Polemik Pro dan Kontra Imunisasi MR

Tanggal : 30 Sep 2018 08:03 Wib



Apa itu imunisasi MR?

Imunisasi MR merupakan Vaksin MR diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh virus measles (campak) dan rubella (campak jerman). Penyakit campak disebabkan oleh virus RNA ‐ virus yang materi genetiknya berupa asam nukleat yang berbentuk rantai ganda berpilin ‐ yang termasuk famili Paromyxavirus. Virus ini hanya bisa menyerang manusia dan masuk ke
tubuh manusia melalui saluran napas (penyebarannya lewat udara). Virus ini mudah hinggap pada orang yang ketahanan tubuhnya sedang lemah, belum pernah terkena campak, dan belum pernah mendapatkan vaksin campak. Biasanya setelah terpapar, selam a 2‐3 hari virus akan mengalami viremia primer, atau dari saluran napas, virus menyebar ke seluruh pembuluh darah dan menginfeksi tubuh. 
Penyakit rubella juga disebabkan oleh virus RNA beruntai tunggal yang berasal dari genus Rubivirus. Virus ini juga hanya menyerang manusia yang kebanyakan berusia 3‐10 tahun. Penyebarannya bisa melalui dua hal, yakni saluran napas dan transmisi vertikal (ditularkan dari ibu kepada janinnya). Saat menginfeksi, virus akan masuk ke sel‐sel tubuh dan menetap di sana. Suatu waktu, saat tubuh sedang dalam keadaan lemah, akan mungkin terjadi reaktivasi dari virus tadi. Jika virus itu menyerang anak perempuan, ketika anak itu dewasa, menikah, dan hamil, dan ia tidak sadar memiliki virus rubella, secara otomatis ia akan menulari virus itu kepada si janin dan anaknya lahir dalam kondisi congenital rubella syndrome (sindrom rubella kongenital). Oleh karenanya, pencegahan dengan memberikan vaksin rubella harus dilakukan sejak dini. Penyakit yang disebabkan virus hingga hari ini belum ada obat yang efektif untuk mengobatinya. Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah dengan mencegahnya menggunakan vaksin. 
WHO mencatat terdapat sekitar 41.000 kasus campak yang tersebar di Eropa dari bulan Januari hingga bulan Juni 2018. Sebanyak 37 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kasus tersebut. Jika dibandingkan pada total kasus tahun lalu terjadi peningkatan hampir 2 kali lipat yakni 23.927 kasus. Sedangkan pada tahun 2016 peningkatannya jauh lebih signifikan, hampir 8 kali lipat yakni 5.273 kasus. Di Inggris sendiri sudah terdapat 807 kasus campak yang tercatat. World Health Organization (WHO) telah menginstruksikan negara‐negara di Eropa untuk melakukan tindakan, salah satunya dengan melakukan pemberian vaksin MR.
Berdasarkan rilis Kementerian Kesehatan RI, vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Pada era tahun 60‐an, dunia telah menemukan vaksin yang sangat efektif untuk mencegah penyakit Campak dan Rubella. Tiga dasawarsa berselang, pada tahun 1996 tercatat sejum lah 83 negara menggunakan vaksin Campak dan Rubella dalam program imunisasi rutin di negaranya, dan meningkat menjadi 130 negara pada tahun 2009. Hingga saat ini, sudah lebih dari 141 negara telah menggunakan vaksin Campak dan Rubella.
Umumnya, vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2‐3 hari. Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, seseorang anak juga bisa mengalami reaksi alergi sebagai efek samping vaksin rubella dan campak. Imunisasi atau vaksinasi adalah suatu tindakan pemberian zat yang beras al dari kuman, baik yang sudah mati ataupun yang dilemahkan. Diharapkan dengan pemberian vaksin kuman tersebut, sehingga tubuh bisa mengatasinya apabila suatu saat terinfeksi. Pada beberapa anak yang lebih sensitif, mungkin mereka akan menampakkan reaksi alergi berat dari cairan yang terkandung dalam vaksin tersebut. Namun, jika kondisi ini segera ditangani, anak akan segera membaik.

Program Pemerintah dalam Pemberian Imunisasi MR
Indonesia berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella/Congenital Rubella Syndrom (CRS) pada tahun 2020. Sasaran pemberian imunisasi MR adalah seluruh anak dengan usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun di seluruh Indonesia. Pemberian imunisasi MR ini dilakukan tanpa melihat status imunisasi maupun riwayat penyakit campak dan rubella sebelumnya. Pelaksanaan imunisasi massal MR dibagi dalam 2 fase, yakni fase pertama pada tahun 2017 dilaksanakan di seluruh Pulau Jawa dan fase kedua pada tahun 2018 untuk wilayah luar Pulau Jawa. Pada tahun 2017, cakupan imunisasi massal MR. 
Data Kemenkes pada Januari sampai dengan Juli 2017 mencatat sebanyak 8.099 suspek Campak Rubella (2.535 positif Campak dan 1.549 positif Rubella). Apabila dibandingkan dengan laporan kasus pasca pelaksanaan imunisasi massal di Pulau Jawa, laporan
kasu s mengalami penurunan menjadi 1.045 suspek Campak Rubella (38 positif Campak dan 176 positif Rubella). Selama 4 tahun terakhir hingga Juli 2018, data rumah sakit di seluruh Indonesia mencatat 1.660 kasus CRS telah terjadi. Biaya minimal yang dibutuhkan untuk anak penderita CRS mencapai Rp 395 juta per orang. Dana itu termasuk untuk penanaman koklea pada telinga, operasi jantung dan mata. Biaya itu belum termasuk biaya perawat an kecacatan seumur hidup. 


Setuju dan Tidak Setuju Imunisasi MR

Dibalik semua manfaat dan pentingnya imunisasi MR, ternyata masih banyak masyarakat yang menolak pemberian imunisasi MR. Hal ini semakin diperparah setelah MUI mengeluarkan fatwa “tidak halal” terhadap vaksi MR. Walaupun belakangan MUI menyatakan “boleh” untuk dilakukan pemberian vaksi MR, faktanya masih banyak masyarakat yang menolak untuk dilakukan pemberian vaksin MR. MUI menyatakan bahwa vaksin MR ini tidak halal dikarenakan menggunakan enzim babi dalam proses pembuatannya. Namun demikian, vaksin ini tetap boleh diberikan karena terdapat beberapa kondisi. Seperti, dampak bahaya yang ditimbulkan jika tidak dilakukan pemberian vaksin dan belum adanya alternatif vaksin lain yang halal yang di dunia yang dapat diberikan. 
Penolakan terhadap vaksin MR banyak dilakukan di berbagai daerah. Di Riau, hingga hampir 1 bulan pelaksanaan imunisasi MR, baru 14 persen anak yang telah mendapatkan imunisasi MR. Dinas Kesehatan Provinsi Riau mengun gakapkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi MR di Riau tidak terlepas dari dikeluarkannya fatwa MUI. 

Peran Tenaga Kesehatan dalam Mensosialisasikan Imunisasi MR 
Pemerintah mencanangkan pemberian imunisasi MR semata‐mata untuk mengeliminasi penyakit MR di Indonesia. Hal ini mengingat tingginya kasus MR yang terjadi di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Namun
demikian, masih banyak masyarakat yang tidak memperdulikan adanya fakta tersebut. Hal ini semakin diperparah dengan beredarnya berita “hoax” terkait imunisasi MR di masyarakat sehingga membuat masyarakat resah. Oleh karena itu, tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat. Hal ini perlu dilakukan untuk mencapai eradikasi penyakit campak dan rubella di tahun 2020. (NF) 

Post Terkait

Stroke Mengancam Generasi Milenial

Tanggal Publikasi: 30 Aug 2018 13:07 | 179 View

Dahulu, stroke dikenal sebagai salah satu penyakit degeneratif yang menyerang usia tua. Namun, dalam beberapa tahun terakhir diketahui bahwa serangan stroke juga bisa dialami oleh orang muda. Banyak penelitian yang…

Selengkapnya


Jurnal Medika CME