Indonesia Menghadapi Beban Ganda Malnutrisi

Tanggal : 28 Aug 2017 16:36 Wib


Permasalahan gizi di Indonesia seakan tidak ada habisnya. Indonesia masih memiliki beban untuk mengentaskan stunting dan wasting yang masih tinggi. Di saat yang sama, Indonesia memiliki masalah baru, yakni angka prevalensi obesitas yang juga terus meningkat. Hal ini membuat Indonesia memiliki masalah undernutrition dan overnutritiondalam waktu bersamaan atau yang disebut dengan double burden of malnutrition atau beban ganda malnutrisi. Beban ganda malnutrisi ini dapat terjadi di tingkat individu, rumah tangga, dan populasi di sepanjang daur kehidupan manusia.


Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi balita stunting di Indonesia mencapai 37,2%, meningkat dari tahun 2010(35,6%) dan tahun 2007 (36,8%). Artinya, ada sekitar 8 juta anak di Indonesia yang mengalami stunting atau 1 dari 3 orang anak memiliki tinggi badan di bawah yang seharusnya. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%). Bahkan, Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara dengan prevalensi stunting tertinggi di dunia. Selain stunting, prevalensi balita wasting di Indonesia juga masih tinggi, yakni 12,1%. Di saat bersamaan, prevalensi balita overweight di Indonesia juga terus meningkat. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi overweight di Indonesia mencapai 11,9%. Indonesia term suk di dalam 17 negara di dunia yang memiliki ketiga masalah gizi tersebut dalam waktu bersamaan. Tingginya prevalensi malnutrisi, baik undernutrition maupun overnutrition, menunjukkan bahwa beban ganda malnutrisi di Indonesia sudah cukup memprihatinkan. Wasting atau kurus merupakan salah satu masalah kurang gizi jangka pendek dimana berat badan tidak sesuai dengan tinggi badannya (BB/TB). Sedangkan stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis atau jangka panjang yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak adekuat sesuai dengan kebutuhannya dalam waktu yang lama. Stunting yang terjadi saat masih berada di dalam kandungan baru akan nampak saat anak berusia dua tahun.

Dampak dari beban ganda malnutrisi ini sangat serius dan manifestasinya dapat dilihat di sepanjang kehidupan seseorang. Kekurangan gizi pada anakanak
dapat mulai terjadi pada tahap sangat awal kehidupan. Saat seorang anak menerima asupan gizi yang kurang baik saat masih dalam kandungan, tubuhnya akan beradaptasi agar dapat bertahan hidup dalam kondisi gizi yang kurang. Akibatnya, apabila nantinya ia hidup dalam lingkungan dengan asupan gizi yang mudah diperoleh, tubuhnya akan sangat rentan terhadap obesitas sehingga mudah terkena penyakit tidak menular, seperti penyakit diabetes melitus dan jantung. Disinilah letak permas alahan beban ganda malnutrisi. Lebih lanjut, stunting sebagai pe nanda kekurangan gizi kronis juga berdampak terhadap perkembangan kognitif. Hal ini dikarenakan pada seseorang yang mengalami stunting, proses-proses lain di dalam tubuh juga terhambat, salah satunya adalah pertumbuhan otak yang berdampak pada kecerdasan. Dalam jangka panjang, berbagai studi menunjukkan bahwa stunting berpotensi mengurangi skor IQ sebesar 5-11 poin dan nilai-nilai sekolahnya juga lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak mengalami stunting. Selain itu, anak yang lahir dengan berat badan kurang, memiliki peluang 2,6 kali lebih kecil untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. Oleh karena itu, permasalahan stunting tidak hanya berhenti pada tubuh yang pendek saja. Berdasarkan data yang dirilis oleh World Bank, produktivitas seseorang yang mengalami stunting saat masih kecil ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak. Hal ini sejalan dengan capaian pendidikan yang lebih rendah. Masalah akan semakin parah apabila pola makan tidak diatur dengan baik saat dewasa yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit tidak menular.

Dampak beban ganda malnutrisi tidak hanya dirasakan oleh individu. Dari segi ekonomi, kerugian akibat stunting dan malnutrisi diperkirakan setara dengan 2-3% PDB Indonesia. Banyaknya kasus penyakit tidak menular di Indonesia berakibat pada meningkatnya pengeluaran pemerintah, khususnya untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penyakit tidak menular, seperti stroke, diabetes melitus, dan gagal ginjal, kini menjadi penyebab 60% kematian di Indonesia dan pembiayaan JKN untuk kasus penyakit tidak menular ini merupakan salah satu yang terbesar.

 

Faktor yang Mempengaruhi Beban Ganda Malnutrisi

Banyak orang tua yang seolah memaklumi anaknya mengalami stunting karena masalah keturunan. Para orang  tua ini seolah menganggap wajar jika orang tuanya pendek maka anaknya juga pendek. Padahal, sebenarnya stunting merupakan masalah gizi yang dapat dicegah sejak dalam kandungan. Oleh karena itu, seorang ibu memegang peran n penting dalam memutus lingkaran setan malnutrisi ini. Ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi, misalny a kekurangan energi kronis (KEK) dan anemia defisiensi besi, berpotensi untuk melahirkan bayi dengan bayi yang kurus dan pendek. Jika hal ini tidak diperbaiki pada 2 tahun pertama kehidupannya, kekurangan ini dapat menja di permanen dan mempengaruhi perkembangan kognitif dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari.

Selain karena faktor individu, permasalahan beban ganda malnutrisi disebabkan oleh berbagai faktor lainnya. Studi yang dilakukan oleh World Bank menyebutkan setidaknya ada empat faktor utama yang mempengaruhi. Pertama, meningkatnya usia harapan hidup yang berkontribusi terhadap perubahan pola penyakit dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Kedua, naiknya kekayaan nasional  yang disertai naiknya ketersediaan makanan membuat konsumsi lemak perkapita naik dua kali lipat. Konsumsi makanan olahan juga terus meningkat, khususnya di wilayah perkotaan. Ketiga, banyak kota tidak ramah bagi pejalan kaki sehingga tidak mendukung aktivitas fisik. Selain itu, tempat-tempat yang menyediakan makanan sehat terbatas. Orang yang bekerja dan sekolah tidak punya banyak pilihan selain makanan siap saji di luar rumah. Terakhir, budaya dan trasisi yang mempengaruhi gizi ibu hamil dan anak-anak, serta norma sosial membuat perempuan menikah saat masih muda. Faktor-faktor ini berkonberkontribusi terhadap naiknya kasus kelahiran dengan berat badan kurang.


Menurunkan prevalensi stunting, wasting, dan obesitas merupakan salah satu goal dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang seharusnya dapat dicapai di tahun 2030. Mengurangi prevalensi malnutrisi ini sangat penting dalam mencapai tujuan tersebut. Program intervensi kesehatan pada ibu hamil dan 2 tahun pertama kehidupan anak mutlak diperlukan. Hal ini dikarena kan 2 tahun pertama merupakan window of opportunity untuk mengatasi stunting dapat diintervensi dari sejak dalam kandungan dan pola asuh yang baik selama 2 tahun pertama. Selain itu, World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa perbaikan gizi sangat diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan juga untuk mengembang kan perekonomian. Oleh karena itu, dalam mengatasai berbagai penyebab malnutrisi diperlukan pendekatan yang holistik dari berbagai sektor. Salah satunya adalah penyediaan air bersih. Sanitasi yang baik sangat diperlukan dalam meningkatkan status gizi seseorang.

Hari Gizi Nasional dan Investasi Gizi di Indonesia

Setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional. Peringatan ini dapat dijadikan momentum untuk mengingat bahwa masih banyaknya permasalahan gizi di Indonesia yang masih harus diselesaikan. Salah satunya adalah masalah beban ganda malnutrisi ini. Sudah saatnya isu gizi menjadi salah
satu prioritas dalam rencana pembangunan, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pemerintah seharusnya dapat menjamin setiap warganya, terutama anak balita, ibu hamil, dan lansia mendapatkan akses gizi yang baik. Negara harus hadir sebagai penjamin terpenuhi -
nya hak pangan hingga di tingkat individu, seperti yang diamanah kan UU No 18/2012 tentang Pangan. Hal tersebut dapat dilakukan lewat bera gam aksi,


seperti revitalisasi posyandu, bantuan pangan bagi balita dan ibu hamil, program pemberian makanan tambahan anak sekolah, subsidi dan stabilisasi harg a
pangan, dan diversivikasi pangan lokal. Investasi di bidang gizi sifatnya jangka panjang. Selama ini, gizi memang hanya dianggap sebagian kecil dari berbagai urusan kesehatan sehingga kita sering berpikir sempit dan jangka pendek. Kita kurang sekali menghargai masa depan. Oleh karena itu, yang diperlukan tidak hanya komitmen pendanaan dari birokrat dan politisi, tapi juga jaminan keberlanjutan aneka program pembangunan gizi. Selain itu, gizi perlu menjadi indikator keberhasilan pembangunan yang tidak terlepas dari program pengentasan kemiskinan. Dengan berbagai langkah itu, kita dapat


mencegah lahirnya generasi yang malnutrisi.  (NF)



Jurnal Medika CME

TB Paru

05 Oct 2017 - 14 Oct 2017 2 SKP

Dari Redaksi

Waspadai Virus Zika