pasien yang selamat bisa memulihkan kemampuan perawatan diri mereka dan kurang dari 20% pasien yang menderita cacat berat. Faktor yang memengaruhi pemulihan tergantung pada tingkat keparahan kerusakan otak (termasuk jenis stroke dan area tubuh yang terpengaruh), komplikasi yang terjadi, dan kemampuan perawatan diri pasien sebelum stroke terjadi. Selain itu, sikap pasien dan dukungan dari keluarga/perawat mereka serta perawatan rehabilitasi yang sesuai juga bisa memberikan efek yang signifikan.
     Definisi stroke menurut WHO 2014 adalah terputusnya aliran darah ke otak, umumnya akibat pecahnya pembuluh darah ke otak atau karena tersumbatnya pembuluh darah ke otak sehingga pasokan nutrisi dan oksigen ke otak berkurang. Stroke menyebabkan gangguan fisik atau disabilitas. Studi melaporkan bahwa dalam 20 tahun terakhir terlihat peningkatan beban stroke terjadi secara global. WHO mengestimasi peningkatan jumlah pasien stroke di beberapa negara Eropa sebesar 1,1 juta pertahun pada tahun 2000 menjadi 1,5 juta pertahun pada tahun 2025. Menurut laporan Riskesdas 2007, stroke merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia dibanding penyakit yang lain yaitu sebesar 15,4%. Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan wawancara sebesar 8,3 ‰ pada tahun 2007 dan meningkat menjadi 12,1 ‰ pada tahun 2013.
     Insidens serangan stroke pertama di dunia sekitar 200 per 100.000 penduduk per tahun. Insiden stroke meningkat dengan bertambahnya usia. Konsekuensinya, dengan semakin panjangnya angka harapan hidup, termasuk di Indonesia, akan semakin banyak pula kasus stroke dijumpai. Perbandingan antara penderita pria dan wanita hampir sama. Saat ini, prevalensi stroke berkisar 5-12 per 1000 penduduk.
     Ada beberapa macam klasifikasi stroke, berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya, stroke dibagi menjadi stroke iskemik dan hemoragik.  Stroke iskemik dapat terjadi berdasarkan 3 mekanisme yaitu trombosis serebri, emboli serebri dan pengurangan perfusi sitemik umum. Trombosis serebri adalah obstruksi aliran darah yang terjadi pada proses oklusi satu atau lebih pembuluh darah lokal. Emboli serebri adalah pembentukan material dari tempat lain dalam sistem vaskuler dan tersangkut dalam pembuluh darah tertentu sehingga memblokade aliran darah. Pengurangan perfusi sistemik dapat mengakibatkan kondisi iskemik karena kegagalan pompa jantung atau proses perdarahan atau hipovolemik. Stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah baik di dalam jaringan otak yang mengakibatkan perdarahan intraserebral, atau di ruang subarakhnoid yang menyebabkan perdarahan subarakhnoid.
     
     Otak mengontrol banyak hal yang berlangsung di tubuh kita. Kerusakan otak dapat memengaruhi pergerakan, perasaan, perilaku, kemampuan berbicara/berbahasa dan kemampuan berpikir seseorang. Stroke dapat mengakibatkan gangguan beberapa bagian dari otak, sedangkan bagian otak lainnya bekerja dengan normal. Pengaruh stroke terhadap seseorang tergantung pada bagian otak yang terkena stroke, seberapa serius stroke yang terjadi, dan usia, serta kondisi kesehatan dan kepribadian penderitanya.
Beberapa akibat stroke yang sering dijumpai antara lain:
  1. Kelumpuhan satu sisi tubuh, ini merupakan salah satu akibat stroke yang paling sering terjadi. Kelumpuhan biasanya terjadi di sisi yang berlawanan dari letak lesi di otak, karena adanya pengaturan representasi silang oleh otak. Pemulihannya bervariasi untuk masing-masing individu.
  2. Gangguan penglihatan, dimana penderita stroke sering mengalami gangguan penglihatan berupa defisit lapangan pandang yang dapat mengenai satu atau kedua mata. Hal ini menyebabkan penderita hanya dapat melihat sesuatu pada satu sisi saja, sehingga misalnya ia hanya memakan makanan di sisi yang dapat dilihatnya atau hanya mampu membaca tulisan pada satu sisi buku saja.
  3. Afasia, yaitu kesulitan berbicara ataupun memahami pembicaraan. Stroke dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berbicara/berbahasa, membaca dan menulis atau untuk memahami pembicaraan orang lain. Gangguan lain dapat berupa disatria, yaitu gangguan artikulasi kata-kata saat berbicara.
  4. Stroke dapat mengganggu persepsi seseorang. Penderita stroke bisa tidak mengenali obyek-obyek yang ada di sekitarnya atau tidak mampu menggunakan benda tersebut.
  5. Penderita stroke sering mengalami kelelahan. Mereka membutuhkan tenaga ekstra untuk melakukan hal-hal yang biasa dikerjakan sebelumnya. Kelelahan juga dapat terjadi akibat penderita kurang beraktivitas, kurang makan atau mengalami depresi.
  6. Depresi dapat terjadi pada penderita stroke. Namun, depresi masih merupakan perdebatan apakah depresi yang terjadi merupakan akibat langsung dari kerusakan otak akibat stroke atau merupakan reaksi psikologis terhadap dampak stroke yang dialaminya. Dukungan keluarga akan sangat membantu penderita.
  7. Emosi yang labil. Stroke dapat mengakibatkan penderitanya mengalami ketidakstabilan emosi sehingga menunjukkan respons emosi yang berlebihan atau tidak sesuai. Keluarga/pengasuh harus memahami hal ini dan membantu meyakinkan penderita bahwa hal ini adalah hal yang lazim terjadi akibat stroke dan bukan berarti ia menjadi gila.
  8. Penderita stroke dapat mengalami gangguan memori dan kesulitan mempelajari dan mengingat hal-hal baru.
  9. Perubahan kepribadian. Kerusakan otak dapat menimbulkan gangguan kontrol emosi positif maupun negatif. Hal ini dapat memengaruhi perilaku penderita dan caranya berinteraksi dengan lingkungannya. Perubahan perilaku ini dapat menimbulkan kemarahan keluarga/pengasuhnya. Untungnya perubahan perilaku ini akan mengalami perbaikan seiring dengan pemulihan strokenya.
     Memahami efek yang bisa terjadi pada seseorang yang mengalami stroke akan sangat membantu keluarga penderita memahamai perubahan yang terjadi pada penderita. Pengetahuan yang memadai tentang hal tersebut dan membantu penderita melalui masa-masa sulit ini akan sangat bermanfaat bagi upaya pemulihan penderita.
     Faktor risiko stroke adalah faktor yang memperbesar kemungkinan seseorang untuk menderita stroke. Ada 2 kelompok utama faktor risiko stroke. Kelompok pertama ditentukan secara genetik atau berhubungan dengan fungsi tubuh yang normal sehingga tidak dapat dimodifikasi. Yang termasuk kelompok ini adalah usia, jenis kelamin, ras, riwayat stroke dalam keluarga dan serangan Transient Ischemic Attack atau stroke sebelumnya. Kelompok yang kedua merupakan akibat dari gaya hidup seseorang dan dapat dimodifikasi. Faktor risiko utama yang termasuk kelompok kedua adalah hipertensi, diabetes mellitus, merokok, hiperlipidemia dan intoksikasi alkohol. Adanya faktor risiko ini membuktikan bahwa stroke adalah suatu penyakit yang dapat diperkirakan sebelumnya dan bukan merupakan suatu hal yang terjadi begitu saja, sehingga istilah cerebrovascular accident telah ditinggalkan. Studi epidemiologis membuktikan bahwa pengendalian faktor risiko dapat menurunkan risiko seseorang untuk menderita stroke.
     Pencegahan untuk stroke dibedakan menjadi pencegahan primer dan sekunder. Upaya pencegahan primer ditujukan untuk mencegah terjadinya stroke pada kelompok orang yang memiliki risiko untuk menderita stroke, misalnya pada penderita hipertensi, perokok, penderita diabetes mellitus, penderita penyakit jantung koroner, dan lain-lain. Pencegahan dilakukan dengan modifikasi faktor risiko dan pencegahan secara medis, misalnya dengan pemberian anti platelet atau anti koagulan, prevensi bedah misalnya carotid endarterectomy, dan sosialisasi atau promosi kesehatan masyarakat. Upaya pencegahan sekunder ditujukan untuk mencegah terjadinya serangan stroke berulang pada kelompok orang yang sudah pernah mengalami stroke. Pencegahan dilakukan dengan pengontrolan faktor risiko, peningkatan faktor protektif, pencegahan secara medis maupun prevensi bedah.
 
Stroke dan Generasi Milenial
     Beberapa tahun belakangan diketahui bahwa stroke tidak hanya menyerang orang tua tetapi bisa menyerang usia muda, usia 18-34 tahun. Studi epidemiologi mengungkapkan bahwa telah terjadi peningkatan kasus stroke yang mengkhawatirkan di kalangan orang dewasa muda. Selain itu, ditemukan juga bahwa peningkatan lebih besar terjadi di kota-kota besar daripada daerah pedesaan.
Studi lain di Amerika Serikat menilai bahwa dalam rentang waktu Sembilan tahun (2003-2012) terdapat 32% peningkatan stroke diantara wanita berusia 18-34 tahun dan peningkatan 15% untuk pria pada usia yang sama. Menurut para peneliti, walaupun alasan terjadinya “tren” ini tidak sepenuhnya diketahui tetapi kemungkinan ada kaitan dengan obesitas, diabetes, dan ketidaktifan fisik, dan kebiasaan merokok sehingga berdampak yang lebih besar pada penderita stroke usia muda.
   
     Dalam jangka pendek, stroke berat diantara orang dewasa muda akan menjadi masalah besar karena kecacatan tersebut terjadi di puncak produktivitas mereka, yang berdampak bukan hanya pada kehidupan masa depan penderita sendiri, tetapi juga keluarga. Dalam jangka panjang, banyaknya kasus stroke pada orang dewasa muda (bahkan hanya stroke ringan) menandakan akan adanya epidemi serangan yang lebih buruk di masa mendatang (dalam 30 tahun ke depan) karena serangan stroke kedua dapat menjadi lebih berat dan fatal.
     Sebagai pencegahan terjadinya stroke di usia muda, beberapa upaya penurunan faktor risiko yang dapat dimodifikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
  1. Menjaga pola makan yang sehat. Sebagian besar generasi milenial gemar mengonsumsi makanan tidak sehat, seperti makanan cepat saji, gorengan, minuman berwarna, dan lain-lain. Selain itu, jumlah makanan yang dimakan biasanya dalam porsi yang berlebihan sehingga meningkatkan risiko diabetes mellitus, hipertensi, yang merupakan faktor risiko stroke. Mengganti pola makan bisa dilakukan dengan mengonsumsi banyak sayur maupun buah-buahan segar, membatasi asupan makanan yang mengandung kolesterol dan sodium. Selain itu, porsi makanan yang kita makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap hari, tidak berlebihan dan tidak terlalu sedikit.
  2. Meningkatkan aktivitas fisik. Malas bergerak merupakan salah satu faktor risiko stroke. Oleh karena itu, tindakan yang wajib dilakukan untuk mencegah stroke yaitu dengan meningkatkan aktivitas fisik alias berolahraga secara rutin dan teratur. Jenis aktivitas fisik yang bisa dijadikan pilihan, yaitu joging, berjalan, berenang, bersepeda, dan lain-lain. Para ahli merekomendasikan aktivitas setidaknya tiga puluh menit sehari, sebanyak tiga kali dalam seminggu.
  3. Menjaga berat badan, Jika mengalami obesitas maka perlu upaya untuk menurunkan berat badan ke rentang normal. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menurunkan berat badan yaitu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, tetap aktif bergerak, dan cukup istirahat.
  4. Menghindari minuman beralkohol dan rokok. Konsumsi minuman beralkohol dalam jumlah berlebih dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko stroke di usia muda. Parahnya, minuman beralkohol juga dapat meningkatkan kadar trigliserida. Semakin tinggi kadar trigliserida di dalam tubuh, kemungkinan terjadinya stroke juga semakin besar. Sementara itu, sebatang rokok mengandung tidak kurang dari 4.000 zat kimia berbahaya. Zat-zat tersebut dapat memengaruhi saraf dan peredaran darah di dalam tubuh, sehingga turut meningkatkan risiko terjadinya stroke di usia muda. Meninggalkan keduanya adalah upaya terbaik untuk mencegah stroke dan penyakit lainnya.
  5. Menurunkan risiko penyakit keturunan. Jika memiliki riwayat keluarga dengan penyakit diabetes melitus, darah tinggi atau penyakit lain yang berhubungan dengan stroke, lakukanlah upaya agar penyakit tersebut tidak diturunkan ke kita. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat sedini mungkin, dan menghindari konsumsi obat-obatan secara sembarangan.
Jangan biarkan stroke merusak masa muda kita. Segera lakukan tindakan pencegahan sekarang juga. Namun, jika di usia muda kita terlanjur terkena stroke, jangan ragu untuk segera berobat ke dokter sehingga kondisi yang lebih buruk dapat dihindari dan dicegah. 
 
 

Post Terkait

Polemik Pro dan Kontra Imunisasi MR

Tanggal Publikasi: 30 Sep 2018 08:03 | 16 View

Pemerintah tengah menggencarkan pemberian imunisasi MR (Measles-Rubella) di Indonesia. Pemberian imunisasi MR sebenar nya bukanlah hal yang baru tahun ini dilakukan. Pemberian imunisasi MR sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 2017…

Selengkapnya


Jurnal Medika CME