Tatalaksana Gangguan Berkemih pada Penderita Parkinson

Tanggal : 30 Aug 2018 15:22 Wib


DANIEL MAHENDRA KRISNA1,
RIZALDY TASLIM PINZON2
1Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta
2Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Abstrak
Parkinson Disease (PD) merupakan suatu penyakit neurodegenerative yang bersifat kronis dan domina n menyerang fungsi motoris. PD diduga disebabkan karena adanya kekurangan dopamine pada substansia nigra. PD juga menyerang fungsi non motoris seperti gangguan tidur, nyeri, kejiwaan, dan gejala otonom seperti gangguan berkemih. Gangguan yang paling sering dikeluhkan adalah gangguan overaktif buli dengan karakteristik peningkatan frekuensi berkemih pada siang dan malam hari, serta urgensi. Salah satu teori terjadinya gangguan ini adalah adanya degenerasi neuron berpigmen pada substansia nigra mengakibatkan deplesi selektid dari dopamin di striatum dan adanya lesi pada ganglia basalis akan menyebabkan terputusnya koneksi secara parsial atau total reflek miksi dari kontrol volunter, Tujuan utama dalam pengobatan gangguan kandung kemih adalah menurunkan kejadian nokturia, urgensi, dan frekuensi berkemih serta meningkatkan kapasitas kandung kemih. terapi perilaku seperti pelvic floor muscle therapy, bladder training, bladder control strategy dan edukasi perubahan gaya hidup merupakan tatalaksana lini pertama pada gangguan berkemih. Pada PD, tatalaksana dan medikamentosa perlu dievaluasi dikarenakan adanya keterbatasan fungsi motoris. Pemberian medikamentosa merupakan pilihan terapi yang dapat diberikan pada PD dengan gangguan berkemih. 

Kata kunci : Gangguan berkemih, Parkinson, gejala non motorik.

Abstract
Parkinson disease (PD) is a chronic neurodegenerative disease that dominantly attacking motoric function, due to loss of dopamine neuron in substansia nigra. PD also has non motoric symptom such as sleep disorder, pain, mental disorder, and otonom dysfunction. Bladder dysfunction is one of the most  common symptom in non motoric PD symptoms, which characterized by increasing urinary frequency, nocturia, and urgency. Pigmented neuron degeneration lead to dopamine selectid depletion in striatum and lesion in basal ganglia causing loss of the connection between micturition reflex with voluntary control. The goal of bladder dysfunction treatment is decreasing nocturia, urgency, and urinary frequency, also increasing bladder capacity. Behavior therapy such as pelvic floor muscle therapy, bladder training, blad der control strategy is first-line treatment in bladder dysfunction. In PD, treatment should be evaluated due to motoric limitation. Medicamentosa are one of recommended therapy for bladder dysfunction in PD.

Keywords: Bladder dysfunction, Parkinson disease, non motoric symptom 

Pendahuluan
     Parkinson Disease (PD) merupakan suatu penyakit Neuro-degenerative yang menimbulkan gangguan motorik seperti tremor, rigiditas, dan gangguan berjalan, dan diakibatkan adanya penurunan dopamine pada substansia nigra. Penyakit ini merupakan penyakit nomer dua setelah Alzheimer yang sering terjadi pada gangguan neurodegenerative dan seringkali tidak dapat disembuhk an.1,2 Pada umumnya, setiap penderita PD memiliki gejala non motorik, dimana belakangan ini menjadi sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup penderita PD. Gangguan tidur, nyeri, kejiwaan dan autonomic menjadi gejala non motoric yang sering terjadi pada penderita PD. Gangguan autonomik yang sering terjadi berupa gangguan saluran kemih.3

Epidemiologi
     Prevalensi PD secara global meningkat seiring bertambah tahun. Diestimasikan terdapat peningkatan penderita PD dari 4.1 juta menjadi 4.6 juta pada tahun 2005 dan akan meningkat 2 kali lipat pada tahun 2030.2 Secara geogra fis, Negara di kawasan Asia mempunyai prevalensi PD terendah bila dibandingkan dengan Negara di kawasan Amerika Utara, Eropa, dan Australia.4 
     6 Negara dengan penduduk terpadat di kawasa n Asia, seperti China, India, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Jepang, diekspektasikan akan terjadi peningkatan penderita PD sebesar 2x lipat diantara tahun2005 hingga 2030. Hal ini dikarenakan adanya percepatan pada pertumbuhan populasi lanjut usia dan peningkatan angka harapan hidup karena adanya perbaikan pada preven si dan penatalaksanaan penyakit.2 
     Gangguan pada sistem non motorik seringkali timbul pada penderita PD. Beberapa gangguan yang sering terjadi adalah gangguan kognitif, ganggua n apatis, gangguan cemas atau depresi, gangguan tidur, gangguan nyeri, gangguan lelah, dan gangguan otonom seperti pada saluran cerna, saluran kemih, serta disfungsi adrenergik. Kejadian gangguan berkemih dilaporkan terjadi sekitar
27-40% pada penderita PD. Gangguan yang paling sering dikeluhkan adalah gangguan overaktif buli dengan karakteristik peningkatan frekuensi berkemih pada siang dan malam hari, serta urgensi.5,6
Baca Selengkapnya di Warta Medika Edisi Agustus 2018...

Post Terkait

Diagnosa dan Tatalaksana Overaktif Bladder

Tanggal Publikasi: 30 Aug 2018 15:08 | 126 View

Overaktif bladder (OAB) banyak dijumpai dan memiliki dampak negatif terhadap kualitas hidup pasien. Penting bagi dokter untuk mengetahui bagaimana mengidentifikasi dan menatalaksana pasien dengan kondisi ini.

Selengkapnya

Paparan Televisi dan Perkembangan Bahasa pada Anak

Tanggal Publikasi: 30 Aug 2018 14:54 | 112 View

Perkembangan bahasa merupakan salah satu perekembangan yang paling penting pada anak, karena merupakan indikator dari seluruh perkembangan pada anak. Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap perkembangan bahasa…

Selengkapnya


Jurnal Medika CME

Kolom

Jalan Menuju Panjang Umur