Upaya Pencegahan Trauma Perinium pada Persalinan

Tanggal : 12 Jul 2019 14:59 Wib


Pribakti B.
Departemen Obstetri dan Ginekologi
 FK Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

 
Pendahuluan
Trauma perineum didefinisikan sebagai kerusakan bodi/perineum yang terjadi selama proses persalinan, baik secara spontan atau karena episiotomi. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan sekitar 85% dari perempu an yang melahirkan akan mengalami trauma pada perineum. Lebih dari dua‐pertiga perempuan tersebut memerlukan penjahitan. Lebih dari itu, laserasi pada perineum setelah melahirkan juga akan melemahkan otot panggul. Akibatnya trauma perineum akan mempengaruhi keadaan fisik, psikologis, dan kehidupan sosial perempuan langsung setelah melahirkan maupun dalam jangka panjang. Efek merugikan yang mungkin terjadi termasuk nyeri saat berhubungan seksual, inkontinensia urin/feses, dan nyeri perineal persisten.
Sebesar 22% ibu baru melaporkan adanya keluhan seperti nyeri perineum pada minggu kedelapan pasca melahirkan, dan pada beberapa wanita, nyeri dapat bertahan selama satu tahun atau lebih. Kemungkinan rasa nyeri pada perineum dan masalah seksual pada periode postpartum lebih jarang terjadi pada wanita dengan perineum yang utuh/intak. Baru‐baru ini, beberapa studi menunjukkan bahwa pijat perineum dapat mengurangi nyeri perineum dan secara umum dapat diterima dengan baik oleh perempuan. Tulisan ini akan membahas bukti dari efek mengunt ungkan pijat perineum dalam mencegah trauma perineum.
Pijat Perineum
Pijat perineum terbukti mengurangi terjadinya trauma perineum dalam dua studi yang terkendali.7,8 Namun, pada kedua studi ini mempunyai kelemahan metodologi yang serius. Pertama, sejumlah besar perempuan dikeluarkan dari analisis, dan yang kedua, peserta memilih kelompok penelitian mereka sendiri. Dalam sebuah penelitian deskriptif retrospektif, Davidson dkk. mengevaluasi ada hubungan antara faktor yang berbeda dengan laserasi perineum. Mereka menemukan bahwa pijat perineum antenatal dikaitkan dengan trauma perineum yang lebih sedikit pada dua kelompok wanita: a) primipara dan b) wanita multipara dengan satu kelahiran yang sebelumnya melalui episiotomi. Selain itu, pemijatan perineum juga dihubungkan dengan terjadinya penurunan laserasi pada wanita multipara dengan satu kelahiran sebelumnya yang tidak mengalami episiotomi. 
Studi non‐randomized controlled lain menunjukkan bahwa pijat perineum yang dilakukan selama kehamilan tidak menunjukkan efek yang merugikan pada kemungkinan terjadinya trauma perineum. Kegagalan untuk mencapai hasil yang signifikan secara statistik dapat dikarenakan kecilnya sampel wanita yang masuk dalam penelitian ini (n = 121), serta desain penelitian yang non‐randomized. Penelitian observasional prospektif terbaru dari Eogan dkk.11 menunjukkan bahwa nyeri perineum pasca melahirkan jauh berkurang pada kelompok wanita yang dilakukan pijat perineum antenatal dibandingkan dengan kontrol (P = 0,029). Kejadian melahirkan dengan perineum yang intak lebih besar pada wanita di atas usia 30 tahun pada kelompok dengan pemijatan dibandingkan kontrol, meskipun dalam penelitian ini dampaknya tidak signifikansi secara statistik.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam The Cochrane Database of Sys tematic Reviews termasuk tiga penelitian randomized yang terkontrol dengan melibatkan 2.434 perempuan. Labrecque dkk. melaporkan studi mereka yang hanya melibatkan 46 wanita. Labrecque dkk.13 dan Shipman dkk.14 mempelajari hanya pada perempuan yang persalinan sebelumnya perabdo minal. Labrecque dkk. juga mempelajari perempuan dengan atau tanpa kelahiran pervaginam sebelumnya dan dilakukan randomized yang kemudi an dikelompokkan berdasarkan paritas. Semua percobaan meliputi pemijatan dengan jari yang dilakukan oleh wanita hamil sendiri atau pasangannya. Temuan utama dari tinjauan sistematis tersebut adalah bahwa pijat perineum antenatal dikaitkan dengan pengurangan secara keseluruhan dalam kejadian trauma yang memerlukan penjahitan. Penurunan ini secara statistik mempunyai makna signifikan hanya untuk wanita yang sebelumnya persalinan perabdominal Wanita yang dilakukan pemijatan perineum memiliki kecenderungan yang kurang untuk mengalami episiotomi. Tidak ada perbedaan mengenai derajat trauma perineum, derajat satu, dua, tiga, atau empat. Hanya perempuan yang sebelumnya melahirkan pervaginam yang dilaporkan mengalami penurunan secara signifikan akan adanya rasa nyeri pada 3 bulan postpartum pada satu penelitian yang melibatkan 376 perempuan dengan RR 0,68 (95% CI 0,50‐0,91) . Tidak ada perbedaan signifikan yang diamati pada kejadian partus dengan instrument, kepuasan seksual, atau inkontinensia urine/feses/ flatus untuk setiap wanita yang dilakukan pemijatan perineum dibandingkan dengan mereka yang tidak dilakukan pemijatan.  Sebuah penelitian randomized terkontrol mengevaluasi efektivitas pijat perineum selama kehamilan pada wanita primipara yang dilakukan oleh Shimada dan diterbitkan dalam bahasa Jepang. Dalam penelitian tersebu t, 63 perempuan secara acak dimasukkan ke dalam grup dengan intervensi (30 perempuan) dan kelompok kontrol (33 perempuan). Tingkat episiotomi pada kelompok dengan intervensi berkurang 21%, yang mana tidak bisa dikatakan mengalami penurunan yang signifikan secara statistik. Adapun perbandingan derajat cedera perineum, perempuan dalam kelompok dengan pijat perineum memiliki ke mungkinan cedera lebih kecil dibandingkan pada kelompok kontrol. Pemi jatan yang dilakukan dalam minggu‐minggu terakhir kehamilan tidak memberikan efek yang merugikan atau secara substansial mampu melindungi fungsi perineum pada 3 bulan postpartum.
Paper yang dibuat oleh Mei dan dkk, yang dimuat pada edisi IMAJ menggambarkan percobaan klinis prospektif terkontrol yang dilakukan di Soroka University Medical Center di Beer Sheva. Para penulis membanding kan dua kelompok wanita nulipara: kelompok intervensi terdiri dari 99 perempuan yang memilih untuk bergabung dengan grup ini, dan kelompok kontrol terdiri dari 104 perempuan yang direkrut kebanyakan di ruang bersalin sebelum persalinan. Dan setelah verifikasi yang tidak melakukan pemijatan selama kehamilan. Perempuan dalam kelompok intervensi diminta untuk melakukan pijat perineum setiap hari mulai dari minggu ke‐34 kehamilan. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam parameter dasar dari kelompok. Usia ibu rata‐rata pada kelompok intervensi secara signifikan lebih tinggi daripada di kelompok kontro l (27,6 tahun dan 25,4 tahun ), P <0,05). Usia kehamilan rata‐rata saat melahirkan dan rata‐rata berat badan lahir janin juga lebih besar pada kelompo k pijat (39,3 νs 38,9 minggu, P = 0,03);. Dan 3237 νs 3130 g, P = 0,06.). Perempuan dalam kelompok intervensi lebih banyak membutuhkan persalinan dengan vakum ekstraksi dan operasi caesar dibandingkan dengan kontrol. Di sisi lain, ditemukan tidak ada perbedaan jumlah episiotomi secara keseluruhan antara kedua kelompok. Dengan mempertimbangkan kondisi dasar inferior kelompok intervensi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pijat perineum pada minggu‐minggu terakhir kehamilan memang memiliki efek yang mengun tungkan dengan mengurangi tingkat episiotomi. Para semua penelitian tersebut menekankan bahwa pijat perineum pada minggu‐minggu terakhir kehamilan tidak berbahaya. 
Dengan mempertimbangkan hasil Cochrane Systematic Review, wanita hamil, terutama mereka yang persalinan sebelumnya tidak pervaginam, harus dibuat sadar akan manfaat kemung kinan pijat perineum dan harusdiberikan informasi tentang cara untuk melakukan pemijatan perineum tersebut. Pada penelitian Zare O dkk.19 terhadap kelompok nullipara partus spontan pijat penerium (n=45) dan kontrol (n=100) tidak didapatkan perbedaan bermakna secara statistik. Pada
kelompok pijat perineum didapatkan kejadian intak perineum (22.2%), episiotomy (44.4%) dan laserasi (33.3%), sedangkan pada kelompok kontrol didapat kan intak perineum(20,2%), episiot omi (49,3%) dan laserasi (28,3%). Pada kedua kelompok tidak didapatkan laserasi perineum grade 2, 3 dan 4. 
 
Baca Selengkapnya di Warta Medika Edisi Juni 2019...

Post Terkait

Masalah Urogenital pada Kehamilan dan Postpartum

Tanggal Publikasi: 11 Jun 2019 15:09 | 78 View

Selama kehamilan ibu akan mengalami perubahan anatomi fisiologis pada sistem organ tubuhnya. Pengenalan perubahan anatomi fisiologis tubuh selama kehamilan dapat mengadaptasikan ibu terhadap perubahan tersebut. Perubahan anatomi dan adaptasi fisiologissistem…

Selengkapnya

Penggunaan Pesarium pada Stres Inkontinensia Urin

Tanggal Publikasi: 06 May 2019 17:40 | 78 View

Penggunaan pessarium seharusnya dipertimbangkan untuk semua wanita yang menderita SUI, khususnya bila diputuskan penanganan secara konservatif.

Selengkapnya

Etiologi dan Faktor Risiko Stres Inkontinensia Urin

Tanggal Publikasi: 30 Sep 2018 08:08 | 1162 View

Inkontinensia urin didefinisikan oleh International Continence Society Standardization Committee sebagai suatu kondisi keluarnya urin yang tidak disadari dan merupakan masalah sosial atau masalah higienitas.

Selengkapnya

Deteksi dan Penanganan Bakterial Vaginosis

Tanggal Publikasi: 30 Sep 2018 08:07 | 463 View

Rekurensi Satu bulan setelah terapi, dapat terja di kekambuhan sebanyak 20‐40%. Kekambuhan rekuren terjadi karena persisten BV dan kegagalan flora untuk rekolonisasi. Hingga kini, tidak ada data yang mendukung terapi…

Selengkapnya

Trend Terbaru Manajemen Mioma Uteri pada Kehamilan

Tanggal Publikasi: 30 Aug 2018 14:35 | 501 View

Sebagian besar wanita dengan mioma uteri akan memiliki kehamilan yang normal. Data dari literatur mengatakan bahwa mioma uteri mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi memiliki masalah kesuburan dan komplikasi pada…

Selengkapnya