YUK, CUCI TANGAN DENGAN SABUN

Tanggal : 02 Sep 2019 09:43 Wib


Data UNICEF (2014), menjelaskan bahwa sekitar 75 persen masyarakat Indonesia tidak mencuci tangan sebelum atau sesudah melakukan sesuatu, mereka beranggapan bahwa tangannya sudah bersih. Padahal perlu diketahui dari data UNICEF (2014), bahwa masyarakat yang selalu mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi risiko terjadinya Diare (40%) dan ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) dan Pneumonia sekitar 20 persen. Mencuci tangan dengan sabun merupakan tindakan sanitasi dalam menjaga kesehatan tangan dan jari dengan menggunakan air mengalir dan sabun yang hanya memerlukan waktu sekitar 10‐20 detik. Hal tersebut sangatlah berharga dibandingkan akibat yang ditimbulkan dari tidak mencuci tangan menggunakan sabun. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Kementerian Kesehatan (2018), menjelaskan bahwa prevalensi kejadian Diare berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (Nakes) dan gejala naik menjadi 8% dibandingkan data Riskesdas 2013 di angka 7 persen. Selain itu juga terdapat data prevalensi Diare berdasarkan diagnosis Nakes pada tahun 2018 mengalami peningkatan sekitar 2,3 persen dibandingkan pada tahun 2013 sekitar 4,5 persen. Hal lain yang lebih mengejutkan adalah prevalensi kejadian Diare pada Balita (Bayi Lima Tahun) menururt diagnosi s Nakes pada tahun 2018 menembus angka 11 persen hal ini sangat berbanding terbalik dengan data tahun 2013 yang ganya 2,4 persen. Padahal perlu diketahui bahwa kematian Balita sangatlah tinggi untuk kasus yang disebabk an oleh Diare, yaitu sekitar 2,6 juta pertahunnya khusus di negara berkembang. Diare merupakan penyakit disaat tinja atau feses keluar atau buang air besar (BAB) dalam bentuk lembek atau cairan, biasanya terjadi minimal 3 kali dalam 24 jam. Tetapi penyakit ini biasanya berlangsung selama beberapa hari dan dalam kasus tertentu bisa berlangsung hingga berminggu‐minggu.
Diare sendiri memiliki gejala‐gejala seperti; feses lembek dan cair, nyeri dan kram perut, mual dan muntah, nyeri kepala, hilang nafsu makan, dehidrasi dan demam. Pada kasus anak‐anak diare dapat ditandai dengan jarang buang air kecil, menangis tanpa mengeluarkan air mata dan mulut kering. Pada keadaan ini biasanya anak cenderung terlihat ngantuk dan tidak respontif. Tetapi juga ada tanda‐tanda lainnya seperti mata cekung serta kulit perut yang mengkerut. Sedangkan untuk prevalensi ISPA menurut diagnosis Nakes yang dikeluarkan Kemenkes (2018), menjelaskan bahw a terjadi penurunan signifikan dari data Riseksedas 2013 yaitu sekitar 8 persen dari sebelumnya 12,5 persen. Untuk data prevalensi ISPA berdasarkan diagnosis Nakes dan gejala juga mengalami penurunan dari 25 persen (2013) menjadi 9,3 persen (2018). Selain ISPA juga terdapat kasus karena kurangnya kebersihan tangan yaitu Pneumonia. Untuk kasus Pneumonia prevalensi menurut diagnosis Nakes mengalami peningkatan dari 1,6 persen (2013) menjadi 2 persen (2018) (Gambar 6). Sedangkan prevalensi Pnemonia menurut diagnosis Nakes dan gejala terjadi penurunan 0,5 persen dari 4,5 persen (2013) menjadi 4 persen (2018). ISPA merupakan virus atau bakteri yang sangat mudah sekali menular. Penularannya dapat melalui kontak fisik dan percikan air liur dari penderita. Selain itu penularan yang lain juga seperti terkontaminasi barang yang bersentuhan dengan penderita dan berjab at tangan. Untuk kasus anak‐anak ISPA sering sekali terjadi, hal ini di akibatkan kekebalan tubuh yang rendah sehingga sangat rentan terhadap penyakit infeksi. Selain itu penyebaran ISPA sangatlah cepat di usia anak‐anak, hal itu diakibatkan karena banyaknya anak‐anak bermain dan melakukan kontak dengan anak‐anak yang lainnya. Diare dan ISPA merupakan dua jenis penyakit yang sering terjadi karena rendah nya kesadaran kita sebagai orang tua akan bahaya dari tidak mencuci tangan. Untuk itu perlu adanya Pendidikan bagaimana cara menuci tangan yang baik dan benar. Berikut ini terdapat 7 langkah mencuci tangan yang dikeluarkan oleh WHO
 1. Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan memakai air yang mengalir, ambil sabun kemu dian usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut
2. Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian
3. Jangan lupa jari‐jari tangan, gosok sela‐sela jari hingga bersih
4. Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan
5. Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian
6. Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan
7. Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara memutar, kemudian diakhiri dengan membilas seluruh bagian tangan deng an air bersih yang mengalir lalu ke ringkan memakai handuk atau tisu.
Penggunaan sabun khusus cuci tanga n baik berbentuk batang maupun cair sangat disarankan untuk kebersihan tangan yang maksimal. Pentingnya mencuci tangan secara baik dan benar memakai sabun adalah agar kebersihan terjaga secara keseluruhan serta mencegah kuman dan bakteri berpindah dari tangan ke tubuh anda. Dari Kasus‐kasus diatas banyak belajar tentang akibat yang ditimbulkan dari tidak mencuci tangan hingga bagaimana cara yang baik dalam tahapan‐tahapan mencuci tangan. Dengan adanya kasus diatas menjadi pembelajaran untuk selalu mencuci tangan terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas. 
Tapi kalau sudah terlanjut terkena Diare dan ISPA, lalu bagaimana cara penangananya jika memang sudah terjadi ? ada beberapa cara yang dapat dilakukan sedini mungkin dalam mengatasi Diare. Yaitu dengan minum banyak cairan karena dengan minum banyak cairan dapat mengurangi terjadinya dehidrasi yang biasanya diakibatkan oleh diare. Lalu lebih selektif dalam memilih makanan, kurangi makanan pedas, serta buah‐buahan yang mengandung gas. Terakhir konsumsi Probiotik yang dapat meningkatkan jumlah bakteri sehat yang ada untuk melawan kuman dalam saluran pencernaan. Sedangkan untuk penanganan kasus ISPA biasanya dengan penggunaan obat anti inflamasi (pengurangan demam dan nyeri tubuh), antihistamin (pengurangan hidung berair dan tersumbat), obat batuk dan obat steroid (mengurangi peradangan dan pembengkakan pada saluran pernapasan), selain itu juga bisa dengan memperbanyak konsumsi air mineral sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu bisa juga dengan
Teknik penguapan dan memposisikan kepala lebih tinggi dari badan untuk melancarkan jalan pernapasan. (D.W)

Post Terkait

Permasalahan Dalam Mendapatkan Keturunan

Tanggal Publikasi: 10 Jul 2020 17:48 | 1915 View

Bagi sebagian pasangan, memiliki anak adalah perkara mudah. Sedang bagi sebagian lainnya, memiliki anak terasa seperti perjuangan panjang. Hal ini umumnya disebabkan oleh beberapa kesalahan yang membuat orang tua susah…

Selengkapnya

Hepatitis A, Seberapa Bahaya?

Tanggal Publikasi: 14 Aug 2019 13:39 | 4525 View

Belum lama ini kita mendengar adanya status KLB (Kejadian Luar Biasa) hepatitis A di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Pemerintahan Kabupaten Pacitan menetapkan status KLB pada wabah hepatitis A setelah ratusan…

Selengkapnya

ALZHEIMER DAN KESEHATAN OTAK

Tanggal Publikasi: 12 Jul 2019 15:00 | 2719 View

Alzheimer? mungkin sebagian masyarakat tidak mengenal penyakit apa itu, tapi bagaimana jika Demensia atau kepikunan? mungkin dengan kata Demensia atau kepikunan masyarakat lebih paham. Lalu apa sih penyakit Alzheimer itu?.…

Selengkapnya

BERSAHABAT DENGAN LUPUS “SI PENIRU ULUNG”

Tanggal Publikasi: 12 Jun 2019 02:12 | 2921 View

Lupus atau LES (Lupus Erite ‐ matosus Sistemik) merupa kan salah satu jenis penyakit auto imun yang bersifat kronis dan hingga saat ini penyebabnya belum diketahui. Penyakit autoimun adalah suatu…

Selengkapnya

Mari Mengenal Autisme

Tanggal Publikasi: 07 May 2019 03:53 | 1441 View

Autisme semakin akrab dengan masyarakat modern. Sayangnya, sebagian besar penduduk Indonesia mungkin masih asing dengan autisme, apa itu autis, penanganan autis seperti apa, autis menular atau tidak dan banyak pertanyaan‐pertanyaan…

Selengkapnya